AdvertisementAdvertisement

Membumikan Jatidiri Organisasi: Pondasi Menuju Peradaban Islam

Content Partner

DI TENGAH hiruk pikuknya kehidupan modern, sebagian organisasi Islam hadir sebagai penjaga keberkahan dan keadilan bagi umatnya. Namun, keberadaan mereka bukan semata-mata tentang mempertahankan diri agar tetap eksis, tetapi tentang menjadi panggung bagi peradaban Islam yang makmur, dinamis dan berkelanjutan.

Untuk mewujudkan hal itu, organisasi Islam harus mampu membumikan jatidiri mereka, membiarkannya tidak hanya menjadi wacana kosong, melainkan menjadi dasar yang mempengaruhi  sekaligus menjadi energi penggerak di setiap tindakan dan keputusan yang diambil.

Jatidiri organisasi dalam perspektif Islam adalah cerminan dari ajaran-ajaran agung yang terkandung dalam kitab suci, al-Qur’an, dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Ia bukanlah sekadar kumpulan kata-kata indah yang terpampang di dinding atau terdengar dalam pidato-pidato, tetapi adalah inti yang menghidupkan setiap aspek keberadaan organisasi.

Jatidiri ini menjadi nafas, menjadi semangat, dan menjadi kompas yang membimbing langkah organisasi dalam mengemban tugas mulianya.Sehingga jatidiri tak ubahnya bagaikan DNA yang menjiwai setiap gerak langkah kader dan struktur organisasi.

Dengan demikian maka, jatidiri organisasi yang kokoh berakar pada budaya organisasi dalam perspektif Islam yang menjadi pedoman bagi organisasi itu sendiri. Budaya ini dibangun di atas nilai-nilai esensi yang telah dirumuskan dan menjadi platform organisasi. Sehingga, nilai-nilai ini menjadi landasan bagi setiap tindakan dan keputusan organisasi, memandu organisai dalam mencapai tujuannya dengan cara yang etis dan bertanggung jawab.

Membumikan Jatidiri: Dari Kata Menjadi Karya

Membumikan jatidiri organisasi bukanlah tugas yang mudah. Ia memerlukan kesadaran yang mendalam dari setiap kader, setiap pimpinan, dan setiap anggota organisasi.

Setiap individu harus menjadikan jatidiri sebagai bagian dari dirinya, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan sehari-hari. Mereka harus membiarkan nilai-nilai Islam meresapi setiap keputusan strategis, setiap interaksi dengan pemangku kepentingan, dan setiap kebijakan yang dibuat.

Sehinga, membumikan jatidiri organisasi bukan sekadar menghafal visi dan misi, ataupun kata-kata dan kalimat yang dirumuskan dalam rangkaian yang dinyatakan sebagai jatidiri, akan tetapi bagaimana mewujudkannya dalam tindakan nyata. Hal ini membutuhkan komitmen dan kerja keras dari seluruh anggota organisasi. Berikut beberapa langkah untuk membumikan jatidiri organisasi:

Pertama, Pendidikan dan Internalisasi: Proses transformasi nilai (value), menjadi hal yang dapat menjaga dan memastikan proses internalisasi jatdiri berjalan dengan baik. Oleh karenanya, memberikan pendidikan dan internalisasi nilai-nilai jatidiri organisasi kepada seluruh anggota, kader dan pengurus struktural organisasi menjadi sangat penting. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai program, seperti kajian, seminar, pelatihan, diskusi dan lain sebagainya.

Kedua, Penerapan Nilai-Nilai dalam Kebijakan dan Program: Implementasi jatidiri dalam setiap kebijakan dan program mesti dijaga keberlangsungannya. Sehingga, dengan menerapkan nilai-nilai jatidiri organisasi dalam setiap kebijakan dan program organisasi menjadi sebuah keniscayaan. Hal ini memastikan bahwa semua kegiatan organisasi selaras dengan jati dirinya..

Ketiga, Pengembangan Budaya Organisasi yang Positif: Budaya organisasi itu tidak jumud (stagnan), namun terus dinamis. Sehingga, menciptakan budaya organisasi yang positif yang mendukung penerapan nilai-nilai jatidiri. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun lingkungan kerja yang saling menghormati, kolaboratif, dan terbuka.

