Sugeng Tindak Pak Kamto

PAK KAMTO. Begitu biasanya saya memanggil. Beliau asli Klaten. Sejak dulu saya kenal, tetap saja sederhana dan murah senyum.

Tahun 1994, tepatnya tanggal 23 Mei, pertama kali kenal beliau. Saat itu, Saya selesai ta’aruf bakda Maghrib, di mushola asrama Pesantren Assakinah Hidayatullah Yogya. Garasi yang disulap jadi mushola tersebut, dapat memuat santri dewasa, sekitar 30 orang. Pesennya sederhana,”Yang sabar dan ikhlas Mas”.

Beliau termasuk santri Awal di Pesantren Hidayatullah Yogya. Saat beliau masih mahasiswa akhir di IKIP Yogya (sekarang UNY), hingga lulus, yang setahu saya ijazahnya tidak pernah diambil. Mentor yang sabar bagi Kami, untuk memahami bagaimana berjuang.

Memberi contoh dalam beribadah. Meski terkantuk-kantuk karena capek di siang hari, tetap menegakkan qiyamul lail di malam hari.

Mengajari bagaimana dengan kesederhanaan dan kemampuan terbatas, kita mesti tetap memberikan yamg terbaik dan melayani orang lain. Salah satunya, saat itu adalah bagaimana adik-adik di Panti Asuhan tetap bisa menjalankan aktifitasnya. Dan berbagai hal yang tak cukup untuk dituliskan dan diceritakan disini.

Beliaulah pimpinan proyek pertama, pembangunan Pesantren Hidayatullah di Balong-Donoharjo-Ngaglik Sleman. Tinggal di Bivak, untuk memgatur tukang dan beberapa santri dewasa yang bertugas disitu. Juga setiap Sabtu-Ahad, kami santri dewasa mesti kerjabakti di mBalong itu. Masjid adalah bangunan yang pertamakali dibangun, saat itu.

Tahun 1996, beliau menjadi salah satu kader yang ikut nikah mubarakah di Surabaya. Saya dan pak Sur, menyiapkan rumah beliau di Monjali.

Saat Ibu Saya meninggal dunia 1996 dan Bapak meninggal dunia tahun 2010, beliau hadir ke Tulungagung. Selanjutnya, saat tahun 1998 saya yang menikah di Pangkalpinang-Babel, beliau utusan dari Yogya yang hadir.

Kemudian waktu terus bergulir. Tahun 1999, saya dapat amanah ke Jakarta. Beliau juga mendapat berbagai amanah dakwah, di Sragen. Beberapa kali berjumpa, dalam berbagai kesempatan.

Tahun 2016, saat menghadiri kegiatan BMH di Solo, beliau mengajak saya ke Yayasan An-Nahl Sragen, untuk mengisi kajian dihadapan santri dan pengurus. Lokasi yayasan An-Nahl ada di beberapa tempat, itulah ladang amal beliau hingga akhir hayat.

Terakhir jumpa beliau bulan Januari 2021. Beliau datang ke rumah bersama Bu Endang istri beliau, sehabis beliau mengantarkan santrinya ke Depok. Saya tidak bisa ngobrol banyak, hanya dari jauh, saat itu saya sedang isoman.

Kemudian dapat kabar bahwa, beberapa hari ini kondisi beliau drop. Dirawat di Al Kahfi Mojosongo Solo. Tidak bisa masuk Rumah Sakit, karena semua penuh. Beliau dibantu oksigen, dan sempat menipis.

Saya terus memantau hingga pukul 21 WIB perkembangan beliau, melalui ustadz Abdul Munir. Dilaporkan, sempat kritis sekitar jam 19 saya dikirim videonya. Lalu jam 20 lewat mendapatkan oksigen baru dan keadaan beliau membaik.

Ternyata Allah lebih mencintai beliau dan memanggilnya pada hari ini: Senin, 12 Juli 2021 tepat pukul 23.00 WIB. Berita tersebar di grup WA.

Selamat jalan sang Mujahid, Ust Ahmad Salim Sukamto. Selamat jalan mentor dan Kangmasku. Surga menantimu, Saya menjadi saksi bahwa antum Ahlul Khair wa Ahlul Jannah. In syaa Allah syahid fi sabiliLlah.

Santri dan Sahabatmu,
Asih Subagyo