Bercermin Pada Madrasah Ramadhan

ALHAMDULILLAH ‘ala kulli hal. Di era pandemi ini, atas izin dan pertolongan Allah SWT kita semua bergembira akan dihampiri tamu agung bulan Ramadhan.

Kita sudah memasuki bulan Rajab, disamping kita dipersegar ingatan kita tentang peristiwa isra dan mikraj yang menghasilkan kewajiban shalat, dua bulan lagi akan dipertemukan dengan bulan mulia tersebut.

Bulan yang dirindukan kehadirannya oleh orang-orang shalih. Kita tidak tahu, sudah berapa kali kita berpuasa sepanjang hayat kita? Apakah puasa demi puasa yang kita lakukan secara rutin hanya sebatas rutinitas belaka?. Inilah yang perlu kita jadikan bahan muhasabah?

Para ulama dahulu memandang bulan Rajab, Sya’ban bagaikan atletik yang mendekati garis finish, sehingga segala potensi yang dimilikinya dikerahkan/dimobilisir untuk mengungguli atletik yang lain. Sehingga menjadi pemenang. Ternyata, kemenangan itu diraih tidak secara gratis. Kemenangan itu harus dikejar dan diperjuangkan.

Pujangga Arab mengatakan :

ุจู‚ูŽุฏุฑ ู…ุง ุชุชุนูŽู†ู‘ู‰ ุชูŽู†ุงูŽู„ู ู…ุง ุชูŽุชูŽู…ูŽู†ู‘ูŽู‰

Cita-cita, harapan itu akan terwujud berbanding lurus dengan kelelahan kalian dalam mengejarnya.

Allah SWT memberi nama Ramadhan, sesungguhnya menggambarkan hakikatnya. Arti kebahasaan Ramadhan adalah panas yang terik. Karena, bulan qamariyah yang kesembilan ini datang pada musim kemarau yang siangnya lebih lama dari waktu malamnya.

Nama ูุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู† terdiri dari lima huruf hijaiyah. Masing-masing memiliki kepanjangannya. Huruf ra kepanjangan dari rahmat (diliputi kebaikan), mim kepanjangan dari maghfirah (ampunan), dhod kepanjangan dari dhi’fun (dilipat gandakan pahala amal shalih), alif : amina minan niiraan (aman dari jilatan api neraka), nun kependekan dari nur (bersinar).

Dengan kehadiran Ramadhan, kita berharap akan mendapatkan rahmat, maghfirah, dhi’fun, aman dari neraka, melahirkan pribadi yang bercahaya (terjadi peremajaan struktur pisik dan ruhani). Insya Allah..

Semoga momentum berkesan yang biasanya tidak datang berulang, kita diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk mengisinya dengan jihad, ijtihad, dan mujahadatun nafs. Sehingga berefek pada penataan ulang (rekonstruksi) pola pikir dan sikap kita.

ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ุงู„ู’ุฎูŽู…ู’ุณูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ุฌูู…ู’ุนูŽุฉู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ุนูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ู ุฅูู„ูŽู‰ ุฑูŽู…ูŽุถูŽุงู†ูŽุŒ ู…ููƒูŽูู‘ูุฑูŽุงุชูŒ ู…ูŽุง ุจูŽูŠู’ู†ูŽู‡ูู†ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงุฌู’ุชูŽู†ูŽุจูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุจูŽุงุฆูุฑูŽ

“Shalat lima waktu dan shalat Jumโ€™at ke Jumโ€™at berikutnya, dan Ramadlan ke Ramadlan berikutnya adalah penghapus untuk dosa antara keduanya apabila dia menjauhi dosa besar.โ€ (HR. Muslim)..

Barangsiapa berpuasa ramadhan sedang ia mengetahui batasan-batasannya serta menjaga diri dari apa yang hendaknya ia jaga maka Allah akan menghapuskan dosanya yang telah lalu.โ€ (HR. Ahmad)..

Setidaknya ada delapan pelajaran penting yang telah kita dapatkan: 

Pertama, kita sadar bahwa Allah selalu bersama kita.ย 

Di bulan Ramadhan, saat berpuasa, meski di tempat yang sangat sepi dan kita sendirian tak mungkin kita diam-diam minum air meski hanya seteguk. Bahkan air setetes pun kita jaga agar tidak sampai masuk ke dalam tenggorokan kita. Mengapa? Karena kita sadar bahwa Allah melihat kita. Meski kita sendirian tetap dilihat Allah.

