Sejatinya Makna “Tampak Pada Muka Mereka dari Bekas Sujud”

KETULUSAN, iman, dan lurusnya niat adalah rahasia-rahasia hati. Semua itu bukan gas yang bisa dicium aromanya atau benda padat yang bisa diindra wujudnya.

Akan tetapi, sudah menjadi kehendak Allah bahwa kejujuran iman dan kebersihan jiwa di dalam diri seseorang akan Dia tampakkan sebagian tanda-tandanya, agar orang lain bisa mengenali, mencintai, meneladani, dan bergabung dalam barisannya.

Jumlah mereka mungkin saja sedikit dan tersingkir di pojok-pojok kehidupan, namun mereka eksis berkat dukungan Tuhannya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, QS. Al-Fath: 29,

“Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka di dalam Taurat…..”

Menurut Al-Qur’an, diantara tanda terpenting umat Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam yang sejati adalah adanya bekas sujud di wajah mereka. Apakah maksudnya?

Terdapat banyak keterangan tentangnya dalam Tafsir Ibnu Katsir. Misalnya, menurut Ibnu ‘Abbas, maksudnya: baik jalan hidupnya (dalam urusan dunia dan agama).

Menurut Mujahid dan lain-lain, maknanya: khusyu’ dan tawadhu’. As-Suddi berkata, “Shalat membuat wajah mereka menjadi bagus.”

Sebagian ulama’ Salaf berkata, “Barangsiapa yang banyak mengerjakan shalat lail, niscaya wajahnya menjadi bagus pada siang hari.”

Manshur pernah menanyakan ayat ini kepada Mujahid, dan beliau menjawab, “Khusyu’.” Ia bertanya lagi, “Saya dulu menyangka bahwa maksudnya adalah bekas sujud (yang menghitam) di wajah ini?” Beliau menjawab, “Bisa jadi tanda itu ada diantara kedua mata seseorang yang hatinya bahkan lebih keras daripada Fir’aun”.

Demikianlah sesungguhnya yang dimaksud oleh ayat ini. “Bekas sujud di muka” bukanlah kulit yang menebal dan menghitam di jidat, akan tetapi tindak-tanduk, perilaku, tutur kata, akhlak, dan jalan hidup (way of life) yang baik serta menentramkan hati siapa saja yang melihatnya.

Sebagaimana dikatakan oleh ulama’ Salaf, “Sesungguhnya kebaikan itu memiliki cahaya di hati, sinar di wajah, kelapangan pada rezeki, dan rasa cinta di hati manusia”.

Lantas, bagaimana jika ada orang-orang yang rajin mengerjakan shalat namun akhlaknya buruk dan kata-katanya menyakitkan semua orang?

Imam Ibnu Katsir berkata, “Sungguh sesuatu yang tersembunyi di dalam jiwa akan tampak pada wajah. Bila isi hati seorang mukmin itu benar (yakni, lurus) bersama Allah, niscaya Allah memperbaiki lahiriahnya di hadapan sesama manusia, sebagaimana diriwayatkan dari Umar bin Khatthab, “Barangsiapa yang memperbaiki rahasia isi hatinya, niscaya Allah memperbaiki yang tampak dari dirinya”.

Utsman bin Affan juga berkata, “Tidak seorang pun yang menyembunyikan suatu rahasia hati melainkan Allah pasti menampakkannya pada raut wajahnya dan juga ucapannya yang tidak disengaja.” – yakni, keseleo lidah.

Mungkin isi hati orang-orang itu buruk dan niat-niat mereka pun menyimpang, sehingga jiwanya menjadi gelap. Kegelapan itu kemudian merembet ke seluruh anggota tubuhnya dan menyesakkan siapa saja yang melihat atau berinteraksi dengannya.

Alangkah baiknya jika mereka terlebih dahulu memperbaiki isi hatinya, sehingga tidak menodai citra umat Muhammad dengan perilakunya yang menjijikkan.

Sangat boleh jadi, seseorang senantiasa mengerjakan shalat dan beramar ma’ruf nahi munkar, namun yang terbersit di hatinya adalah meninggikan diri sendiri dan meremehkan orang lain. Ia telah terjebak tipudaya setan.

Dikisahkan bahwa seorang ayah mengajak anaknya mengerjakan shalat lail di bulan Ramadhan. Ketika melihat banyak orang yang tidur di masjid dan tidak bangun, si anak berkata, “Alangkah jeleknya orang-orang itu, tidak mau bangun mendekatkan diri kepada Tuhannya!”

Sang ayah menegurnya, “Nak, lebih baik engkau pulang dan tidur, daripada menghina orang lain dengan perkataanmu itu”.

Sang ayah benar. Belum tentu shalat yang akan dikerjakan anaknya diterima Allah, akan tetapi penghinaan yang dia lakukan sudah jelas catatan dosanya.

Belum tentu amar ma’ruf nahi munkar yang kita kerjakan ditulis sebagai amal yang ikhlas di sisi-Nya, namun meremehkan orang lain sudah pasti maksiat.

Bisikan-bisikan ‘ujub (merasa hebat) seperti ini mudah menghinggapi orang yang beramal shalih, sebab setan tidak pernah rela jika manusia ikhlas.

Bila dari hari ke hari hatinya dipenuhi bisikan kotor ini, maka tiada berguna shalat dan puasanya, sebab jiwanya terus-menerus ternajiskan oleh maksiat-maksiat tersembunyi.

Para Sahabat Nabi adalah orang-orang yang sangat tulus hatinya dan sangat baik amal perbuatannya, sehingga siapa saja yang memandang mereka akan terkagum-kagum oleh tindak-tanduk dan perilakunya yang mempesona.

Diriwayatkan dalam Tafsir Ibnu Katsir dari Imam Malik bin Anas, bahwa tatkala kaum Nasrani melihat para Sahabat yang ikut serta dalam penaklukan Syam, mereka berkata, “Demi Allah, sungguh mereka itu lebih baik dibanding Al-Hawaariyyun (para sahabat setia Nabi ‘Isa), menurut cerita-cerita yang kami dengar!”

Alhasil, bila Anda ingin shalat dan seluruh amal kebajikan membekas dan memperbaiki kehidupan, maka tatalah isi hati dan sikap Anda ketika berhubungan dengan Allah. Jangan sampai melenceng. Hal ini pun bisa diberlakukan pada orang lain semisal anak, istri, murid, staf, pemimpin, rakyat, dst.

Sungguh, Allah tidak bisa ditipu, dan setiap rahasia pasti terbongkar jika Dia menghendakinya! Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar