AdvertisementAdvertisement

[Khutbah Jum’at] Berburu Kemuliaan 10 Hari Terakhir Ramadhan dengan Enam Agenda Utama

Content Partner

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

أما بعد : عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah

Marilah kita mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang penuh kesyukuran. Setiap napas yang kita hembuskan, setiap langkah yang kita ambil, adalah anugerah-Nya yang tiada terhingga.

Dengan penuh rasa syukur, mari kita renungkan nikmat-nikmat-Nya yang melimpah penuh berkah yang tak terhingga di masa yang istimewa ini.

Tak terdapat ungkapan yang lebih mulia dan berarti selain dari shalawat teriring salam kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan penuh penghormatan dan cinta yang tulus, mari kita kirimkan shalawat kepada baginda, sosok yang membawa cahaya petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Semoga shalawat kita menjadi jalan menuju ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjadikan langkah kita semakin diberkahi di kesempatan menjelang 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini.

Dengan kesyukuran yang mendalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan shalawat yang penuh cinta kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, marilah kita menjalani hari-hari berharga ini dengan penuh keberkahan dan kebaikan. Semoga amalan kita diterima-Nya, dan kita menjadi hamba yang lebih baik di mata-Nya.

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Tidak terasa Ramadhan akan memasuki 10 hari terakhir. Padahal baru kemarin rasanya kita menunggu-nunggu kedatangannya. Tiba-tiba, sekarang sudah menjelang 10 akhir Ramadhan.

Begitu cepat waktu berlalu. Ibarat kita semua adalah penumpang kapal. Ada yang sibuk duduk terlena di dalamnya. Tapi kapal terus berjalan menuju pulau dermaga (kampung akhirat).

Memang, di antara tanda dekatnya kiamat adalah cepatnya pergerakan waktu. Hingga kadang berhari-hari lamanya waktu sudah berlalu, tidak ada satu karya pun yang sudah kita persembahkan buat Islam.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

(لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَقَارَبَ الزَّمَانُ ، فَتَكُونُ السَّنَةُ كَالشَّهْرِ ، وَالشَّهْرُ كَالْجُمُعَةِ ، وَتَكُونُ الْجُمُعَةُ كَالْيَوْمِ ، وَيَكُونُ الْيَوْمُ كَالسَّاعَةِ ، وَتَكُونُ السَّاعَةُ كَالضَّرَمَةِ بِالنَّارِ)).

“Hari Kiamat tidak akan datang hingga zaman menjadi berdekatan. Satu tahun seperti satu bulan. Satu bulan seperti satu Jum’at. Satu Jum’at seperti satu hari. Satu hari seperti satu jam. Dan satu jam seperti cepatnya kertas terbakar” (Sunan At-Tirmidzi)

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Menjelang 10 akhir Ramadhan tentu kita ingin menjalaninya dengan serangkaian amalan di dalamnya. Kita menginginkan momen agung ini bisa dilalui dengan semaksimal mungkin.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri diriwayatkan menjadikan 10 hari terakhir ini untuk lebih maksimal dalam beribadah. Dalam hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha disebutkan:

كَانَ رَسُوْلُ اللهً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ

“Pada malam sepuluh terakhir, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (lebih) bersungguh-sungguh (untuk beribadah), melebihi kesungguhan pada malam yang lain” (HR Muslim)

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Ada beberapa agenda yang dapat kita programkan menjelang sepuluh akhir Ramadhan ini, agar kemuliaan bulan Ramadhan dapat kita raih. Diantaranya:

Pertama, lebih giat Qiyamullail

Salah satu amal ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan adalah lebih giat lagi dalam beribadah di malam hari.

Artinya, pada setiap malam di bulan suci ini kita dianjurkan menghidupkan malam dengan beribadah. Tapi, begitu masuk sepuluh hari terakhir, kita dianjurkan untuk lebih bersungguh-sungguh.

Dalam satu hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah disampaikan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ‘Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan), Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa mengkombinasikan antara shalat, puasa, dan tidurnya. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya)” (HR Ahmad)

Ungkapan ‘mengencangkan sarung’ pada hadits ini adalah bahasa kiasan yang menunjukkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengurangi tidur (menjauhi istri) pada malam 10 hari terakhir Ramadhan demi untuk lebih banyak beribadah.

Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakumullah

Agenda Kedua, mengajak keluarga dan orang lain Qiyamullail

Tidak saja dengan menggiatkan diri beribadah, kita juga dianjurkan mengajak orang lain untuk bersama menghidupkan malam 10 hari terakhir Ramadhan.

Dalam konteks keluarga, suami bisa membangunkan istrinya. Dalam konteks yang lebih luas, seorang ustadz atau kiai bisa mengkoordinir jamaahnya untuk bersama hidupkan malam mulia ini.

