AdvertisementAdvertisement

Kuliah Peradaban, Ust Tasyrif Amin Bahas Iqra’ sebagai Basis Nilai Kebangkitan

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Murabbi Pusat (DMP) Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin, M.Pd, menjadi narasumber dalam acara Kuliah Peradaban Syiar Muharram yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah, Jln Cipinang Cempedak I, No. 14, Otista, Polonia, Jatinegara, DKI Jakarta, Selasa, 11 Muharram 1444 (9/8/2022).

Membawakan tema “Iqra’ sebagai Basis Nilai Kebangkitan Peradaban”, Tasyrif mengantar materinya dengan memaparkan tentang potensi eksternal yang dimiliki oleh manusia dalam merespon hal fenomenal yaitu indera dan akal.

Menurut Tasyrif, dua potensi inilah yang digunakan manusia untuk “bertarung” mulai dari mendapatkan ilmu, membangun kesadaran, menemukan perspektif, kemudian memiliki worldview dan selanjutnya menjadi ideolog yang membangun peradaban. “Dan itu semua dimulai dari iqra,'” katanya.

Dia menjelaskan, dalam sejarah peradaban dunia termasuk dimasa sebelum Islam, mereka yang memiliki ilmu selalu menjadi terdepan dalam bangunan peradaban. “Belum pernah ada sejarahnya kumpulan orang orang bodoh bisa melahirkan peradaban besar,” imbuhnya.

Dalam peradaban Yunani, misalnya, terang Tasyrif, diketahui sejumlah nama beken seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles, dimana mereka dikenal sebagai pemikir yang melakukan pembacaan tingkat tinggi yang bisa menemukan rumusan rumusan tentang tata nilai kemanusiaan.

“Di Indonesia kita mengenal Mahabrata, atau La Galigo, sebagai karya besar yang lahir dari proses literasi yang sangat dalam,” ujar dia.

Sehinga, lanjutnya, kalau mau bertarung ke depan, tidak ada proses yang bisa melahirkan peradaban kecuali dimulai dari iqra’.

Tapi kemudian, Tasyrif mengggaris bahwa, peradaban peradaban besar yang dibangun manusia di permukaan bumi sebelum Islam hadir hampir semuanya mengenaskan yang “menghancurkan nila nilai kemanusiaan”.

Ia membaca dan mengkonstruk hasil pikirannya, membangun kesadaran, menemukan perspektif, kemudian memiliki worldviews, namun peradaban yang dibangun adalah peradaban yang menghancurkan nilai nilai kemanusiaan.

Menukil pandangan cendekiawan dan filsuf muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas, Tasyrif menjelaskan bahwa peradaban Barat hari ini memang terdepan dalam persoalan hal hal yang bersifat material.

Namun, terangnya, peradaban yang dibangun oleh Barat dalam perspektif kemanusiaan, diumpamakan dengan mengangkat batu dari kali namun belum sampai ke permukaan batunya berguguran yang menimpa manusia yang ada di bawahnya.

“Hal itu baru proses, belum sampai pada tata nilai. Jadi sebenarnya iqra’ itu bukan basis nilai peradaban, melainkan dia adalah proses awal menuju hadirnya nilai,” ungkapnya.

Tasyrif menyebutkan, pemikir dan filosof besar selalu mengedepankan tiga basis epistemologi, yaitu Alam, Manusia, dan Tuhan. Sayangnya, mereka mempersepsi dan menangkap makna Alam, Manusia, dan Tuhan itu hanya sebatas pada kapasitas indera dan akal belaka. “Padahal akal dan indera terbatas,” cetusnya.

Dia lantas menamsilkan hal itu dengan buah jeruk. Kalau misalnya ada pertanyaan “dari mana buah jeruk”, maka (jawabannya) ia dari biji jeruk yang ditanam. Jika bijinya ditanam, maka sekira dua tahun ia berbuah. “Ini namanya proses empiris. Begitulah ilmu yang ditangkap oleh panca indera,” katanya.

Tetapi, lanjutnya, ketika kita bertanya “kenapa biji jeruk ditanam berbuah jeruk”, hal ini tidak bisa dijawab oleh indera. Untuk menjawabnya harus ada instrumen lain yang disebut dengan akal yang meniliti bahwa ternyata di dalam biji itu ada unsur yang disebut dengan gen.

