Jalan Seratus Tahun yang Tak Boleh Terjeda

Oleh: Mahladi Murni (Kabiro Humas DPP Hidayatullah)

Halaqoh sore itu belum saya tutup. Saya, sebagai koordinator halaqoh, masih memberi kesempatan kepada Ust Sholeh Usman, ketua Departemen Perkaderan DPP Hidayatullah, untuk memberi pelengkap kajian manhaj Sistematika Wahyu yang baru saja disampaikan oleh murobbi kami, Ust Nursyamsa Hadits. Waktu sudah menunjuk hampir pukul 5 sore.

Tetiba Ust Candra Kurnianto, sekjen DPP Hidayatullah yang juga anggota halaqoh kami, memberi kabar mengejutkan, “Ustadz Abdul Mannan sudah tiada.”

Ust Sholeh Usman spontan berteriak, “Ya Allah … ya Allah.” Ust Nursyamsa menutup mukanya dengan kedua tangannya seraya menyebutkan asma Allah. Ust Candra terduduk lemas di atas kursi. Mukanya memerah. Matanya basah. Isak tangis tiba-tiba membahana di ruang rapat Gedung Dakwah Hidayatullah lantai 2.

Saya juga tertunduk, tak kuasa pula membendung air mata ini. Beliau adalah guru, tokoh, pemimpin, sekaligus pemikir organisasi ini. Wafatnya beliau adalah kehilangan besar bagi Hidayatullah.

Ingatan saya langsung melayang kepada sebuah buku bertajuk Grand Design Hidayatullah 2021-2121. Buku hebat tentang Hidayatullah 100 tahun ke depan. Itulah karya terakhir beliau, buah pikir beliau untuk organisasi yang beliau rintis ini.

Tanggal 3 September 2020, materi buku itu sudah selesai. Di dalamnya tertulis gambaran tentang Hidayatullah satu abad ke depan serta upaya mewujudkannya. Beliau kemudian menelepon saya, meminta agar saya menemui beliau di Pesantren Hidayatullah, Depok, Jawa Barat.

Seperti biasa, setiap kali beliau memanggil saya, maka kami akan bertemu di Masjid Ummul Quro yang terletak di tengah-tengah pesantren Depok. Lalu, siang itu, beliau bercerita tentang materi buku itu. Kata beliau, jika kelak materi buku itu telah selesai diedit dan didesain menjadi buku, lalu diserahkan kepada Pemimpin Umum Hidayatullah, Ust Abdurrahman Muhammad, maka tuntaslah tugas beliau.

Masya Allah, meskipun ketika itu beliau mulai sakit-sakitan, namun beliau masih memikirkan Hidayatullah. Saya membayangkan bagaimana beliau melewati malam-malam dengan sholat lail yang tak pernah beliau tinggalkan, lalu merangkai huruf demi huruf sehingga menjadi materi buku itu.

Sebenarnya, menulis buku bukan sekali ini beliau lakukan. Jauh sebelumnya, beliau pernah menulis buku tentang peradaban Islam. Beliau juga memanggil saya ketika materi buku itu sudah selesai. “Pak Mahladi, tolong edit materi buku ini. Buat menjadi cair, sehingga enak dibaca,” kata beliau ketika itu.

“Tidak ustadz! Saya tidak berani mengubah gaya tulisan ustadz yang khas. Saya hanya akan mengedit kesalahan tulis saja,” jawab saya ketika itu.

Beliau tercenung, lalu mengangguk. “Ya, antum benar,” kata beliau.

Sejak itu, saya sering diminta untuk mengedit buku-buku beliau, hingga buku terakhir itu.

Akhir Januari 2021, buku Grand Desain Hidayatullah telah rampung. Saya melihat raut wajah beliau sumringah ketika menimang-nimang buku itu. Besok, kata beliau, buku itu akan beliau serahkan kepada Ust Abdurrahman Muhammad, pemimpin tertinggi Hidayatullah, di Gunung Tembak, Kalimantan Timur.

Kembali kepada kisah halaqoh yang terjeda setelah mendapat berita duka. Semua terdiam dan larut dalam suasana duka. Ust Sholeh Usman mengajak seluruh anggota halaqoh untuk mengangkat tangannya lalu beliau melantunkan doa dengan khusuk.

“Ya Allah, eratkan ukhuwah kami, dan bantulah kami berjuang menegakkan agama-Mu …” begitulah petikan doa Ust Sholeh Usman dengan suara terbata-bata dan diamini oleh seluruh peserta halaqoh.

Doa itu seakan menegaskan bahwa Hidayatullah 100 tahun ke depan sebagaimana diimpikan oleh Ust Abdul Mannan allahuyarham serta seluruh kader Hidayatullah akan sulit terwujud manakala ukhuwah tidak dijaga. Begitu juga jalan menuju impian itu tak akan mudah dilalui tanpa pertolongan Allah Taala.

Selamat jalan guru kami. Semoga Allah Ta’ala menguatkan langkah-langkah kami untuk meniti jalan 100 tahun yang telah engkau tinggalkan kepada pemimpin-pemimpin kami. Aamiin ya Rab *