AdvertisementAdvertisement

Organisasi itu Connecting the Dots

Content Partner

DALAM perspektif organisasi, konsep “connecting the dots” merupakan sebuah paradigma tentang bagaimana setiap bagian dari organisasi saling terkait dan berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Konsep “connecting the dots” menjadi sebuah filosofi yang relevan dalam mengoptimalkan peran organisasi. Frasa ini dipopulerkan oleh Steve Jobs, pendiri Apple, yang menekankan pentingnya menyatukan berbagai elemen dan sumber daya yang nampaknya tidak saling terkait, untuk disatukan dalam rangka mencapai hasil yang luar biasa.

Dalam pidatonya di Universitas Stanford tahun 2005, Jobs menjelaskan bahwa menghubungkan titik-titik berarti melihat pola dan hubungan di antara berbagai hal yang tampaknya tidak terkait. Kemampuan ini memungkinkannya untuk menciptakan produk-produk inovatif seperti  Komputer Mac, iPod, iPhone, dan iPad.

Jobs menceritakan bagaimana ia keluar dari perguruan tinggi dan mengikuti kata hatinya, yang membawanya ke berbagai pengalaman yang tampaknya tidak terhubung. Namun, bertahun-tahun kemudian, ia menyadari bahwa pengalaman-pengalaman itu ternyata saling terkait dan membentuknya menjadi seorang inovator  dan inventor yang sukses.

Ia juga berkisah bagaimana saat kuliahnya yang singkat itu, ia di kelas mempelajari kaligrafi dan tipografi, yang pada akhirnya berkontribusi pada desain produk Apple yang estetis dan intuitif. Kemampuannya untuk melihat pola dan menghubungkan titik-titik yang seemingly unrelated inilah yang menjadi kunci kesuksesannya.

Memahamahi Connecting The Dots dalam Perpekstif  Organisasi Islam

Konsep “connecting the dots” juga relevan dengan organisasi Islam. Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya umat Islam itu ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan merasakan sakit pula dengan demam dan berjaga-jaga.” (HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahwa umat Islam harus saling terhubung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Seperti tubuh yang utuh dimaksudkan hanya jika setiap anggota tubuhnya bekerja sama dengan baik, demikian juga sebuah organisasi Islam hanya dapat berhasil jika setiap individu dalam komunitasnya berkolaborasi dan bersinergi.

Hal ini menekankan pentingnya kerja sama, kebersamaan, dan keterhubungan dalam mencapai tujuan bersama, sejalan dengan prinsip-prinsip Islam tentang solidaritas dan ukhuwah. Dalam organisasi Islam, “connecting the dots” bukan hanya tentang mengelola proses bisnis dalam organisasi atau dalam rangka mencapai keunggulan kompetitif, tetapi juga tentang membentuk sebuah ikatan komunitas yang kuat dan harmonis, yang saling mendukung dan memperkuat satu sama lain dalam kebaikan.

Sehingga dalam organisasi Islam, menghubungkan berbagai elemen seperti pengurus, anggota, program-program, dan tujuan-tujuan adalah kunci untuk mencapai visi yang diinginkan. Keterkaitan yang kuat antara anggota organisasi, seperti yang diilustrasikan dalam sabda Nabi di atas, semestinya menjadi landasan yang kokoh untuk kesuksesan dan keberlanjutan organisasi.

Selain itu, “connecting the dots” juga mencakup ide untuk melihat gambaran yang lebih besar dan memahami bagaimana setiap bagian organisasi saling berinteraksi dan berkontribusi terhadap keseluruhan. Mereka tidak bisa berdiri sendiri, sebab sejatinya saling terhubung dalam sebuah ikatan organisasi itu sendiri.

Hal ini mengharuskan organisasi untuk memiliki kepemimpinan yang adaptif, visi yang jelas, komunikasi yang efektif, serta koordinasi yang baik antara semua bagian. Ketika organisasi mampu menghubungkan setiap titik atau elemen dengan bijaksana, mereka dapat menciptakan jalinan yang kuat, dinamis, dan berkelanjutan yang membawa mereka menuju keberhasilan dan pertumbuhan yang berkelanjutan.

Bagaimana mengimplementasikannya?