Meski satu tetes juga tetap dilihat oleh Allah. Karena kita merasa bahwa Allah selalu bersama dengan kita dan kita selalu dilihatnya, maka meski subuh kurang satu menit kita pun sudah tak mau makan dan minum lagi, dan begitu juga meski maghrib kurang satu menit kita juga tak mau berbuka.

Sungguh luar biasa. Puasa telah menyadarkan kita akan pengawasan Allah atas diri kita hingga pada tingkat yang sekecil-kecilnya. Inilah derajat keimanan yang paling tinggi yaitu derajat ihsan.

ุฃู†ู’ ุชูŽุนู’ุจูุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูƒูŽุฃู†ู‘ูŽูƒูŽ ุชูŽุฑูŽุงู‡ู ูุฅู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ุชูŽูƒูู†ู’ ุชูŽุฑูŽุงู‡ู ูุฅู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽุฑูŽุงูƒูŽ

โ€œKamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Dan bila kamu tidak melihat-Nya, maka kamu sadar bahwa Ia melihatmu.โ€ย (HR. Muslim).

Sudah barang tentu, kesadaran seperti ini bukan hanya dimaksudkan saat kita puasa di bulan Ramadhan saja. Tapi hendaknya kita wujudkan dalam kehidupan kita secara keseluruhan.

Di mana pun kita berada. Di kantor atau di pasar. Di rumah sendiri, atau di hotel saat tak ada istri/suami. Betapa indahnya apabila semua pejabat, pegawai negeri, para pengusaha, politisi, guru dll tak ada yang korupsi, karena sadar berapa pun uang diambil adalah dilihat oleh Allah.

Kita sadar dari lubuk hati sendiri, bahwa kita tak bisa bersembunyi dan tak ada yang bisa kita sembunyikan sama sekali.

Allah berfirman:

โ€œDan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.โ€ ( QS. Al-Mulk : 13).

Kedua, kita sadar melakukan kewajiban baru setelah itu menerima hak.ย 

Banyak orang yang hanya pandai menuntut hak tapi tak pandai menunaikan kewajiban. Maka jadilah akhirnya hak itu tak pernah ia dapatkan. Karena tak logis seseorang mendapatkan hak padahal kewajiban tak ditunaikan.

Orang yang sukses adalah orang mau dengan baik melaksanakan kewajiban, baru setelah itu mendapatkan hak. Puasa benar-benar menyadarkan kita semua akan adanya hukum hak dan kewajiban ini.

Kita menjalankan puasa, lalu kita dapatkan hak untuk berbuka. Kita lakukan perintah-perintah Allah dan kita tinggalkan larangan-larangan-Nya selama kita berpuasa, dan kita diberikan hak untuk dikabulkannya doa.

Allah berfirman :

โ€œDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.โ€ (Al-Baqarah: 186).

Inilah jalan yang lurus, benar dan logis. Memenuhi panggilan Allah, beriman kepada-Nya lalu silakan untuk minta dan berdoa kepada-Nya. Banyak orang yang tak malu; minta masuk surga tapi shalat tak mau.

Banyak minta dan berdoa kepada Allah, tapi saat dipanggil Allah tidak datang. Saat senang lupa kepada Allah, tapi saat susah baru ingat dan berdoa kepada-Nya. Nabi bersabda:

ุชูŽุนุฑู‘ูŽูู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽุฎูŽุงุกู ูŠูŽุนู’ุฑูููƒูŽ ููŠ ุงู„ุดู‘ูุฏู‘ูŽุฉู

โ€œIngatlah kepada Allah saat senang niscaya Allah ingat kepadamu saat susah.โ€ย (HR. Ahmad)..

Ketiga, kita sadar bahwa kebersamaan adalah indah dan penuh berkah.ย 

Puasa Ramadhan membuktikan bahwa kebersamaan (berjamaah) adalah penuh berkah dan menjadikan sesuatu yang berat menjadi sangat ringan. Bukankah berpuasa itu sebenarnya berat? Bukankah sebenarnya Shalat Tarawih itu berat?

