AdvertisementAdvertisement

Manifesto Masjid Nabi dalam Perkuat Arus Dakwah Berbasis Pengembangan Masyarakat

Content Partner

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) — Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah bekerjasama dengan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitul Karim Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah menggelar acara Silaturrahim & Halal Bihalal Syawal yang mengangkat tajuk “Manifesto Masjid Nabi: Memperkuat Arus Dakwah Perkotan Berbasis Pengembangan Masyarakat”, Selasa, 14 Syawal 1445 (23/4/2024).

Acara ini mengundang narasumber Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta Ust. H. Muhammad Jazir ASP. Penyajian pembina Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) ini dibersamai oleh Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Hidayatullah Ust. H. Hamim Thohari.

Dalam sambutannya mengantar acara ini, Hamim mengangkat profil Masjid Jogokariyan Yogyakarta sebagai barometer nasional dengan sistem pengelolaan masjid yang kehadirannya telah memberi dampak positif luar biasa tidak saja bagi umat tetapi juga rakyat secara luas.

Pencapaian tersebut dinilai Hamim tidak lepas dari peran penting dari Ust. H. Muhammad Jazir ASP yang konsisten mengawal Masjid Jogokariyan Yogyakarta sehingga dapat menjadi seperti sekarang.

Bagi Hamim, figur Jazir bukan hanya sosok penggerak melainkan juga sebagai figur guru dan pemimpin yang telah mempelopori banyak inisiatif kebaikan di masanya.

“Saya sangat bersyukur, bagi saya, Ustadz Jazir adalah pemimpin saya ketika saya menjalani aktifitas keislaman waktu itu, mulai dari PII sampai beliau mendirikan Angkatan Muda Masjid Dan Musholla (AMM) Kotagede Yogyakarta,” kata Hamim.

Sepert diketahui, melalui AMM Kotagede Yogyakarta, Jazir bersama Kiai As’ad Humam yang menemukan metode Iqra’ terus mengembangkan metode ini dengan mendirikan TK Al Qur’an AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986. Sampai sekarang metode Iqra’ telah menyebar luas bahkan hingga ke manca negara.

Masjid Arus Utama

Masih dalam sambutannya, Hamim menyampaikan bahwa Hidayatullah sebagai organisasi dakwah menjadikan masjid sebagai pusaran utama gerakan. Dia menegaskan, sebelum membangun apapun, masjid yang harus pertama dibangun.

“Bangunan pertama yang kita bangun sebelum mendirikan rumah masing masing adalah masjid. Demikian pula di usia memasuki 50 tahun kedua Hidayatullah, yang kita terus bangun adalah masjid,” terangnya.

Tidak saja infrastrukturnya, tetapi juga bagaimana pembangunan masjid secara hakiki hendaknya setarikan nafas dengan upaya pemakmurannya serta memastikan dampak sosialnya bagi masyarakat.

“Tentu ini dilakukan tidak saja di pinggiran, kita juga harus membangun Islam di kota melalui manifesto masjid, bagaimana membangun masyarakat kota melalui masjid,” kata Hamim.

Ia menyampaikan pentingnya peran masjid sebagai pusat peradaban, pusat kegiatan ibadah, pusat pengembangan ilmu, pusat kebudayaan Islam, pusat pengembangan karakter dan kepemimpinan umat. Demikian pula masjid sebagai pusat pendidikan dan perkaderan untuk melahirkan generasi pemimpin masa depan.

“Kita tak bisa lagi mengharap partai politik, yang bisa kita harapkan adalah generasi masjid. Oleh karena itu, ‘membangun’ masjid harus menjadi pola baru sebagaimana telah ditunjukkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” tandasnya.

Membangun Tauhid Umat

Sementara itu, Ust. H. Muhammad Jazir ASP menggaris bawahi peran dan fungsi masjid sebagai pusat pengemblengan aqidah umat. Dia menegaskan, kekuatan umat akan hadir apabila telah memiliki aqidah atau tauhid yang benar.

“Kekuatan umat Islam berhimpun hanya ketika pemimpin bertauhid dengan benar dan membangun tauhidul ummah,” katanya.

Penanaman nilai nilai Tauhid ini, menurut Jazir, sejatinya telah mendenyuti perjalanan bangsa Indonesia dimana sang Proklamator, Bung Karno, sangat terinspirasi dengan pidato pemikir dan tokoh panislamisme Syeikh Jamaluddin Al Afghani tahun 1932.

Pidato dengan semangat panislamisme yang menyentuh hati Soekarno itu adalah pesan Al Afghani mengenai persatuan dan tauhid. Al Afghani menyampaikan bahwa tidak ada persatuan tanpa keindahan akhlak para pemimpin dan tidak ada akhlak kecuali dengan tauhid.

Pesan Al Afghani itu juga senafas dengan salah satu trilogi dari Raden Mas Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto yang dikenal sebagai pendiri bangsa dan pendiri Sarekat Islam (SI) yang termasyhur: “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat”.

Maka atas semangat tersebut, terang Jazir, lalu tercetuslah salah satu pidato Bung Karno yang menegaskan kepercayaan akan Tuhan yang Satu tiada lain adalah Ketuhanan yang Maha Esa atau Tauhid.

Tauhid ketika ketika menyala dan berkobar kobar dalam dada bangsa Indonesia, maka bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak pernah mati.

Menurut Jazir, hal itu pula yang menyatukan dan membuat pikiran para pendiri bangsa terkonsolidasi. “Pikiran terkonsolidasi para pendiri bangsa untuk membangun sebuah negara yang berdasar Ketuhanan yang Maha Esa,” katanya.

Jazir menilai, problem sebagian besar pemimpin rakyat Indonesia dari kalangan umat Islam saat ini adalah inferiorisme. Belum tampak pemimpin yang betul-betul berani tampil, melakukan konsolidasi pemikiran, sebagaimana dahulu, pada era menuju kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Kala itu, para pemimpin rakyat dari tokoh-tokoh Islam, benar-benar punya superioritas.

Saat itu tokoh-tokoh Islam sebagai pemimpin bangsa mampu melakukan konsolidasi pemikiran. Bukan saja dari kalangan Islamis, tetapi juga nasionalis dan marxisis (kerakyatan).

Buah dari konsolidasi pemikiran tersebut menghendaki Indonesia harus berdiri sebagai negara dengan nilai-nilai dasar tauhid, bisa diterima oleh semua kalangan, sehingga Pancasila hadir sebagai dasar negara.

Yang seluruh sila-silanya, mulai dari Ketuhanan Yang Maha Esa sampai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia merupakan manivestasi dari nilai dan ajaran Islam, yakni tauhid.

Ustadz Jazir memberikan sebuah rekomendasi perihal bagaimana konsolidasi rakyat itu bisa kita lakukan, yakni di masjid. Melalui masjid, konsolidasi rakyat bisa kita bangun dengan basis tauhid. Sebagaimana dahulu Nabi SAW melakukannya.

Secara gamblang pemikiran Ustadz Jazir perihal masjid ini juga bisa kita gali dalam bukunya: Manifesto Masjid Nabi Rumah Allah yang Memihak Rakyat.

“Masjid harus terbuka untuk rakyat, bukan hanya untuk umat,” tegasnya. Artinya pemimpin umat harus tampil di masjid, menjadi maghnet power yang mampu mensejahterakan rakyat secara langsung. (ybh/hidayatullah.or.id)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Capai Tujuan Pendidikan Nasional dengan Padukan Spiritual hingga Aspek Kepemimpinan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, M.A, mengatakan sistem pendidikan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img