Dengan demikian, menjadikan connecting the dots, dengan mempertemukan titik-titik yang seolah berserak dan tidak saling terkoneksi itu, membutuhkan strategi khusus, guna mendapatkan hasil yang maksimal. Beberapa cara yang dapat ditempuh, setidaknya dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, kepemimpinan yang visioner :  Dengan kepemimpinan yang visoner, seorang pemimpin akan dapat memandu organisasinya dengan melihat dan memperediksi apa yang terjadi di masa depan. Sehingga dia dapat mencarikan titik temu berbagai hal yang terserak menjadi saling terkoneksi. Pada saat bersamaan dia mampu mengkapitalisasi berbagai tantangan menjadi peluang dan program-program  yang dapat dicapai.

Kedua, membangun komunikasi yang efektif: Saluran komunikasi yang terbuka dan transparan antar anggota organisasi sangat penting untuk memastikan pemahaman yang sama terhadap tujuan dan strategi. Dengan model komunikasi yang dua arah akan memberikan ruang bagi setiap anggota bahkan mereka yang diluar anggota, dapat mendapatkan informasi yang benar dan utuh, serta dapat menyampaikan ide dan gagasannya. Sehingga menimbulkan ketertarikan untuk menjadi bagian dari organisasi.

Ketiga, mengembangkan program dan kegiatan yang kolaboratif: Sinergi dengan berbagai pihak akan terus digalakkan, termasuk antar organisasi Islam dalam berbagai program dan kegiatan dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam mencapai tujuan bersama. Model seperti ini secara langsung atau tidak langsung, akan memperkenalkan viisi, misi, program dan jatidiri organisasi untuk berinteraksi dengan pihak eksternal, sehingga dapat menemukan common platform yang bisa dikerjasamakan.

Keempat, menumbuhkan budaya belajar dan berbagi cara: Mendorong anggota organisasi untuk saling belajar dan berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman dapat memperkuat kapasitas organisasi secara keseluruhan. Pada akhirnya akanmenjadi learning organization (organisasi pembelajar) untuk menerapkan knowledge management (manajemen pengetahuan), di mana tradisi dan budaya keilmuan menjadi bagian penting bagi organisasi. Ini akan menciptakan open mind bahkan critical thinking bagi seluruh pengurus organisasi, sehingga menciptakan organisasi yang egaliter dan inklusif, yang mampu merespon dengan cara yang memadai untuk selanjutnya beradaptasi dengan perubahan. Hal ini akan memungkinkan organisasi menjadi wadah yang menyenangkan berbagai kalangan.

Kelima, memanfaatkan teknologi: Platform digital dan media sosial dapat menjadi alat yang efektif untuk menghubungkan anggota organisasi, menyebarkan informasi, dan menggalang partisipasi dari berbagai pihak. Kemampuan memilah dan memilih teknologi yang tepat, juga akan memberikan kekuatan branding bagi organisasi sekaligus menjadi sarana yang paling efektif dan efisien untuk menghubungkan titik-titik yang berserak.

Keuntungan menerapkan connecting the dots

Dalam konteks organisasi Islam yang menerapkan konsep “connecting the dots,” penting untuk memahami bahwa prinsip ini mengacu pada kemampuan untuk melihat hubungan antara berbagai elemen atau peristiwa, serta untuk menghubungkan mereka secara bijaksana dan berkelanjutan. Pada saat bersamaan juga memiliki kemampuan untuk mengkoneksikan denga hal-hal yang berada diluar organisasi yang nampaknya terserak dan terpisah.

Dengan mengintegrasikan konsep ini ke dalam kegiatan organisasi, ada beberapa keuntungan yang dapat dirasakan.

Pertama, Kepemimpinan yang efektif  dan berbasis nilai, Dalam penerapan konsep “connecting the dots” oleh organisasi Islam akan mengantarkan pemimpin mampu untik menyatukan berbagai elemen kehidupan dengan nilai-nilai Islam, serta memiliki kemampuan untuk memimpin dengan visi holistik dan berbasis nilai. Seorang pemimpin yang efektif dalam kerangka ini akan dapat memahami kompleksitas masalah, memfasilitasi pemahaman yang lebih dalam terhadap ajaran agama, dan mendorong partisipasi aktif anggota dan umat dalam rangka mencapai tujuan bersama yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Kedua, Pemahaman yang Holistik: Dengan menghubungkan titik-titik informasi dan konteks yang berbeda, organisasi Islam dapat mengembangkan pemahaman yang lebih holistik tentang isu-isu yang dihadapi. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat masalah dari berbagai perspektif, termasuk aspek keagamaan, budaya, sosial, dan politik, yang pada gilirannya membantu dalam merancang solusi yang lebih komprehensif.

