Kejarlah Apa yang Dicitakan Namun Tetaplah Menjadi Dai

DELI SERDANG (Hidayatullah.or.id) — Setiap kita harus bersungguh-sungguh dalam meraih impian yang dicita-citakan. Dengan semangat, kesungguhan, keuletan, ketelatenan dan kesabaran yang tidak pernah padam, maka yang diimpikan akan membuahkan barokah. Namun, apapun capaian yang berhasil diraih, harus tetap meneguhkan diri kita sebagai seorang dai.

Demikian disampaikan Anggota Dewan Pertimbangan Hidayatullah Ust Hamim Thohari ketika mengisi taushiyah shubuh di Masjid Al Akbar Pondok Pesantren Hidayatullah Medan disela sela Musyawarah Wilayah (Muswil) Hidayatullah Sumatera Utara (Sumut) yang digelar 5-6 Desember 2020.

“Silahkan para santri punya cita-cita apa saja, mau jadi dokter, jadi insinyur, menjadi polisi, menjadi pengusaha, tapi satu hal yang perlu diketahui, diingat dan dipahami bahwa karir dan prosesi termulia dalam pandang Allah adalah menjadi dai, menjadi juru dakwah,” kata Ust Hamim seraya menukil firman Allah Subhanahu Wa Ta’aladalam Al Qur’an surah Fussilat (41) ayat Ayat 33:

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَاۤ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَا لِحًا وَّقَا لَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)”

Beliau menekankan, untuk menjadi manusia terbaik, menjadi manusia terhebat dan terunggul tiada cara lain kecuali menjadi dai.

“Dan, di sinilah, di tempat ini, di kampus utama Hidayatullah Medan ini, para santri dilatih, digembleng dan dibina untuk menjadi kader mujahid dakwah,” imbuhnya.

Hamim menerangkan, menjadi dai adalah menjadi manusia pilihan Allah. Dan menjadi manusia pilihan Allah seharusnya menjadi pilihan kita semua. Hanya lewat dan melalui dakwah, maka Islam ini bisa sampai ke seluruh penjuru bumi.

“Bermula dari Jazirah Arab kemudian tersebar dan tersiar ke seluruh penjuru dunia, sampai ke Indoseia, bahkan sampai ke pelosok di tempat dimana kita tinggal dan hidup. Kita semua harus menyiapkan diri untuk menjadi mujahid dakwah,” katanya berpesan.

Beliau menambahkan, di semua daerah di tempat kita bertugas harus tersedia tempat untuk menjadi pintu dakwah sehingga Islam ini bisa jaya dibumi nusantara ini. Dia menamsilkan, kalau ada santri ditanya oleh orangtuanya: “Apa cita-citamu, nak?” Kemudian jawabannya adalah: “Aku ingin menjadi mujahid dakwah yang akan bertugas ke penjuru bumi”, maka itu adalah jawaban yang sangat keren.

“Santri Hidayatullah harus siap untuk tugas dakwah sampai keluar negeri. Sebab sekarang ini perwakilan Hidayatullah di Mesir sudah dibuka. Siapa saja sekarang ini bisa menjadi ilmuwan dan berangkat ke Mesir. Dan kita bisa ke Eropa, pintu sudah dibuka,” ungkapnya.

Diutarakannya, saat ini sudah terbuka kesempatan bagi santri untuk belajar ke luar negeri. Hamim mengaku sangat yakin 10 tahun yang akan datang Hidayatullah akan menyebarkan dakwah sampai keluar negeri.

“Dari Istanbul kita masuk ke Eropa. Istanbul akan menjadi pintu masuk ke Eropa. Kita sudah punya jaringan di Istanbul. Allah siapkan bumi dan langit ini untuk kita. Allah akan tundukkan semua untuk kita. Dan jalan yang paling mudah untuk memasuki Eropa adalah melalui jalan dakwah,” imbuhnya mantap.

Dia menyampaikan Kampus Utama Hidayatullah Medan akan menjadi “menara air”, bukan “menara gading”. Menara air akan memberi manfaat ke semua penjuru, sedang menara gading hanya besar dan indah dipandang oleh orang, tetapi tidak memberi manfaat apa apa.

“Kampus Utama Hidayatullah Medan ini akan menjadi pusat peradaban, pusat kebaikan, pusat gerakan dakwah. Alhamdulillah masjidnya sudah indah, maka harus dihadirkan muadzin yang suaranya indah untuk memanggil umat untuk berjamaah. Allah itu Maha Indah mencintai keindahan,” kata dia.

Maka sebab itu, ia menegaskan, kita harus jaga keindahan kampus ini. Tanaman-tanamannya dan tamannya harus dijaga keindahannya. Harus selalu dan senantiasa dihadirkan keindahan di sini di tempat ini.

“Shalat berjamaah adalah pemandangan yang paling indah. Oleh karena itu, jangan sampai rusak keindahan shalat berjamaah ini karena ada yang santri yang ngantuk. Kader harus semangat. Tidak pengantukan,” katanya berseloroh seraya menutup taushianya.(cam/ybh)