AdvertisementAdvertisement

Mukjizat Al Qur’an dan Orang Buta Huruf Mendapat Kiriman Surat

Content Partner

SUFYAN al-Wasithi (atba’ tabi’in, w. 150-an H) berkata, “Sesungguhnya perumpamaan seseorang yang membaca Al-Qur’an dan tidak mengetahui maknanya adalah seperti seseorang yang kedatangan surat dari manusia paling mulia. Dia sangat bergembira, lalu ia mencari orang yang bisa membacakannya untuknya, tapi ia tidak menemukannya, sementara ia sendiri buta huruf. Demikianlah orang membaca Al-Qur’an namun tidak mengerti apa isinya.” (Tafsir Muqatil, muqaddimah, I/5-6)

Begitulah. Ketika bimbingan dari Allah tergelar dalam 114 surah, lengkap mencakup segenap persoalan kehidupan, akan tetapi kita tidak mengerti apa isinya.

Sebagian kita mungkin sangat fasih melafalkan huruf-hurufnya atau begitu merdu melantunkan ayat-ayatnya, namun tidak tahu-menahu apa yang difirmankan Allah di dalamnya. Tentu saja yang seperti ini belum memenuhi tujuan penurunan Al-Qur’an.

Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran itu mendapat pelajaran.” (QS Shaad: 29).

Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir mengutip perkataan al-Hasan al-Bashri, “Demi Allah, tidaklah disebut mentadabburi Al-Qur’an itu dengan cara menghafal huruf-hurufnya dan menelantarkan batasan-batasan hukumnya; sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan: ‘Aku telah membaca Al-Qur’an seluruhnya’. Tapi, tidak terlihat pada dirinya (pengaruh) Al-Qur’an, baik berupa akhlak maupun perbuatan.” Na’udzu billah!

Membaca Al-Qur’an memang sangat utama, bahkan setiap hurufnya dijanjikan pahala satu kebaikan, dan setiap kebaikan dilipatkan sepuluh kalinya (Riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud).

Akan tetapi, kita mesti sadar bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat akhir zaman yang diturunkan bukan untuk dijadikan bahan bacaan semata. Ia bukan novel penghibur hati yang dibaca di kala senggang demi menghapus kejenuhan. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk untuk diamalkan.

Fudhail bin ‘Iyadh (atba’ tabi’in, w. 187 H) berkata, “Al-Qur’an turun hanya untuk diamalkan, namun manusia justru menjadikan membacanya sebagai pengamalannya.” Ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana mengamalkannya?” Beliau menjawab, “Maksudnya, agar dia menghalalkan apa yang dihalalkan Al-Qur’an, mengharamkan apa yang diharamkannya, melaksanakan perintah-perintahnya, menahan diri dari larangan-larangannya, dan berhenti pada keajaiban-keajaibannya (untuk merenunginya).” (Riwayat al-Khathib dalam Iqtidha’ul ‘Ilmi al-‘Amal, hal. 75 no. 116).

Bahkan, dalam nada yang lebih keras, Ibnu ‘Umar berkata:

“Kami telah hidup sekian lama dari usia kami, dan salah seorang dari kami diberi iman sebelum diberi Al-Qur’an. Sebuah surah turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia pun mempelajari apa yang halal, haram, perintah, larangan, dan hal-hal lain yang harus diperhatikan darinya, sebagaimana kalian mempelajari Al-Qur’an pada hari ini. Kemudian, sungguh saya telah melihat beberapa orang pada hari ini, dimana salah seorang dari mereka telah diberi Al-Qur’an sebelum iman. Maka, dia pun membaca apa yang ada diantara pembukaannya sampai penutupnya, namun dia tidak tahu-menahu apa yang diperintahkannya, apa yang dilarangnya, dan apa yang harus dia perhatikan darinya. Dia membacanya sebagaimana berjatuhannya kurma jelek ketika pohonnya diguncangkan.” (Sunan al-Baihaqi no. 5496) – yakni, dibaca dengan cepat, hurufnya saling bertumpang-tindih, dan tanpa pemahaman maupun perenungan.

Maka, bila kita perhatikan riwayat hidup generasi Salaf, terlihat bahwa merenungi dan melatih diri untuk mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an merupakan kesibukan yang mereka tekuni setiap hari. Ini pula rahasia mengapa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap dalam masa 23 tahun.

Sebenarnya, tidak sulit bagi Allah untuk menurunkannya sekaligus lengkap sebagaimana kitab-kitab terdahulu. Namun, hikmah Allah menghendaki penurunan Al-Qur’an secara berangsur-angsur, agar para Sahabat memiliki cukup kesempatan menata diri mengikuti panduan yang digariskan-Nya.

Al-Qur’an menegaskan hikmah di balik pola penurunan ini dalam surah al-Furqan: 32, “Berkatalah orang-orang kafir: ‘Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).”

Maka, para Sahabat tidak pernah terburu-buru dalam upayanya untuk memahami Kitabullah. Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khattab menghabiskan masa 12 tahun untuk mengkaji surah al-Baqarah saja, dan ketika khatam beliau menyembelih seekor unta (Riwayat al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, no. 1805).

Dalam al-Muwattha’ (no. 695) diriwayatkan pula bahwa Ibnu ‘Umar menghabiskan waktu selama 8 tahun untuk mempelajari surah al-Baqarah. Menurut Imam az-Zarqani dalam Syarah al-Muwattha’ (II/21-22), hal itu dikarenakan Ibnu ‘Umar tidak hanya membaca huruf-hurufnya, namun sekaligus mempelajari hukum-hukum yang dikandungnya, kewajiban-kewajiban yang disyariatkan di dalamnya, dan hal-hal lain yang berkenaan dengannya.

Keseriusan seperti itu juga ditunjukkan generasi Tabi’in. Misalnya, Mujahid bin Jabr berkata, “Saya telah membaca Al-Qur’an di hadapan Ibnu ‘Abbas sebanyak 3 kali setoran (sampai khatam). Saya berhenti pada setiap ayat untuk bertanya kepada beliau: ‘dalam masalah apa ayat itu turun, dan bagaimana hal itu terjadinya.’” (Tahdzibut Tahdzib X/43).

Seorang Tabi’in lainnya, yaitu Qatadah bin Di’amah berkata, “Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an melainkan saya benar-benar telah mendengar sesuatu (riwayat/tafsir) terkait dengannya.” (Siyaru A’lamin Nubala’ V/271).

Oleh karena itu, bila kita ingin mendapatkan keberkahan Al-Qur’an sebagaimana dulu generasi Salaf mendapatkannya, maka kita harus menempuh jalan yang sama.

Mari memulai dari diri sendiri, dengan berusaha memahami dan merenungi ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca.

Mohonlah kepada Allah agar membukakan hikmah-hikmah yang ada di dalamnya, dan membimbing kita untuk mengamalkannya. Amin. Wallahu a’lam.

Ust. M. Alimin Mukhtar

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

Rekonstruksi Peradaban Islam Pasca Ramadhan: Menjemput Kejayaan dari Syawal

RAMADHAN, bulan penuh berkah dan ampunan, telah sepekan lebih meninggalkan jejak takwa dalam sanubari kita. Takwa bagaikan benih yang...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img