Putra Haji Darman Penghibah Tanah Kampus Induk Wafat, Warga Hidayatullah Berduka

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) – Awan duka kembali menghampiri warga Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Bukan karena curah hujan yang kerap mengguyur langit Balikpapan. Tetapi atas kepergian Rusani bin Haji Darman (73 tahun) yang meninggal dunia di rumah duka di bilangan Ambalat (Amborawang Laut), Kab. Kutai Kartanegara, Selasa (15/11/2022).

Kini sosok penyabar itu telah tiada. Demikian warga Hidayatullah Gunung Tembak mengenal Rusani bin Haji Darman (73 tahun). Mungkin tak banyak yang mengenalnya. Sehari-hari dalam hidupnya ia juga bukan “siapa-siapa”. Pekerjaannya “cuma” tukang kebun untuk menafkahi keluarganya.

Namun di balik kesederhanaan itu, Pak Rusani demikian sapaannya, adalah saksi atas kedermawanan kedua orang tuanya dahulu. Sayudi, Rusani, Rusmi, Syai’in, Rudian, dan Masamah, mereka tak lain adalah putra-putri pasangan Haji Darman dan Hajjah Marliyah, tokoh istimewa yang menghibahkan tanah seluas 5,4 hektare yang kelak menjadi cikal bakal lokasi awal perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah.

Diceritakan, dulunya tanah bersejarah itu bekas tempat pembakaran batu bata. Namun begitu Wali Kota Balikpapan Asnawie Arbain memberitahu bahwa di lokasi akan dibangun pesantren, Haji Darman yang saat itu menjadi Ketua RT. 08 tiba-tiba menangis.

“Sudah dua tahun lamanya, saya pernah bermimpi didatangi orang-orang berpakaian putih dengan muka yang bercahaya. Sejak itu saya tidak pernah makan nasi. Saya hanya makan buah-buahan dan minum air putih. Saya juga tidak tahu mengapa saya berbuat demikian. Hanya dalam hati saya ada perasaan bahwa pasti ini kebaikan yang akan muncul di tempat ini,” ujarnya.

Atas arahan KH Abdullah Said Rahimahullah ,Pendiri Hidayatullah, sejumlah santri memang disebar untuk mencari lokasi perintisan Pondok Pesantren Hidayatullah. Seperti diketahui, Kiai Abdullah Said dan para sahabatnya telah berpindah-pindah tempat di Kota Balikpapan. Dari Gunung Sari ke Karang Rejo, setelah itu pindah lagi ke Karang Bugis.

Singkat cerita, takdir Allah, melalui perantara Wali Kota Balikpapan, mereka dipertemukan dengan sosok dermawan, Haji Darman yang menghibahkan tanahnya di Gunung Tembak, di ujung timur Balikpapan. Itulah cikal bakal kampus Hidayatullah Gunung Tembak yang telah melahirkan ribuan dai yang menyebar ke seluruh penjuru negeri.

Tak heran, ratusan warga Gunung Tembak tumpah memadati Masjid Ar-Riyadh, Balikpapan di hari wafatnya Pak Rusani. Para santri mendapat kehormatan menunaikan shalat jenazah dan mengiringi pemakaman Pak Rusani, putra kedua dari Haji Darman. Mereka adalah tokoh dermawan tidak hanya dicintai oleh keluarganya tapi juga begitu dihormati oleh seluruh warga dan santri Pondok Pesantren Hidayatullah.

Mewakili Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah (YPPH) Balikpapan, Ustadz Hamzah Akbar menyatakan “kecemburuannya” secara langsung sekaligus mendoakan almarhum mendapatkan pahala jariyah yang mengalir tanpa pernah putus.

“Bahwa insyaAllah almarhum menjadi bagian jariyah atau amal tidak akan putus. Kita semua layak iri hati. Sebab ketika amal orang yang meninggal itu putus, tetapi pahala jariyah itu tetap berlanjut,” ucap Ustadz Hamzah di rumah duka, pagi itu.

Dijelaskan secara ringkas, bahwa amal jariyah yang dimaksud ilmu yang bermanfaat, dpa anak shaleh, dan kebaikan yang pahalanya terus mengalir.

“Semakin banyak kebaikan di Masjid Ar-Riyadh, semakin banyak yang shalat, baca Qur’an, berzikir di masjid maka semakin bertambah pula kebaikan yang didapat oleh Haji Darman dan seluruh anak keturunannya,” tutupnya mendoakan.* (Abu Jaulah/MCU)