Milad Tak Sekadar Mengingat, Tapi Mendekat pada Dzat Iradat

MILAD adalah memperingati kelahiran, tentu bukan hanya sekedar mengingat hari, tanggal, bulan dan tahun. Bukan juga mengingat nama-nama tokoh, tempat bersejarah atau peristiwa-peristiwa penting.

Milad adalah menyerap inspirasi dari masa lalu yang menjadi pondasi kondisi hari ini. Menggali dan berusaha meneladani nilai-nilai dan spirit yang dimiliki oleh para pendiri. Kemudian mewarisi dan melanjutkan estafeta idealisme dan cita-cita besar yang ditancapkan oleh para ideolog lembaga.

Memperingati milad 50 tahun Hidayatullah, tentu tidak lepas dari sosok Ustadz Abdullah Said sebagai pendiri Hidayatullah. Dengan idealisme, keberanian, mujahadah dan munajatnya meletakkan pondasi yang kuat kepada generasi awal Hidayatullah tentang memperjuangan Islam dengan mengikuti pola sistematika turunnya wahyu.

Secara pribadi, beliau tidak meninggalkan harta warisan kepada putra-putrinya. Itu diulang-ulang disampaikan dan dibuktikan hingga beliau wafat, memang tidak ada harta kekayaan yang diwariskan.

Padahal, sebagai pendiri Hidayatullah yang kini tumbuh besar dan berkembang di seluruh pelosok nusantara, jika dihitung tentu memiliki asset yang tidak sedikit. Beliau berhak untuk mendapatkan, kalau tidak semuanya, ya beberapa persen dari keseluruhan aset yang ada.

Namun, beliau secuilpun tak meminta. Ini sebagai salah satu bukti keikhlasan dan ketulusan beliau mendirikan Hidayatullah bukan untuk kepentingan pribadi dan keluarga tapi untuk umat Islam.

Inilah satu nilai yang harus kita warisi dalam ber-Hidayatullah untuk ikhlas dalam memperjuangan Islam melalui Hidayatullah.

Keikhlasannya bukan hanya di hati tapi diwujudkan dan nampak dalam prinsip dan sikap dalam hidupnya. Memurnikan niat karena Allah dalam memperjuangan agama Allah itu menjadi nilai mendasar dalam ber-Hidayatullah.

Godaan bukannya tak pernah ada, bahkan selalu datang bertubi-tubi. Bukan perkara mudah bagi beliau untuk dapat menjaga nawaitu suci ini. Pernah kali waktu beliau ditawari untuk menjadi anggota dewan tingkat pusat, menjadi pejabat ini dan itu. Semua ditolak dengan cara yang baik. Karena sikap teguhnya itu, tentulah beliau tidak lepas dari cibiran, intimidasi bahkan ancaman dibui.

Keikhlasan Ustadz Abdullah Said pun kian nampak dari magnet “qoulan tsaqila” yang dianugerahkan Allah padanya. Sehingga tausyiah dan tulisan beliau senantiasa menarik dan menghinoptis mempengaruhi banyak orang. Pada pribadi dan penampilannya ada kharisma yang berwibawa dan disegani oleh siapa saja.

Ustadz Muhammad Hasyim HS, sebagai sahabat dan menyertai Ustadz Abdullah Said dari awal memberikan kesaksian, bahwa jika beliau sudah berceramah maka bisa membuat orang menangis, tertawa, tertegun sambil kepala mengangguk-angguk. Baik anak-anak, remaja, orang-tua, pejabat, pengusaha dan siapa saja yang mendengar dan membacanya dengan tulus.

Disinilah kita mendapati pesan Milad 50 Tahun Hidayatullah bukan sekadar pengingat terlampauinya setengah abad usia, melainkan sebagai momentum meneguhkan ikhtiar untuk terus mendekat kepada Dzat Iradat, Allah Subhanahu Wata’ala, yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

Lantas, bagaimana menjaga nilai utama lembaga berupa keikhlasan berjuang dalam konteks Hidayatullah bagi generasi kita yang hidup setelah Hidayatullah 50 tahun? Setidaknya tiga hal yang perlu menjadi catatan, atau setidak-tidaknya menjadi bahan renungan untuk perlangkahan berikutnya.

Pertama, bangunan orientasi atau tujuan ber-Hidayatullah adalah karena keinginan kita berhimpun bersama memperjuangan Islam dalam satu kepemimpinan jamaah yang ia tak terpisahkan dengan kaum muslimin lainnya (jama’atun minal muslimin).

Hari ini Hidayatullah sudah besar, dikenal dan mendapatkan kepercayaan umat. Maka kemudahan mendapatkan fasilitas dan materi adalah menjadi tantangan dan godaan dari para kader.

Bukan berarti kemudian harus menghindar atau menolak fasilitas dan materi yang ada itu tetapi menyikapinya dengan proposional. Tidak menjadikan lalai, tergiur atau menjadikan fasilitas dan materi menghalangi untuk taat dalam satu kepemimpinan.

Kedua, penting menjaga keikhlasan dengan berhalaqah setiap pekan. Ini bukan sekedar berkumpul, membaca al Qur’an tapi update informasi perkembangan lembaga dan upgrade kompetensi, komitmen diri dalam ber-Islam.

Berhalaqah adalah jalan kader untuk terantar dan terkondisikan belajar, menghafal al Qur’an, bermuhasabah, mendapatkan nasehat dan silaturahim dengan sesama kader.

Ketiga, melaksanakan Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH). Ini sumber spirit untuk menguatkan spritual dan menjaga ruhani para kader.

Dengan senantiasa menegakkan GNH maka mengantar para kader istiqamah karena hari demi hari dan waktu demi waktu terjaga ibadahnya.

“Azimat” Al Muzzammil Ini juga senantiasa yang ditekankan dan diwariskan Ustadz Abdullah Said kepada santri awal yang hingga hari ini masih istiqamah melaksanakan GNH istilah sekarang.

*)ABDUL GHOFAR HADI, penulis adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP Hidayatullah