AdvertisementAdvertisement

Rahmat Afandi Kader yang Ramah

Content Partner

“SETELAH anak menantu dan cucu datang kumpul di rumah yang berada di Pesantren Hidayatullah Medan, kami sempat ngobrol dan bercanda 30 menit bersama Abah di rumah, lalu Abah keluar rumah untuk menyapu membersihkan halaman. Tiba-tiba jatuh telungkup lalu meninggal dunia”.

Demikian cerita Fathun Qorib, anak ketiga Ustadz Rahmat Afandi, sambil menangis sedih.

Beliau wafat dengan proses sangat cepat dan sederhana pada pukul 18.20 menjelang shalat Maghrib, 10 Syawal 1445/ 19 April 2024. Semoga menjadi pertanda bahwa beliau wafat dalam kondisi husnul khotimah. Perjalanan wafat yang mudah dan indah saat beramal shaleh.

Ustadz Rahmat Afandi, pria asli Cilacap, Jawa Tengah, ini bergabung di Hidayatullah karena diajak dan diarahkan oleh saudaranya yang bekerja di PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang yaitu Pak Toyo.

Saat bekerja di PKT, pak Toyo sering mengikuti pengajian dan menjadi binaan dari ustadz Usman Palese.

Maka, ketika pulang kampung, Pak Toyo menawarkan ke Rahmat Afandi untuk masuk Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.

Saat itu Rahmat Afandi baru lulus Aliyah di Cilacap. Tidak banyak pertimbangan, Rahmat langsung ikut dan bergabung di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak tahun 1990.

Nama aslinya Rahmat Basuki, setelah hijrah menjadi Rahmat Afandi. Meski masa awal menjadi santri di Gunung Tembak tidak mudah, tapi beliau bisa bertahan dan mengikuti proses perkaderan dengan baik.

Rahmat yang dikenal selalu ramah ini satu angkatan dengan Ustadz Sofyan Budi dan Ustadz Mustaqim Dalang. Keduanya telah wafat beberapa tahun lalu.

Keduanya juga menjadi teman akrabnya. Mereka dikenal tiga serangkai dan sama-sama setelah mengikuti Training Center (TC) mendapat amanah mengajar atau menjadi guru bujang di PDI (Pendidikan Dasar Islam) di Gunung Tembak atau setara dengan MI/SD.

Tahun 1994, Rahmat Afandi mengikuti pernikahan mubarakah 61 pasang yang dihadiri oleh Menristek saat itu yaitu BJ. Habibie di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

Beliau mendapatkan jodoh santri putri asal Samarinda yang bernama Aryati Fathonah.

Mengemban Amanah Dakwah

Setelah menikah, Ustadz Rahmat Afandi bersama istrinya tugas ke Pesantren Hidayatullah Tolitoli sambil menikmat suasana pengantin baru. Rahmat sempat beberapa tahun di Tolitoli hingga lahir anak pertamanya di sana yang bernama Fatih. Sekarang tugas dakwah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Berikutnya, Rahmat lanjut tugas turut merintis dari awal Pesantren Hidayatullah di Limboto, Gorontalo.

Cukup lama juga di sana hingga lahir anak ketiga yaitu Fathun Qorib yang sekarang tugas di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak. Tugas di Limboto cukup berat hingga beliau mulai sakit-sakitan.

Sempat almarhum pulang kampung. Tak lama, ia dipanggil oleh Ustadz Ali Hermawan sebagai Ketua DPW Hidayatullah Sumatera Utara ketika itu untuk tugas di Medan Sumatera Utara hingga sekarang.

Amanah terakhir Ustadz Rahmat sebagai anggota Dewan Murabbi Wilayah (DMW) Sumatera Utara dan Ketua Departemen Perkaderan Kampus Utama Hidayatullah Medan. Bahkan sebelum Ramadhan mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) perkaderan di Pusat Dakwah Hidayatullah DPP Hidayatullah.

Beliau wafat meninggalkan satu istri, 6 anak, dan 3 cucu. Padahal, hari esoknya atau Ahad, 21 April 2024, akan dilangsungkan pernikahan putrinya yang keempat yaitu Fauziyah dengan saudara Zulham.

Allah SWT membuktikan kekuasaan-Nya dengan mencabut nyawa Ustadz Rahmat Afandi dan mempertemukan jodoh putrinya. Sedih dan bahagia menyatu dalam suasana lebaran kali ini.

Selama hidupnya Rahmat dikenal oleh teman-teman dan orang yang mengenalnya sebagai ustadz yang ramah, sopan, dan tidak pernah terdengar nada tinggi. Penampilannya sederhana, tidak neko-neko, dan taat terhadap amanah apa saja yang diberikan.

Hidayatullah kehilangan kader-kader terbaik beberapa bulan terakhir ini. Sebelumnya Ustadz Abdullah Ihsan di Bali, Ustadz Muhammad Rusydi dan Ustadz Feri Andi di Lampung dan Ustadz Rahmat Afandi di Medan.

Semua bisa mengambil pelajaran dan teladan dari perjalanan para mujahid yang telah dipanggil duluan oleh Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan dberikan kesabaran dan hikmah yang besar. Aamin Yaa Rabbal Alamin.[]

*) Abdul Ghofar Hadi, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Indeks Berita Terbaru

SAR Hidayatullah Peserta Uji Kompetensi Water Rescue sebagai Potensi Basarnas Gorontalo

GORONTALO (Hidayatullah.or.id) -- Lembaga Relawan Kemanusiaan Search and Rescue (SAR) Hidayatullah sebagai bagian dari potensi Badan Nasional Pencarian dan...
- Advertisement -spot_img

Baca Terkait Lainnya

- Advertisement -spot_img