AdvertisementAdvertisement

Mengapa Allah Tak Menolong Gaza?

Content Partner

Seorang ibu memeluk jenazah putranya untuk terakhir kalinya, yang menjadi syahid dalam pemboman Israel saat mengumpulkan kayu bakar untuk keluarganya (Foto: Belal Khaled/ Instagram)

DITENGAH rentetan peristiwa mencekam yang sedang dialami keluarga kita di Gaza dan juga terjadi di tempat lain pada umat Islam yang sedang dalam kondisi lemah, ada celah bagi setan menyusup ke dalam diri seorang Muslim untuk menggoyahkan keimanannya.

Semoga Allah menolong kita semua menampik bisikan setan itu dan mengembalikannya kepada yang menghembuskannya.

Sebagaimana disebutkan di dalam Hadis ketika ada sahabat Radhiyallahu ‘Anhu yang mengadukan bisikan setan, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam berucap kepadanya:

“Segala puji hanya milik Allah yang telah mengembalikan bisikan kepada si pembisik.”

Di dalam Hadis lain yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, dan Abu Dawud, dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu: Beberapa sahabat mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, kami menemukan dalam diri kami sesuatu yang ingin kami bicarakan. Kami tidak suka bahwa kami memiliki dunia dan itu kami membicarakannya!

Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam berkata kepada mereka: ‘Sudahkah kalian menemukannya?’

Mereka berkata: ‘Ya!’

Nabi bersabda kepada mereka: ‘Itu adalah iman yang nyata!’”

Ujian dan fitnah adalah tempat bermain setan, dan terbuka peluang besar bagi mereka untuk merusak keimanan orang beriman dengan cara menggoyahkan kedudukan Allah di dalam hatinya.

Kita adalah manusia biasa, yang sulit menyadari kebesaran Hikmah Allah yang sengaja Allah sembunyikan di setiap peristiwa yang kita alami.

Banyak peristiwa yang kita saksikan, dan memunculkan banyak sekali pertanyaan, dan sulit bagi kita untuk mengungkapkannya dengan kata-kata sehingga hanya kalimat istighfar yang terucap.

Itu bukanlah tanda kurangnya keimanan kita, justru lambang kesempurnaannya. Ketika kita kesulitan menemukan hikmah di setiap kejadian, pasrahkanlah kepada Allah, satu-satunya Dzat yang ada di balik semua itu, karena yang demikian lebih bijaksana dan lebih menyelamatkan kita dari kesilapan, dan lebih jauh dari itu karena kita semua adalah hamba di dalam kerajaan-Nya.

”Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” (Terjemah surah Al Anbiya ayat 23)

Subhaanallah!

Sebelum kita menyebutkan apa yang menenangkan jiwa dan menghilangkan bisikan tersebut, kami perlu menyampaikan bahwa kita sebagai umat Islam telah diberikan oleh Allah sebab-sebab untuk memenangkan saudara-saudara kita di Gaza.

Kita mempunyai daya ekonomi, strategi, dan pasukan, serta semua perangkat kekuatan, namun umat ini terpecah-belah.

Lantas, bagaimana kemenangan Allah dapat tercapai bila kita tidak menolong saudara-saudara kita dan justru di antara kita ada yang membantu musuh menyerang mereka?

Jawaban dari bisikan-bisikan setan yang mengganggu hati seorang Muslim terangkum dalam beberapa poin berikut:

Pertama:

Dunia ini tempat ujian, bukan balasan. Dan Allah-lah yang mengajukan pertanyaan kepada hamba-Nya bagaimana ia bersikap atas ujian yang diberikan kepadanya, dan bukan hamba yang bertanya balik kepada Allah: “Ya Allah, mengapa Engkau berikan ujian ini kepada hamba?” Beradablah kepada Allah!

Kedua:

Segala sesuatu itu diambil berdasarkan hasil akhirnya dan bukan berdasarkan keadaannya saat ini. Jika Anda menyaksikan Firaun melemparkan anak-anak Al-Masyitah ke dalam minyak mendidih hingga tulang-tulangnya terbakar, lalu melemparkan ibu mereka bersama-sama hingga tulang-tulangnya ikut terbakar, lantas Anda berlagak seperti seorang hamba yang ingin membalas dendam dan bertanya:

“Di manakah Allah? Apa kesalahan anak-anak ini sehingga dibunuh dengan begitu mengenaskan? Mengapa Allah tak menyelamatkan wanita malang ini?”

