Kontribusi Swalayan as-Sakinah Bangun Ekonomi Ummat

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) —Supermarket dengan corak bangunan berkelir hijau dominan yang berada di Jalan Arif Rahman Hakim, No. 32, Surabaya, Jawa Timur itu tak pernah sepi pengunjung.

Saban hari, tempat parkir mobil dan sepeda motor selalu penuh. Para pengunjung datang pergi, silih berganti. Apalagi setelah gajian, dapat dipastikan terjadi antrean yang cukup panjang di setiap kasir.

Adalah supermarket As-Sakinah, yang merupakan salah satu unit usaha Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren) Hidayatullah As-Sakinah Surabaya.

Ketua Kopontren Hidayatullah As-Sakinah Surabaya, Muhammad Ali mengatakan, supermarket As-Sakinah bermula dari kegiatan usaha koperasi yang dirintis tahun 1991. Pertama kali yang dilakukan oleh pengurus yaitu, kegiatan usaha menyuplai kebutuhan bahan pokok (sembako) masyarakat sekitar seperti beras, gula, minyak goreng, dan lainnya.

“Khususnya bagi anggota (koperasi) dan kepada donatur serta simpatisan pondok pesantren pada umumnya,” imbuh Ali, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan hidayatullah.com di Distribution Center (DC) Kopontren As-Sakinah, Jalan Keputih Tegal, No. 100-103, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Setelah berjalan kurang lebih selama 3 tahun, Ali melanjutkan, pada tahun 1993, pengurus mendirikan minimarket dengan luas 200 meter persegi. Lalu, melakukan perluasan lahan menjadi 500 meter persegi pada tahun 2000. “Nah, tempat usaha inilah yang menjadi cikal bakal berkembangnya supermarket As-Sakinah,” ujarnya.

Saat ini, supermarket As-Sakinah (Pusat) berdiri di atas lahan seluas 2.500 meter persegi, di mana 1.500 meter persegi dibangun untuk gedung 2 lantai dan sisanya dimanfaatkan sebagai tempat parkir untuk karyawan maupun para pengunjung.

Per Juni 2019, supermarket yang menjadi tempat berbelanja favorit mahasiswa serta masyarakat di sekitar Kampus Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya ini punya cabang sebanyak 20 ritel modern syariah (minimarket) yang tersebar di beberapa wilayah Jawa Timur.

Mengurangi Tingkat Pengangguran

Bukan tanpa alasan, pengelola Kopontren Hidayatullah As-Sakinah gencar dalam membangun serta mengembangkan puluhan ritel modern syariah dengan skema mandiri dan kemitraan. Bahkan untuk menyuplai segala kebutuhan produk untuk seluruh ritel, kopontren membangun gedung sebagai pusat distribusi (DC).

“Sebagaimana visi para pengurus (kopontren), lewat jaringan ritel modern syariah ini, kami ingin ikut berperan dalam pembangunan ekonomi umat,” tambahnya.

Menurut Ali, ketika perekonomian umat terbangun secara kuat dan kokoh, maka kesejahteraan bangsa juga akan dengan mudah diwujudkan. Karena itu, pengurus berikhtiar untuk terus mengembangkan ritel-ritel modern syariah sebagai sebuah kontribusi dalam mewujudkan kesejahteraan, khususnya bagi masyarakat sekitar.

“Saat ini, ritel-ritel (minimarket) kami sudah tersebar di Surabaya, Malang, Gresik, Lamongan, dan Kediri,” bebernya merinci.

Ali mengatakan, sejauh ini kehadiran supermarket dan ritel-ritel modern syariah Kopontren Hidayatullah As-Sakinah, mendatangkan banyak maslahat (kebaikan) dan memberi manfaat kepada masyarakat sekitar seperti terpenuhinya beragam kebutuhan mereka dengan harga murah dan terjangkau.

“Kami memang mengambil keuntungan sangat kecil untuk setiap produk sehingga harganya murah. Karena, segmen pasar yang kita bidik masyarakat menengah ke bawah,” jelasnya.

Seorang pengunjung supermarket As-Sakinah, Maflihatul Azma Afifah, mengaku senang dan merasa nyaman ketika berbelanja di supermarket As-Sakinah karena pelayanan yang baik serta kebersihan lingkungan yang senantiasa terjaga.

“Tempat parkirnya juga luas dan gratis,” imbuh wanita yang akrab disapa Icha ini ketika ditemui hidayatullah.com, di supermarket As-Sakinah, akhir Oktober lalu.

Yang menarik, Icha mengatakan, harga produk yang ditawarkan supermarket As-Sakinah lumayan miring, alias murah. Karena itu, ia rela jauh-jauh serta berpanas-panasan mengendarai sepeda motor dari Manyar Sabrangan ke supermarket As-Sakinah, hanya untuk membeli sampo serta sabun mandi, pada siang itu.

“Saya sengaja ke sini untuk belanja. Bukan karena lewat lalu singgah. Ketika masih kuliah, saya sering belanja di sini,” ujar Icha, yang baru menyelesaikan studinya di Universitas Hangtuah Surabaya tahun kemarin.

Icha berharap, ke depan pengelola Kopontren Hidayatullah As-Sakinah membuka cabang supermarket As-Sakinah, tidak hanya di wilayah Jawa Timur, tetapi juga di seluruh Indonesia, agar kebermanfaatannya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Hadirnya supermarket As-Sakinah, Ali menambahkan, juga memiliki peran penting dalam mengurangi tingkat pengangguran, lewat penyerapan tenaga kerja/Sumber Daya Manusia (SDM)—yang direkrut menjadi karyawan sebagai pelaksana seluruh aktivitas usaha kopontren.