Namun, karena kita lakukan berjamaah (bersama-sama) maka menjadi terasa sangat ringan dan indah sekali. Inilah ajaran berjamaah. Kita umat Islam ini adalah umat yang satu. Andaikan semangat dan spirit kebersamaan ini benar-benar kita wujudkan maka kita pasti menjadi umat yang paling baik, kuat dan hebat. Tak mungkin tertandingi.

Apa yang tak bisa dilakukan umat Islam ini andaikan bersatu padu?! Tapi sebaliknya, ketika kita tidak bersatu padu, bercerai berai, karena faktor beda suku, bahasa, organisasi, partai, mazhab, maka inilah musibah. Kita umat Islam meskipun sangat besar tapi nyaris tak memiliki kekuatan apa-apa.

Apa yang bisa kita lakukan saat saudara-saudara kita di Palestina dibantai oleh kaum Yahudi yang kecil itu? Kita hanya bisa kaget-kaget saja. Padahal kaum Yahudi sudah bertahun-tahun berbuat biadab seperti itu dan menguasai Masjidil Aqsha.

Termasuk di negeri tercinta kita sendiri. Jumlah kita sangat besar. Mayoritas mutlak. Tapi nyaris tak berdaya. Boleh dikatakan semua kekuatan lepas dari tangan kita. Bahkan untuk beraqidah dan bersyariโ€™ah secara kaffah kita berada dalam ketakutan dan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan. Hingga label-label radikal, fundamentalis, teroris dll selalu dialamatkan kepada kita kaum muslimin. Mengapa ? Karena kita tak bersatu padu.

Puasa Ramadhan hendaknya segera menyadarkan kita semua untuk berjamaah secara benar. Yaitu berjamaah atas dasar Islam. Bukan berjamaah atas dasar organisasi, partai, suku atau bangsa.

Kita boleh saja memiliki suku, bangsa, bahasa, organisasi, mazhab, partai yang berbeda-beda, tapi kita semua haruslah berjamaah dan bersatu padu di bawah ikatan Islam. Bukankah saat Ramadhan kita kompak berpuasa dan beribadah, meskipun kita memiliki suku yang berbeda, bangsa yang berbeda, organisasi yang berbeda, partai yang berbeda?

Marilah kita buang fanatisme sempit yang membuat umat Islam bercerai berai. Mari kita masuk dalam ikatan Islam yang utuh dan satu.

Nabi bersabda:

ูˆูŽูƒููˆู†ููˆุง ุนูุจูŽุงุฏูŽ ุงู„ู„ู‡ ุฅุฎู’ูˆูŽุงู†ุงู‹

โ€œJadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.โ€ย (Hr. Muslim).

Perlu diingatkan, kalau kita masih juga suka bercerai berai, maka kita bisa terlibas oleh badai PKI atau komunis, kaum sekuler, liberal, LGBT dan penjajah serta antek-anteknya yang setiap saat bisa saja datang.

โ€œDan taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi lemah dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.โ€ย (QS. Al-Anfal: 46)..

Keempat, kita sadar bahwa kesulitan membawa kemudahan.ย 

Perjuangan membawa kemenangan. Puasa mendatangkan kenikmatan berbuka dan menghadirkan hari raya. Inilah kaidah penting yang harus kita camkan. Siapa saja yang ingin sukses, tidaklah mungkin tidak menghadapi kesulitan. Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan.

Siapa yang hanya berpangku tangan, maka cukuplah udara hampa yang didapatkan. Puasa mengajarkan kita semua, tak mungkin bisa merasakan nikmatnya berbuka dan hari raya kecuali yang telah berpuasa dengan baik. Wahai anak-anak dan para pemuda. Yang yatim dan yang papa. Yang sedang sakit dan yang lemah. Jangan anggap kesulitan itu rintangan. Sesungguhnya kesulitan adalah tangga manis untuk mengantarkan kesuksesan.

Allah berfirman:

Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.ย (QS. Al-Insyrah : 5-8)..

Kelima, kita sadar bahwa Allah sangat mencintai kita semua.ย Kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ini. Umat Nabi Muhammad Saw.

