Kepala LLDIKTI Wilayah IV Dorong PTH Merger Jadi Universitas Hidayatullah

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Prof. Dr. Uman Suherman AS.M.Pd mendorong Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia agar disatukan sehingga menjadi Universitas Hidayatullah.

“Dan yang paling penting, dengan kampus yang banyak di Indonesia, ada 8 kampus, akan lebih bagus disatukan saja menjadi universitas; Universitas Hidayatullah,” kata Prof Uman dalam acara Penugasan Dai Sarjana STIE Hidayatullah di Gedung Aula Utama Sekolah Pemimpin, Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (16/3/2021).

Saran untuk melakukan penyatuan (merger) perguruan tinggi ini, kata Prof Uman, merupakan program pemerintah dan salah satu target nasional yang ditetapkan oleh Kemenristekdikti dalam rangka peningkatan kualitas dan mutu Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

“Hidayatullah memiliki jaringan perguruan tinggi. Ada ekonomi, ada hukum, ada komputer, ada pendidikan, disatukan menjadi Universitas Hidayatullah,” imbuhnya.

Dalam pada itu, mengenai kesempatan menempuh studi perguruan tinggi, Prof Uman menyebut bangsa kita baru 36 persen yang bisa mengikuti kuliah perguruan tinggi dari jumlah 100. Maka, yang harus disyukuri, kata dia, manakala memiliki kesempatan kuliah di PT dengan cara beasiswa.

“Kemudian pada saat kita sudah menjadi sarjana, bukan masalah gelar, profesor itu tidak berarti apa apa. Tetapi yang menjadi keberartian manaka kita bisa menunjukkan bahwa kita adalah orang sebagai model hasil pendidikan tinggi yang menggunakan dan cara berfikir kita yang penuh dedikasi,” katanya.

Seorang sarjana harus beda. Walaupun kita sama sama ditugaskan ke daerah, orang yang berpendidikan tinggi harus berbeda dengan yang tidak perpendidian tinggi.

“Apalagi Anda dalam kawasan pendidikan yang bukan hanya STIE tapi adalah kawasan pesantren yang dibangun atas jerih payah para pendahulu yang ada di sini,” tukasnya.

Prof Uman mengajak membayangkan kehidupan di masa kita dijajah oleh Belanda tahun 1800-an dan membandingkan dengan kondisi yang sekarang. Kata dia, saat itu Belanda sudah memakai kapal layang. Penjajah Jepang juga demikian, telah menggunakan pesawat terbang.

“Pertanyaan saya, Anda mengakui gak kalau Belanda dan Jepang itu lebih pintar dari kita Indonesia. Jujur tidak jujur, itu perlu diakui. Mereka lebih pintar dari kita. Buktinya, mereka menjajah kita. Karena, pada saat itu kalau kita lebih pintar, ya kita yag ke sana. Buktinya kan, kita nggak kemana-mana,” katanya.

“Jadi, artinya, kalau Anda ditugaskan ke daerah-daerah artinya Anda memiliki pengetahuan dan lebih pintar,” sambungnya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana agar kita tidak dijajah. Jawabannya, menurut Prof Uman, kita harus pintar. Pertanyaannya, siapa yang akan membuat bangsa ini pintar. Tidak lain adalah para guru, pendidik, ustadz, kyai, dosen dan penggerak pendidikan lainnya.

Jadi dengan demikian, lanjut Prof Uman, kalau kita ingin bangsa ini tidak tergadaikan dan kesejaterannya tinggi maka kita tidak boleh keluar dari apa yang sudah dicantumkan dalam UUD 1945; mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan.

“Oleh karena itu, yang namanya pendidikan bukan sekedar menyampaikan ilmu tetapi menyampaikan value dan menyampaikan sistem ilmu.

Profi Uman mendoakan dai sarjana ini kelak menjadi orang yang sukses, menjadi orang orang yang berhasil. Dia berpesan, tidak cukup menjadi orang yang shaleh dan tidak saja mengajak kebaikan tapi juga menajamkan kebaikan.

“Saya pikir potensi ini sudah ada di Anda, tinggal bagaimana Anda mau membangun kompetensi dan sekarang Anda diterjunkan ke daerah daerah maka harus siap berkompetisi,” katanya.

Prof Uman memotivasi agar terus membangun kepercayaan diri, tidak pesimis apalagi rendah diri karena berasal dari kampung. Ia lantas bercerita tentang dirinya yang dari kampung. Dia lahir di Cisurupan, sebuah kampung, yang, menurutnya, lebih kampung dari para wisudawan dai dan tamu yang hadir.

Dia mengatakan dilahirkan di kaki gunung Papandayan yang terkenal sebagai objek wisata kawahnya. “Tidak akan ada orang yang berfikir Uman Suherman akan menjadi kepala LLDIKTI. Dan tidak ada yang bisa jadi kepala Dikti keculi dia profesor,” selorohnya memotivasi.

Kita memang sudah ditakdirkan, tapi takdir bisa dirubah. Dan yang bisa mengubah takdir adalah yang membuat takdir itu sendiri yakni Allah SWT.

“Bagaimana supaya takdir berubah, dekatlah kepada yang Maha Pembuat Takdir. Ud’uni astajib lakum, berdoalah kamu kepada-Ku, pasti Aku akan mengabulkannya,” ujarnya.

Memungkasi sambutannya, dia mendorong sarjana STIE Hidayatullah harus menjadi motifasi bagi masyarakat sehinga STIE Hidayatullah tidak terbatas pada daerah yang sudah ada tapi terus berkembang secara nasional dan bahkan menjadi kampus internasional. (ybh/hio)