AdvertisementAdvertisement

Perjalanan Dua Mujahid Menuju Syahid (2)

Content Partner

Almarhum Ustadz Fery Andi dan Ustadz Muhammad Rusydi (Foto: Ist/ hidayatullah.or.id)

[Baca halaman sebelumnya]

AHAD malam, 14 Maret 2024 itu, Ustadz Nasikin tiba tiba terpikir hendak menelpon adiknya Ustadz Fery Andi yang mengemban tugas dakwah di Lampung. Namun saat mengambil HP di saku celana, ada panggilan Bapak Saltani, salah satu jamaah Hidayatullah Lampung yang dikenal dekat dan baik.

Namun Pak Saltani saat menelpon hanya bisa menangis. Tentu saja Ustadz Nasikin heran dan punya firasat mungkin ada kabar ibunya meninggal dunia karena beberapa waktu lalu sempat ibunya dirawat di rumah sakit. Ustadz Nasikin sempat menasehati untuk sabar dan insyaallah kita semua bisa sabar.

Setelah ditenangkan, barulah Bapak Saltani menceritakan bahwa Ustadz Fery Andi, adik Ustadz Naskin, wafat kecelakaan. Betapa kagetnya Ustadz Nasikin dan langsung terisak menangis yang tak tertahankan.

Tidak ada kabar dan firasat apapun sebelumnya. Permintaan terakhir almarhum kepada kakaknya, minta dikirimkan jaket hitam untuk dakwah di Lampung. Selain itu, ia mengabarkan telah membayar zakat fitrah dan membelikan beras untuk orang tuanya.

Ferry Andi alumni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Ia lulus tahun 2020 dan langsung tugas ke Lampung. Mengingat Fery Andi anak terakhir dari 5 bersaudara dan ibunya sudah sepuh sakit-sakitan.

Fery Andi baru menikah bulan Desember 2023 dengan Nurul Kamilah putri pertama Ustadz Syaiful. Namun setelah menikah tidak langsung kumpul karena istrinya masih harus menyelesaikan pengabdiannya di Hidayatullah Solo.

Rencananya, setelah Syawal ini Fery baru mau dijemput sang istri. Qadarullah, Allah lebih mencintai untuk memanggilnya. Entah bagaimana perasaan istrinya yang ditinggalkannya dan belum sempat berbulan madu.

Fery Andi sejak mahasiswa STIS dikenal oleh dosen dan teman-temannya sebagai mahasiswa yang taat, rajin, dan tak macam-macam.

Selama tugas di Hidayatullah Waykanan sebagai sekretaris DPD dan merangkap banyak pekerjaan. Pekerjaan rutinnya mengasuh santri kecil dari mengajari ngaji, menemani tidur, membangunkan, memandikan, memasakkan, mencuci dan menjemur pakaiannya. Ferry Andi sudah jadi orang tua sebelum menikah dan punya anak.

Meski pekerjaan itu tidak relevan dengan gelar sarjana hukum yang disandangnya, tapi beliau tetap semangat dan tak sedikitpun pernah mengeluh, apalagi merasa guncang.

Apapun pekerjaan yang diberikan berusaha dilaksanakan dengan maksimal. Tidak pernah membantah ataupun menolaknya.

Saat wafat, mushaf al Qur’an masih utuh di saku bajunya. Ketika dilihat batas akhir tilawahnya surat Al Baqarah lembar yang terdapat ayat 154:

{ وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَن یُقۡتَلُ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أَمۡوَ ٰ⁠تُۢۚ بَلۡ أَحۡیَاۤءࣱ وَلَـٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ }

“Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Sebenarnya (mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”

Semoga Allah memberikan pahala syahid dan masuk syurga tanpa hisab. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan hikmah dan pahala sabar.

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

SAR Hidayatullah Peserta Uji Kompetensi Water Rescue sebagai Potensi Basarnas Gorontalo

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) -- Lembaga Relawan Kemanusiaan Search and Rescue (SAR) Hidayatullah sebagai bagian dari potensi Badan Nasional Pencarian dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img