Allah menganugerahkan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah membuka pintu-pintu Surga. Allah telah menutup semua pintu neraka. Syetan pun dibelenggu. Pahala dilipat gandakan dengan melimpah ruah. Lailatul qadar yang lebih baik daripada seribu bulan telah dianugerahkan. Inilah kecintaan Allah kepada kita umat Nabi Muhammad yang beriman.

Tinggal apakah kecintaan Allah ini kita balas dengan ketaatan atau kedurhakaan. Betapa buruknya bila kecintaan ini kita balas dengan kemaksiatan. Betapa buruknya bila panggilan-Nya yang penuh dengan kecintaan ini kita sambut dengan pura-pura tidak mendengar.

Betapa buruknya, bila hari raya yang penuh berkah (bergemuruh takbir, tahlil dan tahmid ini) lalu kita susul dengan pesta dosa. Betapa buruknya, bila kita kumpul bersuka cita sekarang di sini shalat Idul fitri, tapi besok pagi tak lagi kita mampu melangkahkan kaki ke masjid untuk shalat subuh dan shalat-shalat lainya. Betapa buruknya, bila di bulan Ramadhan masjid ramai, tapi setelah itu kembali sepi dan sunyi. Ya Allah ampuni kami.. ya Allah kami mohon cinta-Muโ€ฆ bimbing kami.. anak-anak kami.. semua saudara-saudara kami ini Ya Allah..

Keenam, kita sadar bahwa dalam hidup ini hendaknya saling cinta mencintai.ย 

Puasa telah mengajarkan kita empati dan berbagi terhadap sesama. Kita berpuasa tapi ada makanan untuk berbuka. Kita berpuasa tapi hanya dalam hitungan beberapa jam saja. Ada di antara kita yang berpuasa tapi tak ada makanan untuk berbuka dan tanpa batas waktu karena memang tak ada.

Itulah maka di bulan Ramadhan kita gemar memberi. Dan, semuanya kita di akhir Ramadhan diwajibkan menunaikan zakat fitrah, untuk kaum fakir dan miskin. Jadi, puasa mengajarkan kita semua untuk saling berbagi dan cintai mencintai.

Nabi bersabda:

ู„ุงูŽ ุชูŽุฏู’ุฎูู„ููˆุง ุงู„ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูุคู…ูู†ููˆุง ุŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ุชูุคู’ู…ูู†ููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽุญูŽุงุจู‘ููˆุง ุŒ. (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

โ€œTidaklah kamu masuk Surga sehingga kamu beriman kepada Allah, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling cinta mencintai.โ€ย (HR. Muslim)

Ketujuh, kita sadar bahwa semua kenikmatan dunia hanyalah sementara.

Puasa menunjukkan bahwa lapar dan kenyang di dunia ini tidaklah lama. Makanan dan minuman terasa nikmat bila masih di atas tenggorokan. Tapi kalau sudah kita telan, maka tak terasa lagi.

Oleh karena itu yang kaya di dunia ini adalah sementara. Yang sehat juga sementara. Yang cantik, sementara. Yang muda, sementara. Pejabat, sementara. Dan semua itu menjadi sia-sia, bahkan menjadi sumber malapetaka, bila tidak dilandasi dengan Agama yang baik.

Betapa banyaknya yang kaya akhirnya menderita karena tak memegang teguh Agama. Betapa banyaknya pejabat tinggi yang akhirnya jatuh hina karena tidak istiqamah. Betapa banyak rumah tangga menjadi berantakan setelah ekonomi meningkat sementara iman menurun.

Inilah puasa menyadarkan kepada kita bahwa peningkatan materi duniawi yang tak diiringi dengan peningkatan keimanan dan ketaqwaan, hanyalah mempercepat penderitaan.

Peningkatan ekonomi, materi dan pembangunan fisik saja, tanpa dilandasi dan diiringi dengan ketaatan dalam beragama, maka itu tidak akan membuahkan kemakmuran, tapi justru mempercepat kehancuran.

Allah berfirman:

ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุฃูŽุฑูŽุฏู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ู†ูู‡ู’ู„ููƒูŽ ู‚ูŽุฑู’ูŠูŽุฉู‹ ุฃูŽู…ูŽุฑู’ู†ูŽุง ู…ูุชู’ุฑูŽูููŠู‡ูŽุง ููŽููŽุณูŽู‚ููˆุง ูููŠู‡ูŽุง ููŽุญูŽู‚ู‘ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง ุงู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู„ู ููŽุฏูŽู…ู‘ูŽุฑู’ู†ูŽุงู‡ูŽุง ุชูŽุฏู’ู…ููŠุฑู‹ุง

โ€œDan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.โ€ย (QS. Al-Israโ€™ (17) : 16)..

