Pemuda Harus Jalani Proses “Menggembala” untuk Menjadi Leader

DEPOK (Hidayatullah.or.id) — Milenial atau pemuda perlu menempa dirinya dengan mengaktualisasi proses “menggembala” agar semakin terlatih saat kelak ia menjadi seorang pemimpin atau leader.

Demikian benang merah materi Kajian Manhaj yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Hidayatullah Ust H. Hamim Thohari yang diikuti mahasiswa semester 2 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok, Jum’at (12/6/2021).

“Menggembala kambing adalah proses pengikisan thaga’. Pada saat itu profesi penggembala kambing adalah strata sosial paling bawah apalagi yang digembalakan adalah kambing milik orang lain,” kata Ust Hamim.

Mengembala kambing juga merupakan hal spesial karena ia merupakan pekerjaan yang digeluti oleh para nabi, sebagaimana diterangkan Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dalam salah satu sabdanya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada Nabi kecuali pernah menjadi penggembala kambing.” Mereka para sahabat bertanya, “Apakah engkau juga wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Iya, saya telah menggembala dengan imbalan beberapa qirath (mata uang dinar) dari penduduk Mekah.” (HR. Bukhari, no. 2262)

Dan ternyata, lanjutn Hamim, dibalik menggembala itu mental ksatria Baginda Nabi itu terbentuk. Dan itulah, terang beliau, proses tarbiyah yang Allah rekayasa untuk Nabi yang mulia lalui.

“Mengingat hewan ternak yang paling unik dan tidak mudah dikendalikan itu adalah kambing,” imbuhnya.

Beliau pun berpesan kepada mahasiswa untuk menempa diri sebagaimana Nabi menempa dirinya dengan penuh kedisiplinan dan ketekunan.

Paling tidak, kata beliau, ada beberapa hikmah yang harus diketahui dari proses Nabi menggembala. Dan, tambahnya, hal ini menjadi bahagian penting yang setiap kader Hidayatullah harus ketahui untuk mereaktualisasinya dalam konteks kekinian.

Diantara hikmah mengembala itu, menurut Hamim, adalah ketekunan mencari, mengelola dan memberdayakan sehingga semua sumber daya dapat bermanfaat dan memberi maslahat.

“Pertama, Pathfinding. Seorang pengembala itu terus mencari. Mencari apa. Mencari padang gembala yang subur. Seorang kader pemimpin juga harus seperti itu,” katanya.

Dari proses tersebut juga akan melahirkan kemampuan Directing atau kecakapan dalam mengarahkan, sebagaimana kelihaian seorang penggembala dalam menggiring hewan ternak ke padang gembala.

Lalu ada kemampuan Controlling atau mengawasi. Kemampuan tersebut lahir dan berkelindan sebagaimana pengembala mampu mengkondisikan agar hewan ternaknya tidak tersesat atau terpisah dari kelompok.

Demikian pula kecakapan dalam memberikan perlindungan dan rasa aman agar hewan ternak selamat dari segala mara bahaya serta jauh dari ancaman hewan pemangsa dan pencuri. Aktualisasi perlindungan itu terejawantah dalam prinsip manajemen organisasi yaitu Protecting.

Lebih jauh, Hamim menjelaskan, hikmah dari proses Nabi menggembala juga menumbuhkan spirit perenungan (Reflection) dan kepekaan spiritual sehingga ia melandaskan semuanya hanya karena Allah SWT serta adanya penghargaan yang tinggi kepada alam dan manusia.

“Apa yg terjadi dalam kehidupan ini bukanlah hal kebetulan melainkan rekayasa Al Khaliq Sang Maha Pencipta, terkhusus apa yang terjadi dalam proses perjalanan Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,” katanya.

Ia menegaskan, seorang kader leader yang sedang disiapkan mengemban amanah memikul tugas sebagai dai paling tidak harus memiliki 5 karakter tersebut, yakni kemampuan pathfinding, directing, controlling, protecting dan reflection.

Sementara itu, moderator Rasfiuddin Sabaruddin S.sy, MIRK, yang juga Wakil Ketua I bagian Akademik STIE Hdayatullah, mengatakan kegiatan kajian pekanan yang dilakukan oleh STIE Hidayatullah ini sebagai upaya transformasi manhaj langsung dari para senior.

Sebelumnya, pihaknya juga beberapa pekan lalu sudah menghadirkan narasumner lainnya seperti Ust H. Abdul Azis Qahhar, Ust Abu ‘Ala Abdullah dan Ust Dr. H. Tasyrif Amin. (ybh/hio)