Hal ini sebagaimana hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah berikut:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Jika telah datang 10 hari yang terakhir (di bulan Ramadhan), Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malamnya (dengan beribadah), dan membangunkan keluarganya (untuk beribadah)” (HR Bukhari dan Muslim)

Agenda Ketiga, melakukan I’tikaf

Itikaf merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan pada momen ini. Caranya adalah berdiam diri di dalam masjid dan menyibukkan diri dengan beribadah seperti shalat sunnah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan sebagainya.

Hal ini sesuai dengan hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah berikut, bahwa:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata, ‘Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan,

كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشرَةَ أيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِيْ قُبِضَ فِيْهِ اِعْتَكَفَ عِشْرِيْنَ يَوْمًا

“Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu beri’tikaf pada sepuluh hari tetrakhir bulan Ramadhan. Kecuali bertepatan pada tahun kewafatannya, Nabi beri’tikaf selama dua puluh hari” (HR Al-Bukhari)

Ma’aasyiral Muslimiin jamaah shalat Jumat rahimakumullaah

Agenda utama Keempat adalah membersihkan badan

Salah satu anjuran ketika kita hendak beribadah adalah membersihkan tubuh dan memakai wewangian. Demikian juga saat malam sepuluh terakhir Ramadhan, kita dianjurkan untuk melakukan ini.

Tentu dengan badan yang segar dan wangi akan lebih membuat kita lebih semangat dan khusyuk beribadah. Dalam hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu anha disebutkan,

كَانَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ قَامَ وَنَامَ فَإِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ الْمِئْزَرَ وَاجْتَنَبَ النِّسَاءَ وَاغْتَسَلَ بَيْنَ الْأَذَانَيْنِ وَجَعَلَ الْعِشَاءَ سَحُوْرًا

“Ketika memasuki bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun malam (untuk beribadah) dan juga menggunakannya untuk tidur. Begitu masuk sepuluh hari terakhir, beliau kencangkan sarung, menjauhi istri-istrinya (untuk beribadah), mandi antara dua adzan (dua waktu shalat magrib dan isya)” (RH Ibnu Abi ‘Ashim)

Mandi dyang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagaimana disebutkan pada hadits ini menunjukkan bahwa kita dianjurkan dalam kondisi fresh, wangi, dan semangat untuk menghidupkan 10 malam terakhir Ramadhan sehingga bisa lebih maksimal hidupkan momen mulia ini.

Berikutnya, agenda Kelima, adalah bersungguh-sungguh untuk meraih Lailatul Qadar

Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan merupakan momen paling potensial terjadinya peristiwa Lailatul Qadar. Beribadah pada malam Lailatul Qadar mempunyai nilai yang sangat tinggi di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala, lebih tinggi daripada ibadah selama seribu bulan.

Oleh sebab itu, pada kesempatan ini kita dianjurkan untuk bersungguh-sungguh meraih malam yang lebih utama dibanding seribu bulan ini.

Caranya tentu dengan memperbanyak ibadah pada malam harinya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, agar kita bersungguh sungguh mengejar dan mencari Lailatul Qadar:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Kaum muslimin jama’ah Jumat rahimakullah

Agenda utama Keenam adalah berdoa memohon ampunan

Saat menjumpai malam Lailatul Qadar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kita untuk memohon doa ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun redaksi doa yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku”

Hal ini sebagaimana satu hadits riwayat Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu anha berikut,

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَدْعُو قَالَ:‏ تَقُولِينَ اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Dari ‘Aisyah ra, sesungguhnya dia berkata, ‘(Aku pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), ‘Wahai Rasulullah, doa apa yang bisa aku baca ketika mendapati Lailatul Qadar?’ Nabi menjawab, ‘Bacalah Allāhumma innaka ‘afuwwun tuḥibbul ‘afwa fa’fu ’annī (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku)’” (HR Ibnu Majah)

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau yang telah menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Dan aku atas tanggungan dan janji-Mu selama aku masih mampu. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat yang Kau berikan kepadaku. Aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau” (HR. Bukhari, no. 6306)

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا
اللهم صل و سلم على هذا النبي الكريم و على آله و أصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد

Do’a Penutup

إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَعَلَى خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَطَرِيْقَتِهِمْ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مَجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ ودَمِّرْ أَعْدَآئَنَا وَأَعْدَآءَ الدِّيْنِ وأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ ……. عِبَادَ اللهِ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُو

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Kursus Muballigh Profesional KMH ke-III Komitmen Pelayanan Umat melalui Dakwah Tarbiyah

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) -- Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) kembali menggelar kegiatan Kursus Muballigh Profesional Angkatan ke-III yang mengangkat tema "Mencetak...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img