Ustadz Budi Setiawan yang Setia Hingga Akhir Perjalanan

BALIKPAPAN (Hidayatullah.or.id) — Duka kembali menyelimuti keluarga besar Hidayatullah. Salah seorang dai seniornya yang juga santri awal Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, Ustadz Budi Setiawan, meninggal dunia.

Setiawan meninggal dengan tenang di usia 68 tahun pada Rabu malam,  2 Ramadhan 1442 Hijriyah atau 14 April 2021 sekitar pukul 20:40 WITA di rumah kontrakan salah satu anaknya di bilangan Teritip, Balikpapan Timur.

Setiawan meninggalkan istri dan sepuluh anak. Sebelumnya, di masa kritisnya selama 2 hari, ia didampingi sejumlah anaknya. Tak semua bisa hadir, karena diantaranya bertugas di luar kota. Tiga lainnya, hanya sempat menyentuhnya sebelum dimakamkan.

Sebagai santri dan dai, Setiawan tak menonjol sebagai penceramah apalagi sebagai orator. Ia pun bisa dibilang sangat jarang naik mimbar. Namun, kendati langka bicara di atas podium, Setiawan terampil di lapangan dakwah fardhiyah menjumpai orang-orang untuk mengajak mereka menjadi donatur Hidayatullah.

Tugas Setiawan saat itu populer dengan sebutan “pengedar blanko” alias pencari dana. Atau, amil zakat untuk saat ini. Tahun 80-an hingga 90-an, istilah amil zakat memang masih asing di telinga.

Keterampilan Setiawan dalam mengusahakan pendanaan operasional dakwah dan lembaga betul betul all out. Almarhum dimasa hidup pernah berkisah, ia tak jarang menunggui rumah hingga berhari hari. Hujan dan berpanas-panas, agar bisa bertemu langsung dengan shohibul bait dituju yang akhirnya kebanyakan menjadi donatur.

Totalitas “menggedor” rumah dari pintu ke pintu yang dijalani Setiawan tersebut diakui oleh salah seorang sahabatnya, Ustadz Bachtiar Arasy, yang saat ini bertugas dakwah di Sumatera Barat.

“Sepak terjangmu tidak banyak diketahui, tapi kiprahmu bergelut sebagai pencari dana di awal perlangkahan telah berhasil mengangkat eksistensi lembaga hingga saat ini,” kata Bachtiar dalam keterangannya dalam obrolan gawai.

Setiawan dai yang tak pernah menolak tugas dakwah kemanapun dan dimanapun. Bahkan, pernah menjadi sopir taksi, pun karena atas restu pendiri Hidayatullah, Allaahuyarham Ustadz Abdullah Said.

“Semua karena tugas dan restu pimpinan,” katanya dalam satu kesempatan mengenai tugas yang tak biasa tersebut. Loyalitasnya terus diuji, Setiawan pernah ditugaskan ke Brunei Darussalam untuk menjajaki dakwah di Negeri Petro Dollar tersebut.

Setiawan tugas ke Brunei setelah sebelumnya sekitar 4 tahun mengabdi di Cilodong. Saat itu pembangunan pondasi masjid pesantren yakni Masjid Ummul Quro Depok ini mulai memasuki tahap pendiriannya atas sumbangsih dermawan muslim kala itu.

Hanya 6 bulan di Brunei, Setiawan dipanggil pulang kembali ke Indonesia lalu ditugaskan ikut membantu perintisan dan pembangunan Pondok Pesantren Hidayatullah Sangatta, Kutai Timur (dulu Kabupaten Kutai, red), tahun 1992 hingga 1994.

Ayah dari 10 anak ini adalah kader senior Hidayatullah yang telah malang melintang mengemban amanah dakwah Pesantren Hidayatullah. Ia pernah ikut merintis Pondok Pesantren Hidayatullah Lempake, Samarinda. Ia bertugas di sana selama 3 tahun yaitu tahun 1983 hingga 1985.

Ia kemudian diamanahkan bertugas ke Berau selama setahun (1986-1987). Tak lama-lama mengemban amanah di Berau, Budi kemudian dikirim membantu perintisan Pesantren Hidayatullah Tarakan dari tahun 1987 sampai tahun 1988.

Setelah itu, Setiawan ditugaskan ke Cilodong (sekarang Depok, red). Saat masuk ke Depok awal tahun 1988, Budi mengisahkan, jalan-jalan di sana masih setapak. Masih berupa hutan bambu, dan tidak ada listrik.

“Juga dianggap angker, karena warga sekitar sering bilang komplek pesantren ini bekas kuburan Belanda,” kisah Budi yang bertugas di Depok hingga tahun 1991.

Hingga umurnya purna, Setiawan senantiasa setia di jalan dakwah. Dikala sakit pun yang tak memungkinkan dirinya keluar rumah bahkan berjalan saja sukar, ia tetap menjalani perannya sebagai dai dengan menerima tamu siapapun yang datang ke kontrakannya.

Dalam kondisi yang demikian, dai yang lahir di Malang 3 Mei 1952 ini berikhtiar untuk tetap dapat menafkahi sang istri, Hafsah Pasaray, yang selalu setia menemani.

Dalam banyak kesempatan, almarhum selalu mengingatkan pentingnya sabar, ikhlas dan menjaga niat. Karena menurutnya, tantangan terbesar seorang pejuang adalah munculnya bermacam fitnah, bahkan bisa bersumber dari dalam lingkar kita sendiri. Pesan tersebut selalu ia tekankan kepada anak-anaknya.

“Mumpung kamu masih muda, berbuat banyak saja untuk Hidayatullah, untuk Islam. Tidak usah risau dengan penilaian orang, paling tidak bisa dikenang anak anak cucumu, agar nanti ketika mereka besar sama semangatnya seperti kamu,” kata Fathi Fadhlullah, anak ke-9, mengutip pesan almarhum abahnya.

Setiawan kini telah tiada. Ia tak meninggalkan warisan apapun selain keteladanan bagi anak-anaknya dan generasi pelanjut yang ada di belakangnya. Hingga akhir hayatnya pun, tak memiliki rumah, dan, tampaknya, ia tidak pernah memikirkannya.

Semoga Allah menyayangi beliau, mengampuni seluruh dosa beliau, dan mengumpulkan beliau bersama para Nabi, Rasul, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin di Jannah Firdaus Tertinggi. (ybh/hio)