Untuk menjadi karyawan khususnya pramuniaga dan bagian gudang pada ketiga divisi itu, pengurus pun tidak menuntut persyaratan yang rumit. Minimal lulusan SMA atau sederajat, bisa membaca al-Qur’an, ibadah shalatnya bagus, serta siap untuk belajar. “InsyaAllah diterima dan tentu menyesuaikan kebutuhan,” ujarnya.

Muhammad Iqbal, salah satu pramuniaga supermarket As-sakinah membenarkan, bahwa persyaratan untuk masuk menjadi karyawan tidak rumit. Hanya saja, lanjut pria yang akrab disapa Iqbal ini, ada tambahan persyaratan yang berbeda dengan lamaran kerja pada umumnya.

“Dites ngaji al-Qur’an, bisa atau enggak. Terus siap mengikuti majelis taklim enggak. Karena setiap bulan sekali ada majelis taklim. Dan sepekan sekali juga ada halaqah al-Qur’an. Nah, di situlah nantinya kita dituntut untuk siap belajar,” terangnya.

Bagi alumnus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Gresik, Jawa Timur ini, hal itu tentu tidak menjadi persoalan. Justru, ia mengaku senang dan bahagia dapat bekerja di supermarket As-Sakinah selama kurang lebih 3 tahunan. Selain kecukupan materi, pria asli Lamongan ini mengaku kebutuhan ruhaninya juga terpenuhi dengan baik.

“Saya merasakan langsung, sebelum kerja di supermarket Sakinah, saya bekerja di food court gitu, ibadah itu terbatasi. Hari raya juga enggak dapat cuti,” kenangnya.

Kini, jumlah total karyawan mulai dari supermarket, ritel, gudang (DC), staf kantor dan Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH) mencapai sekitar 300-an orang. Dan uniknya, seluruh karyawannya adalah pria. Kenapa?

Ali menjelaskan, hal itu sebagai bentuk kehatian-hatian dari pengelola kopontren supaya tidak terjadi ikhtilat (berbaur antara pria dan wanita, tanpa ada batas yang memisahkan antara keduanya) dalam bekerja.

Meningkatkan Pendapatan Anggota

Setelah usaha ritel modern syariahnya mengalami peningkatan penjualan karena optimalisasi kinerja dan berbagai terobosan, tahun 2013, Kopontren Hidayatullah As-Sakinah pun menjajaki bisnis baru yaitu Unit Simpan Pinjam serta Pembiayaan Syariah (USPPS) yang lebih dikenal dengan nama Baitul Tamwil Hidayatullah (BTH).

Manager BTH Kopontren As-Sakinah, Muhammad Daud mengatakan usaha USPPS dirintis karena dinilai memiliki potensi bisnis yang cukup besar. Serta kepercayaan anggota untuk berinvestasi pada usaha ini sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan persentasi pertumbuhan dana simpanan.

“Tahun 2017, USPPS menyalurkan pembiayaan sebesar 3,6 miliar kepada anggota koperasi,” kata Daud, sapaan akrabnya, saat berbincang dengan hidayatullah.com akhir Oktober lalu.

Menurut Daud, anggota adalah sumber daya utama bagi koperasi, sebagai pemilik serta pengguna jasa yang memainkan peran penting di dalam koperasi. Sebab itu, melalui rangkaian perbaikan tata kelola, pengurus BTH menargetkan penambahan jumlah anggota, dari total saat ini sebanyak 472 menjadi 1.000 orang.

Bagi anggota, Daud melanjutkan, kehadiran kopontren tentu dapat meningkatkan pendapatan, sebagaimana manfaat dari dibentuknya koperasi. Selain memberikan kontribusi ke masyarakat, koperasi punya peran penting dalam mensejahterakan anggotanya. “Ini yang menjadi skala prioritas pengelola Kopontren As-Sakinah,” tegas Daud mantap.

Sukarno, warga Keputih Timur mengaku sangat terbantu dengan menjadi anggota BTH Kopontren Hidayatullah As-Sakinah. Selain untuk meningkatkan pendapatan, sebagai seorang pelaku usaha voucher pulsa, ia mendapat kemudahan setiap kali mengajukan pinjaman ke BTH.

“Terakhir saya pinjam 25 juta untuk tambahan modal usaha,” jelas Sukarno yang menjadi anggota BTH sejak 2016 ini, ketika berbincang dengan hidayatullah.com di kantor BTH Kopontren Hidayatullah as-Sakinah, akhir Oktober lalu.

Kopontren yang memperoleh penghargaan sebagai Koperasi Berprestasi 2018 dari Kementerian Koperasi dan UKM ini, mengalami pertumbuhan kinerja yang sangat baik dari sisi aset, omzet, dan laba. Tahun 2017, pertumbuhan laba bersih naik 16 persen, asetnya meningkat 22 persen, kemudian omzetnya naik 25 persen.

Masih pada tahun yang sama, Kopontren Hidayatullah As-Sakinah mendapat Sisa Hasil Usaha (SHU) yang cukup besar. Sebagian dibagikan ke anggota, sebagian lagi diperuntukan sebagai cadangan, dana sosial, pendidikan, dan lainnya. “Dari tahun ke tahun, Kopontren As-Sakinah terus membukukan SHU yang terus bertumbuh,” tutupnya.*/Achmad Fazeri

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.