Pesan dari Rakerwil Jateng: Berkhidmat di Jalan Allah

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Setiap program kerja berdimensi keumatan dan kebangsaan yang dijalankan hendaknya diniatkan dalam rangka berkhidmat di jalan Allah, sebagai ibadah yang semata mata hanya ingin meraih ridha dan kasih sayang-Nya. Oleh karena itu, selalu nomorsatukan Allah SWT dalam hidup.

Demikian ditekankan Ketua Bidang Dakwah dan Pelayanan Umat Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, Ust Drs Nursyamsa Hadis, saat hadir menutup acara Rapat Kerja Wilayah (DPW) Hidayatullah Jawa Tengah di Kota Semarang, Rabu, 25 Jumadil Awal 1443 (29/12/2021).

“Jika ada kendala, orang mukmin itu sudah ada obat manjurnya, dibawa saja dalam shalat,” pesannya mengingatkan.

Dalam kesempatan tersebut, Nursyamsa berharap beragam program kerja Hidayatullah yang telah dicanangkan secara nasional dalam Rakernas dan selanjutnya diderivasikan ke tingkat wilayah dapat terlaksana dengan baik.

Menurutnya, hal yang amat penting diperhatikan dalam kerja kerja keumatan semacam ini adalah kebersamaan dan kekompakan. Dengan demikian, akan semakin merekatkan soliditas tim untuk tercapainya visi.

“Kuatkan tekad, kesepakatan-kesepakatan yang kita lahirkan dalam forum yang mulia dan penuh rasa kekompakan ini menjadi utang bersama. Mari kita azzamkan untuk kita lunasi,” ungkapnya.

Dia menegaskan, kalau hanya mengandalkan kemampuan manusiawi kita tanpa pertolongan Allah SWT dalam setiap pekerjaan dan program yang dijalankan maka mustahil keberhasilan, kesuksesan, dan kemenangan dapat diraih.

Oleh karenanya, setiap personil kader harus banyak banyak meminta pertolongan pada Allah SWT di setiap kesempatan dengan munajat yang sungguh sungguh.

“Mohonlah solusi atas gunda gulana kita pada Allah SWT dalam shalat sampai yakin sudah dapat jawaban barulah kita selesaikan shalat. Maka, setelah shalat kita punya semangat lagi untuk siap tandang ke gelanggang dakwah,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Nursyamsa menyitir pesan pendiri Hidayatullah termasuk yang acapkali dilontarkan Pemimpin Umum Hidayatullah Ust H Abdurrahman Muhammad bahwa ketika kelak ditakdirkan masanya nanti berakhir di dunia, mereka berdoa agar dimatikan saat menjalankan tugas dakwah.

“Semoga kita semua terus istiqomah di jalan dakwah,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Wilayah Hidayatullah Jateng, Ahmad Ali Subur, yang belum lama menuntaskan mengikuti kegiatan Leadership Training dengan tema “Pemimpin Hebat, Pemimpin Bermanfaat” yang diselenggarakan Hidayatullah Institute selama 10 hari di Jakarta, benar-benar terasa ghirahnya.

Menurut Subur, program-program kerja kita harus menjawab minimal dua aspek, pertama, adalah aspek kebutuhan organisasi, dan kedua, yakni aspek tuntutan. Kolaborasi dan keterpaduan dalam bingkai Imamah jamaah harus menjawab tuntas dua hal tersebut.

“Tidak perlu muluk-muluk menjalankan semua program yang kita sepakati di Rakerwil ini. Masing-masing departemen, minimal satu program yang urgen difokuskan dan disukseskan, (itu) sudah bisa merubah wajah dan memberi warna gerakan Hidayatullah di Jateng ini,” kata Subur.

Hal senada juga dikuatkan oleh Ust H Sunoto Ahmad selaku Ketua DMW Hidayatullah Jateng dalam pesannya yang lugas. Sunoto menekankan untuk fokus dan menghindarkan diri dari merasa paling benar karena fanatisme.

“Kerjakan apa yang bisa dilakukan. Jangan berharap melakukan hal yang belum bisa dilakukan. Sederhana saja, lakukan apa yang bisa, hingga akhirnya berbuah kemenangan. Tetapi jika sudah menang, jangan sombong apalagi sampai melahirkan fanatisme jahiliyah. Teruslah pertajam iqra,” ungkapnya.

Di sesi paling akhir sebelum penutupan, panitia Rakerwil menghadirkan Drs H Achmad Mirza selaku coach dan mentor pengusaha anti riba, yang dalam paparannya banyak mengingatkan bahaya dosa riba.

“Saya ini, berdakwah dengan pendekatan berbeda, sehingga tidak akan rebutan lahan dengan para ustadz. Saya mengambil garapan kepada kalangan menengah ke atas yang kadang bingung mau diapakan uangnya,” kata Achmad.

“Itulah sasaran dakwah saya, tentu dengan pendekatan yang berbeda. Karena, boleh jadi, mereka memang kaya, tapi belum bisa lepas dari transaksi ribawi. Padahal praktek riba ini ditentang oleh Allah dan rasul-Nya bahkan pelakunya ditantang perang,” lanjut Achmad memungkasi.

Selain memberikan materi dalam bentuk ilmu, Achmad juga berbagi buku yang ditulis olehnya dengan judul Semua Bisa Bebas Utang dan support untuk para pejuang dakwah di daerah dalam bentuk cash.*/Yusran Yauma