AdvertisementAdvertisement

Leaders are Readers: Membuka Gerbang Kepemimpinan Visioner Melalui Kebiasaan Membaca

Content Partner

ADA sebuah pepatah asing berbunyi “leaders are readers”. Secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai pemimpin itu pembaca.

Namun, realitasnya, hal itu bukan sekadar slogan usang, atau kata-kata yang indah, yang hanya untuk sekedar dihafal, melainkan sebuah pernyataan yang mencerminkan menjadi laku kepemimpinan yang efektif dan visioner.

Bahkan, ia menunjukkan bagaimana kualitas seseorang itu -apalagi seorang pemimpin-, sangat dipengaruhi dengan apa yang dibacanya.

Dan, ternyata kenyataan di atas tersebut, juga relevan dengan pepatah “You are, what you read” (Anda adalah apa yang Anda baca).

Sehingga melihat seseorang, dapat dilihat atau dengan kata lain tercermin dari apa bacaannya. Dan pada titik ini, biasanya akan berbanding lurus dengan kualitas seseorang.

Sebagaimana kita mafhum, membaca bagaikan gerbang yang membuka akses terhadap pengetahuan, wawasan, dan kebijaksanaan yang selanjutnya menjadi kompas dan peta bagi pemimpin dalam mengarungi lautan kepemimpinan yang penuh tantangan. Maka membaca menjadi hal yang esensial bagi seorang pemimpin.

Mengapa Membaca Penting bagi Pemimpin?

Kemampuan membaca, baik yang tersurat maupun tersirat, yang tertulis maupun tak tertulis, yang tekstual mapun yang kontekstual, merupakan landasan fundamental bagi kepemimpinan yang efektif.

Sejarah para pemimpin besar dunia, adalah sejarah para pemimpin yang pembaca. Bahkan, para pemimpin besar tersebut, dikelilingi dengan perpustakaan dengan ribuan koleksi buku, dan pada saat yang sama biasanya juga membersamainya buku-buku bacaan favorit, yang dikemudian hari mempengaruhi keberhasilannya dalam memimpin.

Dengan kata lain, pemimpin yang berhasil, dengan konotasi positif, adalah para pembaca. Sedangkan pemimpin yang “malas” membaca, akan menyebabkan kerusakan tatanan dalam organisasi bahkan negara yang dipimpinnya, karena bisa jadi “ngawur” dan semaunya sendiri.

Bisa jadi mereka akan “berhasil”, akan tetapi dapat dipastikan akan menggunakan cara-cara yang otoriter/ diktator, karena merasa dirinya yang paling benar, bersebab miskinnya literasi. Setidaknya sejarah telah mengajarkan seperti itu.

Dengan melihat realias di atas, ada beberapa alasan yang dapat disampaikan, mengapa membaca begitu penting bagi seorang pemimpin.

Pertama, Memperluas Cakrawala Pengetahuan dan Wawasan

Membaca bagaikan jendela yang membuka gerbang menuju berbagai ide, perspektif, dan pengalaman baru. Pemimpin yang gemar membaca akan menjelajahi lautan pengetahuan, memperkaya wawasan mereka tentang berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial budaya, sejarah, dan teknologi.

Dia akan dapat membandingkan, memilah sekaligus memilih sebuah kebijakan yang relevan dan sebangun dengan kepeimpinannya. Pengetahuan ini menjadi bekal penting dalam pengambilan keputusan yang tepat dan strategis, serta membantu pemimpin memahami kompleksitas dunia yang terus berubah.

Kedua, Meningkatkan Ketajaman Berpikir Kritis

Membaca bukan hanya tentang menyerap informasi, tetapi juga tentang menganalisisnya secara kritis. Pemimpin yang terbiasa membaca dilatih untuk mengevaluasi argumen, menguji asumsi, dan membangun pemikiran logis.

Kemampuan ini sangat penting untuk menyelesaikan masalah yang kompleks, mengatasi situasi yang tidak terduga, dan membuat keputusan yang terukur dan berlandaskan fakta.

Critical thinking seperti ini menjadi seorang pemimpin, saat mengambil keputusan tidak hanya berdasarkan instinktif semata, akan tetapi merupakan sintesa dari berbagai parameter, dan salah satunya berasal dari bacaannya.

