Capai Keseimbangan Hidup Dunia dan Akhirat dengan Dakwah yang Membangun

JAKARTA (Hidayatullah.or.id) – Untuk mencapai keseimbangan dunia dan akhirat, seorang muslim selain harus maju dalam agama dan akhlaknya, juga harus maju dalam perekonomiannya. Oleh karena itu, diperlukan dakwah yang mengajak umat muslim mencapai keseimbangan tersebut.

“Masyarakat [muslim] bukan hanya rajin ke masjid, tapi perlu rajin ke pasar juga untuk berusaha, rajin ke perdagangan, karena barulah seimbang kehidupan di dunia dan akhirat. Apabila tidak seimbang, maka terjadilah ketidakadilan, dan apabila terjadi ketidakadilan, maka terjadilah perbedaan-perbedaan pandangan, serta konflik. Dengan kemajuan agamanya, kemajuan ekonominya, kemajuan moralnya, barulah kita mencapai tujuan daripada dakwah,” ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla ketika menghadiri acara Peresmian Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah Cipinang Cimpedak, Jakarta Timur, Jumat (11/10/2019).

Wapres mengakui, berdakwah bukanlah perkara mudah karena harus berisi hal-hal yang membangun, seperti membangun perekonomian Islam. Sehingga, banyak pengusaha yang tergerak hatinya dalam memajukan masyarakat muslim.

“Jadi bagaimana kita memulai suatu kemajuan di dunia dan di akhirat, artinya adalah kita masih untung, Alhamdulillah, bisa terbangun karena ada pengusaha-pengusaha yang membantu, disamping tentunya seluruh jamaah. Maka, untuk mencapai kemajuan dunia Islam di negeri ini, haruslah lebih banyak para pengusaha, karena salah satu kekurangan kita ialah ekonomi. Kalau kemampuan ekonomi kurang, bagaimana membayar zakat bisa banyak? Jadi muzakki (pembayar zakat)-nya yang banyak, mustahik (penerima zakat)-nya kurang. Jadi harus seperti itu. Jadi dakwah itu dakwah yang membangun,” tegasnya.

Wapres mengungkapkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Pusat Dakwah Hidayatullah bekerja sama dengan organisasi Islam lainnya, di antaranya Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) di Makassar. Dakwah yang disampaikanpun menggambarkan dakwah yang luar biasa, penuh kedamaian, membangun harapan, meningkatkan keimanan, serta menciptakan persaudaraan.

Menyinggung peristiwa yang terjadi di Indonesia dalam sebulan terakhir, Wapres menekankan agar dakwah dapat menjadi media yang menenangkan dan memberikan kedamaian.

Ia kemudian mencontohkan, ketika terjadi masalah di Papua, masyarakat diharapkan memberikan solidaritas untuk menjaga perdamaian di sana, karena tanpa perdamaian, masyarakat tidak dapat bersatu.

Melalui dakwah, ia berharap selain konten tentang bagaimana meningkatkan keimanan, konten tentang perdamaian, wasatiyah (jalan tengah) dan moderasi juga dapat digaungkan.

“Itulah yang kita harapkan dalam setiap dakwah, mengajarkan masyarakat ke jalan yang lebih baik, memajukan masyarakat yang makmur,” pesannya.

Mengakhiri sambutannya, Wapres mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kontribusi yang diberikan Pusat Dakwah Hidayatullah dan Masjid Baitul Karim untuk memajukan dakwah dan dunia Islam di Indonesia.

“Semoga semua mendapat hidayah dari Allah SWT,” pungkasnya.

Sebelumnya Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq melaporkan bahwa pembangunan Masjid Baitul Karim dan Pusat Dakwah Hidayatullah relatif singkat, karena dapat diselesaikan dalam kurun waktu 1 tahun dengan biaya Rp 14 Miliar berasal dari swadaya masyarakat, infaq jamaah dan sumbangan para donatur.

“Masjid Baitul Karim adalah masjid berkapasitas sekitar 400 jamaah yang terdapat di lantai 1. Sedangkan Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah ini terdapat ruang pertemuan, ruang pelatihan, tempat menginap para dai, dan ruang produksi konten-konten publikasi untuk sarana dakwah,” jelasnya.

Menurut Nashirul, gedung ini akan difungsikan untuk kegiatan dakwah, seperti belajar dan mengajar Alquran, pelayanan konsultasi keluarga, kajian keislaman, pelatihan para dai, dan tempat pertemuan para tokoh Islam guna membicarakan solusi atas persoalan umat.

Ia menambahkan, Pusat Dakwah Hidayatullah telah menetapkan kegiatan dakwah dan pendidikan sebagai program arus utama organisasi. Program dakwah dilakukan oleh para dai yang tersebar di 352 Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah, sedang program pendidikan telah dijalankan oleh seluruh penyelenggara pendidikan Hidayatullah, dari tingkat SD hingga perguruan tinggi.

Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua MPR Bambang Soesatyo, Walikota Jakarta Timur M. Anwar, Pimpinan Umum Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, Ketua DPPUH KH DR Abdul Mannan, Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Nashirul Haq, perwakilan keluarga besar pewakaf Haji Abdul Karim Loebis, sesepuh Hidayatullah H. Susilo dan H. Fuad Hasan Masyhur, para ulama dan tokoh masyarakat, serta seluruh ketua DPW Hidayatullah dari 34 provinsi di Indonesia.

Sementara Wapres didampingi Kepala Sekretariat Wapres Mohamad Oemar, Deputi Bidang Dukungan Kebijakan Pembangunan Manusia dan Pemerataan Pembangunan Bambang Widianto, Staf Khusus Wapres Bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin serta Staf Khusus Wapres Bidang Penanggulangan Kemiskinan dan Otonomi Daerah (YZ/AF/SK-KIP, Setwapres).

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.