Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran

DALAM sebuah diskusi terbatas seputar pendidikan, seorang narasumber dari kalangan Widyaiswara(*) Jawa Timur ditanya, “Apa ciri khas paling mendasar dari Kurikulum 2013, yang membedakannya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya?” Dengan lugas beliau menjawab, “Pendekatan saintifik dalam pembelajaran.” Hadirin pun manggut-manggut. Memang, tidak ada yang aneh di sini. Tetapi, apakah sebenarnya “pendekatan saintifik” itu?

Di lain kesempatan, cendekiawan muslim dan ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi pernah ditanya, “Apa sebenarnya inti dari worldview (pandangan hidup) Barat yang menjadi ciri khas mereka?” Beliau menjawab, “Pandangan hidup keilmuan (saintific worldview). Artinya, cara pandang terhadap alam ini melulu saintifik dan tidak lagi religius … Hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara saintifik atau secara empiris tidak dapat diterima, termasuk metafisika dan teologi. Maka di zaman Barat modern, sains dipisahkan dari agama … Ciri dari worldview yang saintifik itu tercermin dari berkembangnya paham-paham seperti empirisisme, rasionalisme, dualisme atau dikotomi, sekularisme, desakralisasi, pragmatisme, dsb. Paham-paham itu semua otomatis meminggirkan (memarginalkan) agama dari peradaban Barat.” (MISYKAT, 2012:87).

Dua pernyataan di atas menggiring kita pada satu kesimpulan, bahwa di tengah hiruk-pikuk penerapan dan sosialisasi Kurikulum 2013, sebetulnya masih ada isu-isu ideologis yang harus dikritisi.

Selama ini lebih banyak orang yang sibuk mempersoalkan bagaimana penerapannya atau seperti apa buku ajar dan perangkat pembelajarannya, seolah-olah kurikulum ini aman, sudah diterima tanpa perdebatan, dan tidak mengandung cacat bawaan. Padahal, bangunan kurikulum ini akan memahat hati dan pikiran anak-anak kita.

Apa yang mereka serap saat ini, di seluruh level pendidikan yang mereka lalui, pada kenyataannya akan menjadi cara pandang mereka terhadap seluruh realitas yang ada. Efeknya memang tidak segera terlihat, namun pasti muncul dalam 10, 20, sampai 30 tahun mendatang. Mestinya kita tidak latah dan sembrono dalam persoalan segawat ini.

Entah disengaja atau tidak, sebetulnya desain kurikulum baru ini ibarat merakit bom waktu, khususnya bagi umat Islam. Rupa-rupanya, peminggiran agama dan nilai-nilai religius dari masyarakat atau sekularisasi, masih terus berlanjut. Ini adalah proyek Westernisasi (pem-Barat-an), dalam modus yang lebih halus dan sangat canggih.

Bahaya pendekatan saintifik terletak pada asumsi materialistiknya yang menolak hal-hal gaib atau metafisika, karena tidak empiris dan tidak bisa dibuktikan menurut “ilmu pengetahuan”. Malaikat, setan, ruh, pahala, dosa, surga, neraka, wahyu, adalah sebagian kecil dari konsep dan fakta metafisika Islam yang pasti digugat.

Jika metafisika pun diotak-atik, maka kita tidak bisa lagi merasa aman terhadap masa depan keyakinan anak-anak kita. Bukankah seluruh Rukun Iman adalah perkara-perkara metafisika?

Sebenarnya, iman tidak berseberangan dengan ilmu pengetahuan. Menjadi mukmin yang baik tidak identik dengan anti-sains. Islam pun tidak mendikotomi agama dengan sains. Ajarannya berpijak di atas prinsip-prinsip tauhid yang menyeluruh. Alam semesta disebut juga sebagai ayat-ayat atau tanda-tanda Allah.

Masalahnya adalah terletak pada “pendekatan saintifik” itu, sebab ia adalah perangkat berpikir yang mempunyai latar belakang sejarah, asumsi, pola, dan tujuannya sendiri. Sebagai muslim, mengadopsi sebuah metodologi, paradigma, atau pendekatan khas Barat seperti ini pasti memiliki resiko-resiko yang tidak sepele.

Ini bukan tulisan paranoid, sebab desain Kurikulum 2013 – dalam konteks ini – memang bisa membuat kita khawatir. Misalnya, dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL) – pada domain sikap (afektif) – dinyatakan bahwa kurikulum ini diharapkan bisa membentuk manusia Indonesia yang beriman, berakhlak mulia (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun), serta memiliki rasa ingin tahu, estetika, percaya diri, dan motivasi internal. Tapi anehnya tidak ada pendukung yang relevan dengan tujuan ini pada domain pengetahuan (kognitif)nya. Sebab, ternyata obyek pengetahuan yang dipelajari adalah sains, teknologi, seni, dan budaya.

Kita pun bertanya-tanya: dari mana munculnya keimanan bila tanpa agama? Adakah akhlak mulia yang minus wahyu dan kenabian? Apa standar yang dipergunakan? Jawabannya jelas tidak terletak pada sains dan teknologi, apalagi seni dan budaya. Tampaknya, definisi sesuatu yang sangat mendasar (seperti iman dan akhlak) sengaja dibiarkan mengambang, dan inilah ciri khas filsafat Relativisme yang diagungkan kaum Liberalis dan Pluralis.

Menurut mereka, tidak ada kebenaran dan kebaikan yang mutlak, sehingga tidak boleh ada standar yang dibakukan. Contoh lain adalah estetika, yang jelas akan kacau-balau bila diserahkan kepada kriteria seni dan budaya. Pengalaman mengajarkan bahwa sesuatu yang dikecam sebagai pornografi oleh agama, seringkali dianggap sebagai keindahan oleh seni dan kewajaran dalam budaya. Tampaknya, ini bisa dimaknai sebagai ekspansi bahkan agresi paham Relativisme ke dalam dunia pendidikan kita, khususnya kaum muslimin.

Alhasil, komponen “beriman dan berakhlak mulia” dalam SKL tersebut menjadi janggal dan terkesan dipaksakan. Hanya ditempel begitu saja, tanpa dasar berpijak yang nyata. Berbicara tentang iman dan akhlak mulia namun bersikukuh memakai paradigma saintifik adalah pernyataan yang absurd.

Bermimpi menciptakan generasi beriman dan berakhlak mulia namun menggunakan kacamata relativistik pun merupakan gagasan yang mustahil. Ingin beriman dan berakhlak mulia tetapi sejak langkah pertama sudah menapak di atas jalan pengingkaran terhadap Tuhan dan agama. Wallahu a’lam.

ALIMIN MUKHTAR

Note:
(*) Widyaiswara: guru; jabatan fungsional yang diberikan kepada pegawai negeri sipil dengan tugas mendidik, mengajar dan/atau melatih secara penuh pada unit pendidikan dan pelatihan dari instansi pemerintah (KBBI).

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.