Ketiga, Memperkuat Kemampuan Berkomunikasi dan Berpengaruh

Membaca karya-karya berkualitas tinggi mengasah kemampuan pemimpin dalam mengekspresikan ide dan gagasan dengan jelas, terstruktur, dan logis.

Pemimpin yang gemar membaca akan memiliki kosakata yang kaya, pilihan diksi yang tepat, gaya bahasa yang menarik, dan kemampuan berkomunikasi yang berkelas, baik secara lisan maupun tertulis.

Kemampuan ini menjadi kunci dalam menginspirasi tim, membangun consensus dan komitmen, serta menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Pada saat bersamaan, pengaruh sebuah kepemimpinan akan dirasakan disemua level kepemimpinan, hingga terendah.

Keempat, Membangun Empati dan Kemampuan Berinteraksi

Membaca sirah, tarikh, cerita fiksi dan kisah inspiratif membantu pemimpin memahami berbagai sudut pandang dan pengalaman manusia. Mereka belajar untuk melihat dunia dari berbagai lensa, dan kamera merasakan emosi yang berbeda, dan memahami keragaman budaya dan pemikiran.

Hal tersebut meningkatkan empati dan kemampuan pemimpin untuk menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, membangun tim yang solid, dan memimpin dengan penuh inspirasi dan penghargaan terhadap perbedaan.

Pada titik ini, seorang pemimpin akan menjadi magnet (perekat), bagi seluruh elemen yang dipimpinnya.

Kelima, Meningkatkan Motivasi dan Semangat Kepemimpinan

Membaca kisah-kisah sukses para pemimpin terdahulu dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi pemimpin masa kini.

Kisah-kisah tentang kepeimpinan Rasulullah SAW, Khulafaurasyidin, serta para khalifah serta pemimpin lainnya, dikombinasi dengan bagaimana Napoleon Bonaparte, Alexander Agung, Abraham Lincoln, hingga Nelson Mandela, serta para pahlawan di Indonesia, dapat membangkitkan semangat dan tekad untuk mencapai tujuan yang mulia, memberikan kontribusi positif bagi organisasi dan masyarakat, serta meninggalkan jejak kepemimpinan yang inspiratif.

Pemimpin yang Lebih Visioner

Sekali lagi, membaca bukan hanya tentang menghabiskan halaman demi halaman sebuah buku. Membaca bagi pemimpin adalah tentang menggali pengetahuan, memperluas wawasan, dan mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Karena, sesungguhnya, membaca adalah sebuah perjalanan yang tiada akhir. Semakin banyak Anda membaca, semakin banyak pula pengetahuan dan wawasan yang Anda dapatkan.

Pemimpin yang membaca , secara tidak langsung akan memberikan contoh untuk diikuti oleh anggota timnya. Mereka menunjukkan bahwa pembelajaran adalah suatu proses yang tak pernah berakhir.

Dengan membaca, pemimpin menunjukkan bahwa mereka selalu berusaha untuk meningkatkan diri dan berkontribusi lebih banyak pada kesuksesan bersama.

Dan sejarah telah membuktikan bahwa banyak pemimpin hebat dan besar telah menemukan inspirasi melalui buku-buku dan tulisan. Buku biografi, motivasi, atau karya sastra dapat memberikan energi positif dan semangat kepada pemimpin untuk mengatasi tantangan.

Akhirnya, dalam dunia yang terus berubah, penuh ketidakpastian, dan kompleks, kebiasaan membaca menjadi landasan penting bagi pemimpin yang ingin tetap relevan dan efektif.

“Leaders are readers” bukan hanya sebuah ungkapan, melainkan prinsip yang telah membimbing banyak pemimpin menuju kesuksesan.

Oleh karena itu, mari tingkatkan kebiasaan membaca sebagai pemimpin, ditingkat dan level apapun juga. Karena melalui hal ini, kita dapat memimpin dengan lebih baik, lebih cerdas, visioner, dan lebih komprehensif. Wallahu a’lam.

*) Penulis adalah Peneliti Senior Hidayatullah Institute

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Menjangkiti Anak Muda Usia 15-35 Tahun, Inilah Fakta tentang Penyakit Jantung

SAHABAT sehat, jantung adalah organ vital yang memompa darah ke seluruh tubuh, bisa disebut sebagai pusat kehidupan. Namun, penyakit jantung...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img