Kempat, Memperkuat basis keilmuan Islam: Kader dan struktur organisasi harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang Islam, baik dari segi aqidah, syariah, maupun akhlak. Hal ini menjadi landasan dalam merumuskan solusi nyata bagi problematika umat. Selain itu perlu juga meningkatkan skill dan juga managerial skill agar proses pembumian jati diri memiliki kerangka yang memadai

Kelima, Kepemimpinan dan Keteladanan, Kepemimpinan dan seluruh struktur diberbagai level harus memberikan contoh sekaligus role model, dalam membumikan jatidiri ini. Meraka itu adalah sosok-sosok yang menjadi teladan yang dapat dilihat oleh semua kader dan anggota, juga masyarakat umum, bagaimana jatidiri organisasi itu diterapkan dan menjadi bagian integral yang tak terpisahkan dari setiap individu dalam organisasi.

Keenam, Penguatan Sinergi dan Kolaborasi: Membangun sinergi dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat kiprah organisasi dalam membangun peradaban Islam. Konsekwensinya, Organisasi harus hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan mereka, dan memberikan solusi yang tepat. Kolaborasi dengan berbagai elemen umat menjadi kunci untuk membumikan jati diri.

Ketujuh, Penilaian dan Evaluasi: Tidak ada sebuah pekerjaan itu yann selalu berjalan mulus tanpa hambatan dan kendala. Disini diperlukan penilaian dan evaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa jatidiri organisasi benar-benar terbumikan dalam setiap aspek organisasi.

Dengan demikian, ketujuh hal tersebut di atas menjadi kunci utama dalam rangka membumikan jatidiri organisasi, selain juga beberapa hal lain yang dapat dikembangkan .

Jatidiri yang Membumi: Solusi Nyata Problematika Keummatan

Jatidiri organisasi yang membumi bukan hanya indah di atas kertas, tetapi juga memberikan solusi nyata bagi problematika keummatan. Organisasi yang berjati diri Islam dapat menjadi agen perubahan positif dalam masyarakat, membantu menyelesaikan berbagai masalah dan problematika yang dihadapi umat Islam.

Adapun solusi nyata dalam menyelessaikan problematika keumatan sebagaimana dinyatakan di atas, dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, Menyebarkan Nilai-Nilai Islam: Organisasi dapat menyebarkan nilai-nilai Islam yang mulia kepada masyarakat. Nilai-nilai yang dirumuskan dalam jatidiri itulah yang kemudian didakwahkan sekaligus didesiminasi kepada masyarakat sehingga menjadi sebuah Gerakan.

Kedua, Memperkuat Ukhuwah Islamiyah: Organisasi dapat memperkuat ukhuwah Islamiyah di kalangan umat Islam, membangun rasa persaudaraan dan saling membantu. Hal ini juga dijiwai dengan semangat wasathiyah (pertengahan) yang membawa kedamaian.

Ketiga, Menjadi teladan bagi umat: Organisasi dapat menunjukkan contoh nyata penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi inspirasi bagi umat. Praktik kehidupan yang berasal dari implementasi jatidir yang bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah, menjadi teladan yang nyata bagi umat.

Keempat, Memberikan solusi atas problematika keummatan: Organisasi dapat menjadi pelopor dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi umat, seperti kemiskinan, kebodohan, dan ketimpangan sosial.

Kelima, Membangun Peradaban Islam: Organisasi dapat berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang bermartabat, adil, dan sejahtera. Sebuah peradaban Islam yang merupakan manifestasi keimanan disetiap aspek kehidupan.

Dari kelima hal tersebut di atas, dimana kemampuan dalam membumikan jatidiri sesungguhnya merupakan solusi problematika umat. Sehingga dapat dikatakan bahwa, membumikan jatidiri organisasi bukan tugas yang mudah. Diperlukan komitmen, kerja keras, dan kolaborasi dari semua pihak. Dengan organisasi yang membumi, umat Islam dapat bersatu dan bersama-sama membangun peradaban Islam yang gemilang.

Penutup

Jatidiri organisasi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan harus terus diadaptasi dengan perubahan zaman. Organisasi harus terus belajar dan berkembang untuk tetap relevan dan efektif dalam menjawab kebutuhan umat Islam dan masyarakat.

Dengan demikian maka, membumikan jatidiri organisasi merupakan proses yang berkelanjutan. Diperlukan komitmen dan usaha keras dari seluruh anggota organisasi untuk mewujudkannya.

Jatidiri organisasi yang membumi bukan hanya membawa slogan indah, tetapi memberikan solusi nyata bagi problematika keummatan dan berkontribusi dalam membangun peradaban Islam yang gemilang. Wallahu a’lam

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Capai Tujuan Pendidikan Nasional dengan Padukan Spiritual hingga Aspek Kepemimpinan

DEPOK (Hidayatullah.or.id) -- Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust. Dr. H. Nashirul Haq, M.A, mengatakan sistem pendidikan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img