AdvertisementAdvertisement

Mari Bangun Rumah Tangga Positif

Content Partner

JUJUR, akhir-akhir ini rasanya miris menyaksikan huru-hara di dunia maya. Media sosial dipenuhi berita perceraian dan permasalahan rumah tangga artis dan tokoh publik.

Yang terlihat baik, romantis, dan harmonis, tiba-tiba saja sang suami mengajukan gugatan cerai. Belum lagi yang diawali perselingkuhan.

Ada juga pasangan yang kalem, tapi diselingkuhi karena mencari yang enerjik, ada lagi yang pasangannya mandiri dan pintar, tapi mencari yang rapuh dan kelihatan butuh perlindungan.

Punya pasangan cantik atau tampan, tapi ternyata selingkuhnya sama yang biasa-biasa saja. Ada yang mengakunya hilang rasa ke istri sah, padahal bisa jadi hanya alasan melegalkan perilaku tidak pantasnya.

Ada yang bilang tidak ada kecocokan dengan pasangan tapi setelah punya anak tiga. Ada yang paling sok romantis dan setia, tapi banyak saksi membeberkan perselingkuhannya. Sungguh membingungkan.

Yang paling lucu, ada yang menyalahkan takdir, tanpa peduli bagaimana perilakunya dalam rumah tangga, betapa minimnya usahanya mempertahankan keutuhan rumah tangga. Effortless, adalah bentuk kepasrahan paling salah.

Rumah tangga sebagian keluarga di Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Betapa ramainya pemberitaan media tentang kehancuran rumah tangga para public figure yang dikuliti oleh netizen. Dikupas tuntas satu per satu dengan bumbu asumsi dan fitnah keji.

Padahal tidak ada orang yang paling tahu isinya rumah tangga selain yang menjalaninya. Sekarang, menjadi pengamat rumah tangga orang lain sudah jadi tren.

Di mana-mana dibahas keromantisan keluarga ini, kekayaan keluarga itu, perselingkuhan si A, bayi di B, sampai ART di C.

Keluarga kehilangan privasi. Para penikmat juga akhirnya terbiasa berperilaku terbuka dan tidak lagi menganggap privasi itu penting. Inilah awal mula karamnya perahu rumah tangga. Terlalu banyak dilubangi, ditumpangi, dan dibiarkan bocor.

Tidak bisa dipungkiri, bagi pembaca hal ini bisa menimbulkan rasa was-was. Mereka yang cantik, mapan, pintar, dan mandiri saja diselingkuhi, apalagi yang tidak seperti itu, pasti lebih mudah ditinggalkan. Seolah-olah pernikahan hanya ditentukan oleh hal-hal fisik semata.

Sehingga semakin banyak rumah tangga yang salah satu pasangannya diliputi perasaan insecure. Tidak nyaman dan tidak merasa imbang. Padahal suami-istri saling melengkapi, tidak ada yang lebih unggul. Sebab membina rumah tangga bukan berkompetisi, tidak bisa jika hanya satu pihak yang berperan dan menjadi pemenang.

Lebih parahnya, fenomena ini juga menyebabkan banyak generasi muda yang takut menikah, tapi tidak takut berpacaran. Takut berkomitmen tapi tidak takut bermaksiat. Mau senangnya saja, tidak siap dengan konsekuensinya. Bahkan seperti menyalahkan pernikahan, seolah-olah pernikahan bukan solusi tetapi gerbang menuju permasalahan hidup.

Padahal, hidup sendirian pun tetap akan ada masalahnya.

Pernikahan terkesan jadi momok menakutkan, tetapi pergaulan bebas dan hubungan di luar nikah tidak dipermasalahkan. Orang-orang lebih fokus terhadap hal negatif, tapi lupa bahwa yang positif jauh lebih banyak.

Memang tidak bisa dipungkiri, ada rumah tangga yang tidak berakhir baik. Tetapi baiknya kita tidak mengabaikan keluarga yang baik-baik saja, keluarga yang sakinah mawadah warahmah, dan ini jumlahnya pasti jauh lebih banyak daripada rumah tangga yang bermasalah.

Cobalah untuk selalu mencari tahu dan melihat yang baik-baik ini, pelajari, dan doakan kelanggengan untuk mereka, sebab doa yang baik akan kembali kepada kita juga.

Ketika kita fokus pada energi positif pernikahan, maka mindset kita juga akan lebih sehat memandang ikatan suci ini. Jika mindset kita benar, maka perilaku kita dalam berumah tangga juga ikut membaik.

Berbeda jika yang kita perhatikan hanyalah berita-berita dan desas desus negatif, maka kita akan dihantui oleh imajinasi negatif kita, bisa jadi curiga berlebih terhadap pasangan, lebih mudah stres, bahkan mengarah pada overprotektif atau malah abusive. Na’udzu billah min dzalik.

Ada alasan mengapa pernikahan menjadi ibadah yang paling lama. Bukan tidak ada permasalahan di dalamnya, tetapi bagaimana kita menyelesaikan permasalahanlah yang membuatnya menjadi lumbung pahala.

Yakinlah bahwa pernikahan adalah kebaikan. Sesuatu yang baik, pasti akan Allah Ta’ala ridhai dan rahmati selama kita tetap berada dalam koridor-Nya.

Yuk, perbaiki cara pandang kita terhadap pernikahan menjadi lebih positif. Keep a healthy marriage.*/Najmatun Nahdhah, penulis adalah ibu Rumah Tangga di Balikpapan, dinukil dari laman Ummulqurahidayatullah.id

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

SAR Hidayatullah Peserta Uji Kompetensi Water Rescue sebagai Potensi Basarnas Gorontalo

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) -- Lembaga Relawan Kemanusiaan Search and Rescue (SAR) Hidayatullah sebagai bagian dari potensi Badan Nasional Pencarian dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img