Adanya Sumur Bor Mudahkan Masyarakat Seraya Dapatkan Kebutuhan Air Bersih

KEPRI (Hidayatullah.or.id) — Air laut mulai pasang, beberapa ibu rumah tangga di pulau Seraya menyiapkan sampan lengkap dengan jerigen dan wadah lain, ibu-ibu turun tangan karena para suami mayoritas nelayan, setelah sekitar 10 menit mendayung sampan tibalah di pulau sebelah untuk mengambil air tawar yang tertampung di waduk alami.

Kondisi ini direspon oleh BMH Kepri. Sebulan lalu Abdul Aziz, kepala perwakilan BMH Kepri mencanangkan program pembangunan Sumur Bor di pulau Seraya dan kemarin, Rabu, 1 Safar 1443 (8/9/2021), pembangunan sumur bor dan instalasi tiga terminal air bersih telah tuntas.

Peresmiannya disiarkan langsung oleh kanal BMH TV. Sejumlah tokoh masyarakan dan warga pulau Seraya turut hadir menyaksikan dengan raut kebahagiaan.

Alhamdulillah, berkat bantuan para donatur yang mempercayakan kepada BMH Kepri, kini air telah mengucur dari terminal air bersih.

Abdul Aziz mengungkapkan kondisi keterbatasan air bersih ti pulau Seraya yang 100 persen penduduknya muslim adalah tanggungjawab kita sebagai sesama muslim termasuk BMH Kepri sebagai lembaga amil zakat.

Setelah sumur bor di RT 05, selanjutnya akan dibangun lagi 3 sumur bor di RT lain.

“Jangan sampai keterbatasan air ini mengganggu aktivitas ibadah karena tidak adanya kebutuhan air untuk bersuci seperti mandi dan berwudhu,” ujar Abdul Aziz.

Kehadiran sumur bor di pulau berpenduduk 140 KK atau sekira 800 jiwa bagi ketua RT 05, Sulung, merupakan jawaban atas kepanikan yang kerap menghampiri warga setiap kali kemarau karena waduk yang menampung air hujan akan kering.

“Terima kasih kepada para donatur dan BMH Kepri yang berkenan membantu kami di pulau Seraya,” tegas Sulung bersemangat.

Ketika para suami turun melaut, ibu-ibu rumah tangga tak perlu lagi mendayung sampan atau menjalankan speedboad untuk mencari air baik siang maupun malam.

“Alhamdulillah dan terima kasih para donatur atas bantuannya, sekarang kami tak perlu lagi mendayung sampan siang dan malam untuk mencari air di waduk di pulau sebelah,” tutur ibu Ema sembari tersenyum bahagia.*/Mujahid M. Salbu