Lalu, apa yang terjadi setelah itu?

Allah Yang Maha Kuasa menenggelamkan Firaun ke dalam laut, dan dia abadi di Neraka, sedangkan Al-Masyitah dan anak-anaknya, Rasulullah mencium aroma wangi mereka di Surga saat perjalanan Mi’raj!

Ketiga:

Sesungguhnya Allah memberikan ketetapan kepada pelaku kezaliman, lalu berkuasa penuh untuk mengangkatnya kembali.

Jika ada yang berkata kepada Anda bahwa segala bentuk kezaliman akan mendapatkan balasan di dunia, lantas buat apa ada Kiamat, Shiratal Mustaqim, Hisab, Timbangan, dan untuk apa diciptakan Surga dan Neraka?

Ashabul Ukhdud semuanya dibakar di dunia, dan Allah tetapkan kepada seorang bayi untuk berbicara kepada ibundanya: “Bertahanlah Ibu sesungguhnya kamu berada dalam kebenaran,” lalu bergabunglah sang ibu ke dalam lautan api.

Namun, Allah tidak memberikan keterangan telah memberikan balasan kepada mereka, karena semua itu akan terjadi sesudah hari Kiamat.

Pertempuran bukan dinilai dari hasil yang tampak, jika Anda menang dan mendapatkan keuntungan lalu semua keuntungan itu terbakar lenyap maka Anda merugi. Namun, jika Anda kalah dan dibakar di atas kebenaran maka sesungguhnya Anda pemenang.

Keempat:

Seandainya Allah memberikan balasan langsung kepada setiap bentuk kezaliman, maka tidak berguna adanya ujian di dunia. Jika kebenaran selalu memenangkan pertempuran melawan kebatilan, maka barisan pasukannya akan diisi oleh mereka pemuja hasil.

Allah menetapkan dunia penuh dengan guncangan perasaan karena jika tidak ada kezaliman dan kejahatan, bagaimana Allah menguji hamba-Nya dengan syariat Jihad? Bagaimana Allah memisahkan Mujahidin dari para pengecut? Penolong dari para penghina? Orang-orang yang berinfaq di jalan Allah dari orang-orang pelit di jalan setan?

Kelima:

Proses persalinan seorang ibu bercampur antara rasa sakit dan darah, ini baru proses lahirnya seorang bayi! Lantas, bagaimana dengan proses persalinan satu umat? Bagaimana lahirnya satu negara berdaulat?

Seandainya Anda berada di antara kaum Quraisy ketika Abu Jahl menancapkan Sumayyah ke tanah dan mengikatnya, lalu menusukkan tombaknya ke dalamnya, Anda mungkin akan berkata seperti yang Anda katakan sekarang: Di manakah Allah?

Sekarang saya bertanya balik kepada Anda: Di mana Sumayyah sekarang dan di mana Abu Jahl?

Pada saat itu, jika Anda melihat Bilal di pasir Makkah dengan batu di dadanya, dan Umayyah bin Khalaf memerintahkannya menyebutkan Lata dan Hubal, sedangkan Bilal mengulangi satu kata dengan segenap jiwa yang tersisa di dalam dirinya: Ahad! Ahad!

Anda mungkin berkata: Di mana Allah Al-Ahad itu?

Sekali lagi saya bertanya kepada Anda: Di mana Bilal sekarang dan di mana Umayyah?

Jika Anda melihat kemenangan itu hanya ada di dunia ini, dan Anda tidak membayangkan bahwa kemenangan itu akan datang! Namun, sekarang Anda tahu bahwa Makkah telah dibebaskan, dan orang-orang yang dahulu disiksa di sana memasukinya melalui empat gerbangnya di tengah siang hari!

Sesungguhnya Allah Yang Maha Bijaksana mempunyai ketetapan waktu untuk semua kejadian, jika Anda paham, ikatkan ikat pinggang. Dan jika Anda tak paham, pasrahkanlah.

*) Diterjemahkan oleh Sahabat Al Aqsha dari tulisan Adham Sharqawi (Twitter: @adhamsharkawi)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Rekonstruksi Peradaban Islam Pasca Ramadhan: Menjemput Kejayaan dari Syawal

RAMADHAN, bulan penuh berkah dan ampunan, telah sepekan lebih meninggalkan jejak takwa dalam sanubari kita. Takwa bagaikan benih yang...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img