Kedelapan, akhirnya dengan puasa kita benar-benar sadar bahwa hakikat diri kita adalah jiwa, bukan tubuh.ย 

Puasa menyadarkan kita bahwa tubuh ini hanyalah rangka atau rumah belaka. Hakekat manusia adalah jiwanya. Ruhnya. Bukan badannya ini. Cepat atau lambat tubuh ini pasti akan kita tinggalkan. Dan kalau sudah kita tinggalkan maka tak berarti dan tak bernilai sama sekali.

Maka betapa merugi orang yang hanya sibuk mengurusi kesehatan jasmaninya saja, sementara ruh dan jiwa tak pernah diberikan haknya. Betapa buruknya orang yang hanya sibuk makan dan minum hingga tak peduli halal dan haram, padahal jasmani  ini bakal dikubur dan dijadikan santapan cacing dan binatang yang ada dalam tanah.

Puasa menyadarkan kita, bahwa jiwa inilah yang terpenting. Ruh inilah yang tetap ada dan bakal mendapatkan balasan. Nabi bersabda:

ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠู†ู’ุธูุฑู ุฅูู„ู‰ ุฃุฌู’ุณูŽุงู…ููƒูู…ู’ ุŒ ูˆู„ุง ุฅูู„ู‰ ุตููˆูŽุฑููƒู…ู’ ุŒ ูˆูŽู„ูŽูƒู† ูŠู†ู’ุธูุฑู ุฅู„ู‰ ู‚ูู„ููˆุจููƒู…ู’ ูˆุฃุนู…ุงู„ูƒู…. (ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…)

โ€œSesungguhnya Allah tidak melihat tubuh-tubuh kamu dan juga tidak melihat kepada rupa-rupa kamu. Tetapi Allah melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu.โ€ย (Hr. Muslim)..

Kalau pada hari ini ada di antara kita yang sedang sakit, itu tak mengapa.. kalau ada yang hartanya berkurang, tak mengapa.. Kalau ada yang matanya mulai rabun, telinganya tuli, dan giginya mulai hilang, tak mengapa..

Tak perlu bersedih.. Karena pada dasarnya memang badan ini semuanya takkan bergerak sama sekali.. Saat itu tak perlu khawatir. Di mana pun kita meninggal dunia, maka tubuh ini pasti ada yang mengurusnya. Ada yang memandikannya, ada yang mengafaninya, ada yang menshalatinya dan ada yang menguburnya.

Itulah urusan dan nasib tubuh kita. Yang cantik, yang kaya, yang sehat sama. Akhirnya bercampur dengan tanah dan jadi makanan binatang-binatang di dalamnya.

Apakah urusan selesai? Tidak. Yang mati hanya tubuh kita. Tapi ruh kita, jiwa kita masih ada. Di situlah babak kehidupan yang sejati dimulai. Tak ada sandiwara dan tak ada basa basi. Yang dipanggil bukan lagi jasmani ini. Tapi jiwa yang berada di dalam tubuh ini. Yang baik mendapatkan kebaikannya dan yang buruk mendapatkan keburukannya. Semoga kita semua ini nanti dipanggil oleh Allah dengan panggilan:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูŽุชูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณู ุงู„ู’ู…ูุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ูŽุฉู ุงุฑู’ุฌูุนููŠ ุฅูู„ูŽู‰ูฐ ุฑูŽุจู‘ููƒู ุฑูŽุงุถููŠูŽุฉู‹ ู…ูŽุฑู’ุถููŠู‘ูŽุฉู‹ ููŽุงุฏู’ุฎูู„ููŠ ูููŠ ุนูุจูŽุงุฏููŠ ูˆูŽุงุฏู’ุฎูู„ููŠ ุฌูŽู†ู‘ูŽุชููŠ

โ€œHai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.โ€ (QS. Al Fajr : 27-30)

USTADZ SHOLIH HASYIM