Masjid dan Tantangan Bonus Demografi Kita

Oleh Mazlis B. Mustafa*

HARI ITU, grup WhatsApp anak muda Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, diisi dengan perbincangan yang sangat intens tentang kemajuan desa. Dan berakhir pada suatu kesimpulan bahwa salah satu upaya meningkatkan kualitas manusia sekaligus pengembangan desa adalah dengan keaktifan pemuda di masjid.

Maka, di hari itu juga, sekelompok pemuda yang juga sarjana perguruan tinggi memulainya dengan mengisi kegiatan shalat berjamaah di masjid antara Maghrib dan Isya dengan pembelajaran keagamaan untuk anak-anak kecil yang ikut berjamaah.

Di antara materinya adalah belajar mengaji, kisah nabi-nabi dan ilmu-ilmu dasar agama. Dan ke depan, eksistensi mereka akan dilembagakan sebagai Pemuda Masjid desa.

Walaupun kelihatan sederhana, tetapi gerakan semacam ini, Pemuda (Back to) Masjid, memberikan secercah harapan bahwa di tengah kemelut zaman yang diperkaya dengan era teknologi 4.0 dan era disrupsi ini, masih ada anak muda yang peka terhadap pembinaan keagamaan yang merupakan salah satu pilar pembinaan sumber daya manusia yang berkualitas yang ditandai dengan pencapaian kecerdasan spiritual dan kepekaan sosial yang mapan.

Dapat kita bayangkan jika gerakan Pemuda back to Masjid dijalankan secara massif; mulai dari masjid-masjid desa hingga masjid agung, tentu ini menjadi program strategis yang hadir bagaikan setetes embun di tengah kehidupan dunia yang kian hari makin hedonis.

Program strategis ini bisa digerakkan secara bersama-sama oleh pemerintah (mulai dari tingkat desa sampai pusat), BKPRMI, DMI, OKP Islam seperti Pemuda Hidayatullah, Pemuda Muhammadiyah, GP Anshor, FK OKI, organisasi kemahasiswaan, Lembaga Dakwah Kampus, komunitas-komunitas umat Islam seperti Sahabat Hijrah, dan lain-lain. 

Masjid merupakan salah satu wadah strategis untuk menyelamatkan umat Islam khususnya generasi muda dari tantangan dan ancaman perubahan zaman yang semakin kompleks dan dinamis.

Masjid bagaikan perahu Nabi Nuh AS yang dipersiapkan untuk menyelamatkan umat Islam khususnya generasi harapan masa depan dari besarnya air bah dan gelombang dekadensi moral dan pergaulan bebas, narkoba dan tantangan sisi negatif kemajuan teknologi yang sewaktu waktu berada di tubir jurang.

Belajar dari fungsi masjid di era Rasulullah SAW, bahwa masjid bukanlah semata-mata untuk menjadi tempat sujud dan rukuk, tetapi juga menjadi tempat untuk menuntut ilmu, dan konsolidasi keummatan, tempat merawat orang sakit bahkan masjid juga menjadi tempat asrama bagi para penuntut ilmu.

Di era sekarang, kehadiran pemuda masjid diharapkan mampu membawa kegiatan masjid menjadi lebih makmur dan semarak. Masjid menjadi wadah berkumpulnya anak muda untuk mengkaji ilmu dari berbagai sudut pandang keilmuwan, peningkatan ilmu agama, diskusi tentang kemajuan dan praktik ekonomi keummatan, pusat pergerakan sosial kemanusiaan dan sosial kesehatan, mewujudkan perpustakaan digital dan gerakan literasi, dan berbagai macam peluang lainnya.

Pemuda Masjid yang mengakar di setiap masjid daerah hingga desa, merupakan sebuah jaringan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat (grass root) sehingga bisa menjadi sarana komunikasi efektif dan memiliki efek pengaruh (influencer).

