50 Tahun Hidayatullah, Merawat Spirit Juang yang Terus Menantang

Oleh Imam Nawawi*

KEHADIRAN Hidayatullah (1 Muharram 1392 H) erat kaitannya dengan kesadaran akan tantangan keumatan yang membutuhkan spirit juang yang tidak saja kuat, kokoh, modern dan sistematis, serta rapi, tetapi juga berlandaskan pada manhaj nabawi.

Manhaj Nabawi yang dimaksud ialah bagaimana Allah SWT secara langsung mentarbiyah Nabi Muhammad ﷺ melalui 5 surat Alquran yang turun di awal kenabian, sehingga lahir keteladanan, kemampuan membaca dengan mendalam dalam bingkai Iqra’ bismirabbik, akhlak mulia, dan tentu saja visi berquran yang kokoh, spirit dakwah yang tangguh dan ibadah yang tak kenal lelah.

Semua itu pada akhirnya mampu mendorong lahirnya satu komunitas, bahkan masyarakat yang berperadaban yang tegak di atas nilai-nilai iman dan juga sangat progresif di beragam bidang kehidupan yang memungkinkan pencerahan dan ekspansi kebaikan dapat terus digulirkan, yakni masyarakat Madinah.

Jika melihat sisi konsepsi dakwah dan tarbiyah yang dipilih dan dikuatkan bahkan diteladankan oleh Ustadz Abdullah Said di dalam gerakan keumatan Hidayatullah, sudah jelas, dimensi individu saja harus siap berjibaku dengan penempaan diri yang demikian “ketat” secara ruhiyah.

Terlebih kala tiba waktu untuk tandang ke gelanggang, jelas, kesiapan dan kekokohan spiritual yang di dalamnya meliputi akhlak dan visi, kemudian ibadah dan dakwah, idealnya benar-benar tegak, sehingga sampailah diri pada satu kondisi mental bahwa tidak ada yang mawjud, melainkan Allah Ta’ala.

Dan, sebagaimana ditegaskan para ulama bahwa iman itu naik dan turun, jelas, kesadaran dakwah dan tarbiyah dalam realitanya menuntut satu kesadaran spirit juang menempa diri yang tak kenal kata final hingga tiba ajal.

Komitmen Pemuda Hidayatullah

Bercermin pada basis yang menjadikan KH Abdullah Said sukses membangun gerakan dakwah dan tarbiyah dengan organisasi bernama Hidayatullah, maka Pemuda Hidayatullah sangat penting memahami nilai dasar itu (basis) sebagai energi pembentuk karakter dan kepribadian. Di saat yang sama amatlah penting menjadikan kekayaan yang bernama manhaj nabawi sebagai pola transformasi dalam gerakan dakwah dan tarbiyah di tengah-tengah umat.

Oleh karena itu, tagline yang diangkat oleh Pemuda Hidayatullah adalah Progresif Beradab, sebuah spirit untuk terus menghadirkan kemajuan, baik pada skala pribadi hingga gerakan dakwah dan masyarakat itu sendiri.

Progresif berarti menjalankan amanah Nabi Muhmammad ﷺ bahwa bagaimana setiap hari kita bisa terus berproses menjadi pribadi yang senantiasa lebih baik. Disaat yang sama gerakan dakwah dan tarbiyah juga terus mengalami kemajuan demi kemajuan yang komprehensif.

Oleh karena itu, komitmen ini dihadirkan dalam tiga program utama yang sejak 2020 telah digulirkan, yakni pelatihan kepemimpinan untuk generasi muda bangsa, kemudian pendidikan Al-Quran bersanad untuk anak-anak muda, serta training literasi dengan target dapat digelar di setiap kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Akhlak dan Ketangguhan Wacana

Jika ditanya apa goal dari gerakan Pemuda Hidayatullah maka jawabannya ada dua. Pertama kemuliaan akhlak. Kedua, ketangguhan wacana.

Akhlak menjadi pusat gerakan tarbiyah sekaligus dakwah. Sukses tidaknya dakwah dan tarbiyah bisa dicek melalui akhlak yang melekat pada diri setiap kader dan anggota.

Akhlak tentu tidak dalam makna sebatas etiket, tetapi juga adab sekaligus etos, sehingga kala dikatakan berakhlak, maka dia profesional dalam amanah keprofesian, tangguh dalam amanah keorganisasian, berdaya tahan tinggi dalam segala macam rintangan mencerdaskan umat.

Kemudian ketangguhan wacana. Sebagian orang masih memandang wacana sebagai hal yang tidak penting, padahal disadari atau tidak, semua yang beredar di era digital dan menjadi bahasan banyak orang semuanya bersifat wacana.

Diantara arti wacana ialah kemampuan berpikir secara sistematis, kemampuan memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat, dan pertukaran ide secara verbal. Jadi, ketangguhan wacana berarti menghendaki Pemuda Hidayatullah tampil sebagai juru bicara-juru bicara peradaban.

Dan, menuju kepada idealitas tersebut, sekali lagi tak cukup sebatas kecerdasan, pendidikan tinggi dengan beragam gelar akademik, tetapi kesadaran jiwa akan nilai dasar Islam kemudian konsistensi di dalam mengemban nilai-nilai luhur ini.

Di sinilah spirit juang terus ditantang. Karena pada akhirnya niat ikhlas menjadi penentu dari segalanya. Secara psikologis tentu ini tidak mudah bagi kaum muda yang umumnya ingin eksis dan sangat enerjik secara fisik dan pemikiran.

Tetapi, jika ini berhasil ditanamkan, maka bukan saja capaian permukaan yang akan digapai, melainkan sisi yang amat fundamental di dalam perjuangan membangun peradaban Islam, yakni ilmu dan amal. Allahu a’lam.*

*) IMAM NAWAWI, penulis adalah Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Hidayatullah. Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di portal berita Hidayatullah.com