“Tapi kemudian kalau bertanya lagi “dari mana gen itu”, para filosof itu akan menjawab bahwa itu dari Yang Maha Tahu yang disebut Tuhan. Tapi, Tuhan di sini masih persepsi akal, bukan Tuhan dalam perspektif Wahyu,” ulas Tasyrif.

Menurut Tasyrif, para filosof yang berhenti pada pertanyaan tersebut dia sesat. Barulah ia bisa menemukan jawaban ketika dikembalikan kepada sumbernya bahwa yang bisa menjelaskan tentang darimana hukum gen itu adalah sumbernya.

“Makanya, pembacaan yang benar yang diluruskan oleh agama itu turun pada ayat pertama Al Quran yang menjawab persepsi yang benar tentang Alam, Manusia, dan Tuhan,” katanya.

Dia menguraikan, begitu Allah SWT berfirman, “Iqra!”, maka disitu didudukkan Alam (allazi khalaq), Manusia (halaqal insan), dan Tuhan (bismirabbik) yang menjadi basis nilai. “Membaca adalah proses dan bismirabbik adalah basis nilai. Sesuatu bernilai ketika disandarkan pada bismirabbik,” tukasnya.

Dia menekankan pentingnya membaca. Meski demikian membaca barulah gerbang untuk memulai kerja-kerja peradaban. Membaca belum masuk pada esensi peradaban. Nanti ketika telah bertemu dengan Bismirabbik barulah membaca itu memiliki basis nilai yang dapat mendorong lahirnya peradaban Islam.

Lebih jauh Tasyrif menekankan pentingnya budaya ilmu sebagai tradisi literasi yang harus diterus dirawat dan dikembangkan sebagaimana inspirasi Al Qur’an pada bunyi ayat ke-4 surah Al ‘Alaq sebagai surah yang kali pertama turun kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wasallam: Allazi ‘allama bil Qolam.

“Harus ada literasi secara berkesinambungan. Ajaran Islam ini dapat sampai kepada kita karena ada tradisi literasi yang terjaga yang menjadi rujukan kita dalam menemukan kebenaran,” katanya.

Dia menerangkan, makin banyak mengetahui alam, kian banyak mengetahui Wahyu dari Allah SWT melalui para ulama, maka Insya Allah kita semakin menemukan kebenaran itu.

Tasyrif juga menguraikan ayat ke-5 dari surah Al ‘Alaq. ‘Allamal insana ma lam ya’lam, bahwa Allah mengajarkan kepada orang orang khusus apa yang tidak diketahuinya. Pada proses ini lebih berat sebab membutuhkan tazkiah yang luar biasa sebagaimana Allah SWT sinyalir dalam firman-Nya dalam Al Qur’an surah Al-Waqi’ah ayat 79: Lā yamassuhū illal-muṭahharụn, bahwa Al Qur’an (wahyu) berisi tuntunan-Nya dan bacaan yang sangat mulia, suci, dan diterima oleh hati yang suci.

“Al Quran yang suci tidak akan masuk ke dalam hati yang tidak bersih dan suci,” katanya seraya menyebutkan bahwa dalam ilmu yang lain selain Wahyu, cukup 2 alat untuk meraihnya yaitu instrumen indera dan akal. Sementara Wahyu, kata dia, harus dengan memfungsikan instrumen qolbu selain indera dan akal.

“Jadi mata batin itu memang ada, yang disebut dengan ilham atau intuisi. Inilah yang merupakan bagian bagian instrumen dalam epistemologi Islam yang tidak dimiliki epistemologi yang lain,” ujarnya.

Acara Kuliah Peradaban sebagai bagian dari momentum Syiar Muharram 1444 yang digelar secara hybrid dari Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah dan disiarkan secara live oleh kanal YouTube Hidayatullah ID ini juga dihadiri narasumber Ust Drs Ahmad Yani yang merupakan tokoh dai penulis pendiri Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Dakwah (LPPD) Khairu Ummah.

Dimoderatori pemimpin redaksi Hidayatullah.or.id Mahladi Murni, acara ini juga turut dihadiri oleh sejumlah pengurus DPP Hidayatullah, unsur badan dan amal usaha, organisasi pendukung (orpen), dan digelar atas kerjasama DPP Hidayatullah, Korps Muballigh Hidayatullah (KMH) dan Pemuda Hidayatullah yang didukung BMH.*/Ainuddin

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img