Bahkan, di tengah-tengah ancaman wabah COVID-19 seperti sekarang, seharusnya pemuda masjid dapat berbuat banyak sebagai garda terdepan dalam rangka sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang cara terbaik menghadapi pandemic global ini. Kekuatan dan keluasan jaringan pemuda masjid juga sangat bermanfaat dalam menggalang bantuan sosial di saat bangsa dan daerahnya menghadapi musibah seperti ini.

Bangsa Indonesia sedang menghadapai peluang bonus demografi di mana penduduk dengan usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dibandingkan dengan usia tidak produktif (64 tahun ke atas). Menurut perkiraan The Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), pada periode 2030-2040 angka penduduk Indonesia mencapai 297 juta jiwa dengan 64% darinya adalah penduduk dengan usia produktif.

Menurut prediksi Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia, dengan data perkembangan sensus penduduk yang ada, di tahun 2020 angka penduduk Indonesia akan mencapai 271 juta jiwa. 47% dari total jumlah penduduk adalah penduduk dengan kelompok umur mulai dari 15 – 45 tahun yakni sebanyak 127.306.000 orang. Sedangkan penduduk Muslimnya berkisar di angka 263 juta jiwa (86,39%).

Dari angka-angka di atas, dapat kita pelajari jika jumlah 263 juta jiwa penduduk Indonesia beragama Islam, dengan perkiraan 47% darinya adalah Muslim yang berumur 15–45 tahun, maka kita memiliki 124.842.000 potensi Pemuda Islam.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, Pak Jusuf Kalla sebanyak 800.000 yang terdata; bahkan sampai angka satu juta, karena masih ada yang belum masuk data, artinya rasio pemuda dan masjid mencapai angka 125 berbanding 1 masjid. Ada potensi sebanyak 125 orang Pemuda Islam yang harusnya dapat memakmurkan dan menggerakkan kegiatan masjid.

Dari angka dan perbandingan di atas, maka wajar bila umat Islam menaruh harapan besar kepada generasi muda Islam untuk membawa perubahan besar dan kemajuan bangsa Indonesia melalui masjid.

Harapan ini tidak berlebihan dan menunjukkan betapa remaja dan pemuda masjid akan menjadi andalan sebagai garda tedepan pembangunan bangsa, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Wakil Ketua Umum DMI, H. Syafruddin berikut:

“Pemuda dan remaja masjid menjadi garda terdepan membentengi bangsa ini dengan berbagai kegiatan positif. Mengembangkan masjid sebagai pusat agama, pendidikan, ekonomi dan budaya,” ujar beliau saat membuka Silaturahim Nasional Pemuda Remaja Masjid Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. (Media Indonesia: 25/1)

Indonesia sebagai bangsa keempat terbesar di dunia, sangat berharap pemuda masjid dapat melahirkan pemimpin-pemimpin besar kelak yang akan membawa ini maju dan bermartabat. Pepatah Arab mengatakan:

شبان اليوم رجال الغد

Syubbanul yaum rijalul gadd– Artinya: ”Pemuda hari ini adalah pemimpin besok hari”.

Dengan kecerdasan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi di zaman ini yang dipadukan dengan kecerdasan spiritual, emosional dan empati sosial yang didapatkan selama berkiprah sebagai pemuda masjid, kita berharap ke depan akan lahir pemimpin-pemimpin muda sekaliber Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib radhiallahu anhumaa, Tariq Bin Ziyad, Usamah Bin Zaid, Salahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih.

Kepemimpinanya bukan saja mampu mebawa perubahan kepada bangsa Indonesia tetapi juga kemajuan dan kemenangan peradaban Islam sebagaimana yang diimpikan oleh semua umat Islam. Pemimpin yang bukan saja memimpin rakyatnya untuk kemashlahatan dunia, tetapi juga menjadi pemimpin yang membawa keselamatan di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam (Pemimpin) yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR. Bukhari Muslim)

Alhaqqu min rabbika falaa takunanna minal mumtariin

Wallahu musta’an

MAZLIS B MUSTAFA
Sekjen PP Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.