Kertiga, Sinergi antar Bagian: Melalui konsep “connecting the dots”, organisasi Islam dapat menggabungkan upaya dari berbagai bagian atau divisi internal mereka. Dengan cara ini, mereka dapat menciptakan sinergi yang kuat antara berbagai inisiatif dan program yang mereka jalankan, menghindari tumpang tindih dan memastikan bahwa sumber daya mereka dimanfaatkan secara efisien untuk mencapai tujuan bersama.

Keempat, Pengambilan Keputusan yang Lebih Baik: Dengan akses yang lebih baik terhadap informasi yang relevan dan hubungan yang lebih kuat antara berbagai aspek, organisasi Islam dapat membuat keputusan yang lebih baik dan lebih terinformasi. Mereka dapat mengevaluasi implikasi jangka panjang dari tindakan mereka dan memilih strategi yang paling sesuai dengan nilai-nilai dan tujuan mereka, sambil mempertimbangkan dampaknya terhadap berbagai pemangku kepentingan.

Kelima, Keterlibatan Komunitas yang Lebih Besar: Konsep “connecting the dots” juga memungkinkan organisasi Islam untuk terlibat lebih langsung dengan komunitas mereka. Dengan menciptakan jaringan yang kuat antara berbagai kelompok dan individu, mereka dapat memobilisasi dukungan yang lebih besar untuk tujuan mereka, memperluas jangkauan dan dampak dari upaya mereka, serta membangun hubungan yang lebih erat dengan mereka yang mereka layani.

Keenam, Kohesi dan Keterpaduan: Dengan menghubungkan titik-titik atau elemen-elemen yang berbeda dalam konteks Islam, organisasi akan mencapai tingkat kohesi dan keterpaduan yang lebih tinggi. Ini memungkinkan mereka untuk memiliki visi yang lebih utuh dan terintegrasi tentang misi dan tujuan mereka, serta bagaimana setiap kegiatan dan inisiatif berkontribusi pada pencapaian tujuan tersebut.

Ketujuh, Keberlanjutan dan Kesinambungan Program: Dengan menghubungkan informasi dari berbagai sumber, organisasi Islam dapat mengembangkan program-program yang lebih berkelanjutan dan berkesinambungan. Mereka dapat menilai dampak program-program mereka secara menyeluruh, melihat bagaimana program-program tersebut berinteraksi satu sama lain, dan kemudian melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk meningkatkan efektivitasnya.

Dengan menerapkan konsep “connecting the dots”, organisasi Islam dapat memperoleh manfaat yang signifikan dalam upaya mereka untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya serta lebih dari itu juga membawa perbaikan bagi umat Islam dan membangun masyarakat yang lebih baik secara keseluruhan.

Penutup

Dengan menginternalisasi konsep “connecting the dots”, organisasi Islam dapat membangun fondasi yang kokoh untuk kemajuan dan keberlanjutan, baik dalam konteks spiritual maupun materi. Ini adalah panggilan untuk selalu mengingat bahwa setiap tindakan, setiap hubungan, dan setiap keputusan yang diambil oleh organisasi memiliki konsekuensi yang luas, dan bahwa kesuksesan sejati hanya dapat dicapai melalui kerja sama dan keterhubungan yang kokoh.

Dengan demikian, “connecxting the dots” bukan hanya sekadar istilah kosong, tetapi merupakan konsep yang mendasar dan krusial bagi keberhasilan organisasi, termasuk organisasi Islam. Dengan memahami, menghargai, dan menerapkan konsep ini, organisasi dapat membentuk jalinan yang kuat dan membangun masa depan yang cerah.[]

*) ASIH SUBAGYO, penulis peneliti senior Hidayatullah Institute (HI)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img