AdvertisementAdvertisement

Ketika Kefaqihan Hilang dari Masyarakat dan Sebaran Berita

Content Partner

Ilustrasi
Ilustrasi

BILA kefaqihan hilang dari masyarakat, maka ucapan apa pun rawan disalahpahami, dan segala tindakan juga bisa diplesetkan semaunya tanpa kaidah interpretasi yang jelas. Mereka akan kehilangan ketrampilan mental untuk menyimpulkan secara sahih, dan berulang-kali terjerumus dalam ironi.

Inilah bagian utama dari budaya dan peradaban instan yang bahkan mendangkalkan logika tokoh-tokoh yang mestinya bijak dan berpikiran jauh ke depan. Ucapannya impulsif, tidak dipikirkan masak-masak. Tindakannya reaktif, tanpa pijakan kukuh dan tidak memiliki alur nalar yang runtut.

Di saat bersamaan, semua persoalan seperti menuntut disikapi segera, tapi sekaligus seringkali segera dilupakan pula karena telah disusul oleh kehebohan persoalan lain. Hiruk-pikuk terjadi, namun tidak satu pun persoalan yang berhasil diatasi.

Kita menjadi semakin terbiasa untuk bersorak seperti suporter sepakbola. Apa pun yang kita lihat serta-merta kita komentari. Segala yang kita dengar secepat kilat kita ceritakan ke mana-mana. Untuk apa? Hanya untuk meramaikan forum-forum serta mengisi hari-hari yang semakin kehilangan visi dan misi.

Apakah kita memikirkannya? Sepertinya tidak, karena bahkan sesaat setelah itu kita sudah melupakannya dan beralih ke tema obrolan lain.

“Zaman fitnah” adalah ketika hatimu sangat mudah dibimbangkan, hanya dengan sedikit saja berita yang datang. Engkau tidak dapat memegangi sesuatu keyakinan dengan teguh, kecuali jika engkau menutup mata dan telingamu dari mengetahui kebalikannya.

Sekali engkau tahu kebalikannya, kadar keyakinanmu pasti turun kalau tidak lenyap samasekali. Semua terlihat sama-sama benar, sangat sukar dibedakan. Entah hal itu karena kebodohanmu atau kepintaran pembawa beritanya.

Saat fitnah itu mencapai puncak puting-beliungnya, logika orang paling bijak pun tidak lagi berguna. Semua terseret pusaran badai, dan masing-masing orang hanya bisa bereaksi menurut apa yang menjadi jatidirinya yang asli, tanpa bisa direkayasa atau ditutup-tutupi.

Itulah zaman diayaknya umat, untuk dipilih dan dipilah, tanpa mereka sanggup melawan arusnya.

Kamu tidak akan selamat dari dunia yang seperti ini. Berani bicara, kamu akan diadili. Diam saja, kamu pun diadili.

Hanya kepada-Mu, ya Allah, kuserahkan isi hati. Engkau lebih tahu, termasuk golongan manakah aku ini. Aku tahu, bahkan tulisan ini pun bisa disalahpahami, lalu aku dinisbatkan ke situ dan ke sini, tanpa aku mengerti secuil pun maksudnya.

Kapankah “zaman fitnah” itu? Kata banyak ulama, sekaranglah waktunya. Berdoalah! Waspadalah! Semoga kita diselamatkan. Amin. (Alimin Mukhtar)

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Rekonstruksi Peradaban Islam Pasca Ramadhan: Menjemput Kejayaan dari Syawal

RAMADHAN, bulan penuh berkah dan ampunan, telah sepekan lebih meninggalkan jejak takwa dalam sanubari kita. Takwa bagaikan benih yang...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img