Amil Tugas Mulia, Teguhkan dengan Ibadah dan Akhlak Islam

TULUNGAGUNG (Hidayatullah.or.id) — Anggota Dewan Pengawas Syariah Laznas BMH Ust Abdul Ghofar Hadi menegaskan bahwa amil zakat merupakan tugas mulia yang mesti diteguhkan dengan kekuatan ibadah dan akhlak islam.

“Menjadi amil zakat adalah tugas mulia, karena ia jihad untuk menegakkan salah satu rukun islam yaitu zakat. Sehingga harus semangat, berani dan kreatif,” kata Ghofar.

Hal itu disampaikannya dalam acara Kajian Rutin Penguatan dan Pencerahan Pekanan BMH Tulungagung yang diikuti seluruh amil kantor lembaga tersebut di Jln. MT Haryono Gg. IV No.6, Kedungwaru, Bago, Kabupaten Tulungagung, Jawa, Senin, 5 Dzulhijjah 1443 (4/7/2022).

Menjadi amil juga berarti menegakkan ajaran Islam seperti harus amanah, bertanggung jawab, dan senantiasa mengedepankan nilai dan akhlak Islam dalam setiap kesehariannya sebab demikianlah sejatinya kepribadian setiap muslim.

“Tugas menjadi amil itu tidak mudah. Selain skill komunikasi yang bagus dan sopan, juga harus memiliki pengetahuan seputar zakat, punya mental yang kuat dan kesabaran,” kata Ust Ghofar menambahkan.

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (Wasekjen DPP) Hidayatullah ini juga menyampaikan sejarah berdirinya Hidayatullah dari awal hingga fase sekarang. Ia menceritakan secara singkat mengapa dan bagaimana Hidayatullah bisa berdiri dan hadir di seluruh propinsi dan kabupaten.

“Memahami sejarah itu penting agar ada kearifan dan mendapatkan motivasi, inspirasi,” katanya.

Ia juga menghubungkan dengan sejarah Muhammad sebelum dan sesudah diangkat menjadi nabi serta Bbagaimana resiko dan konsekwensi membawa risalah kenabian beliau yang harus siap diintimidasi, dibully, diusir, diboikot bahkan diancam dibunuh.

“Menjadi amil zakat di BMH, terkadang juga berhadapan dengan permasalahan yang tidak mengenakkan. Masalah itulah yang mengkondisikan untuk lebih bermujahadah dan bermunajat atau berdoa,” katanya.

Ust Ghofar mengimbuhkan, ujian yang paling berat adalah ujiannya para nabi dan rasul. Padahal mereka orang terpilih, mulia, dan dijamin masuk surga. Ujian itulah yang mengantar untuk senantiasa dekat kepada Allah.

“Sehingga menjadi amil zakat, harus rajin beribadah. Rajin berinfaq. Shalat lail, shalat dhuha, dan shalat berjamaah lima waktu harus diprioritaskan. Ketika adzan berkumandan Allahu Akbar, Allah Maha Besar, maka kita harus spontan untuk membesarkan Allah dengan bersegera ke masjid,” pesannya.

Terakhir, Ust Ghofar juga menyampaikan tentang pentingnya membina keluarga yaitu anak istri. Dia menegaskan, jika keluarga bermasalah maka berat bagi suami untuk konsentrasi dan sukses bekerja.

“Bagi amil yang belum menikah, harus mencari istri yang benar dan bagus bagi agama, serta kebahagiaan dunia akherat,” katanya sembari tersenyum.

BMH Tulungagung sendiri saat ini sedang fokus dalam program Qurban. Dalam pengantarnya, Kepala Perwakilan Kantor BMH Tulungagung Giyarno mengatakan timnya terus bekerja baik dalam memastikan raihan pencapaian dan sasaran distribusi hewan qurban.

“Alhamdulillah sudah 30 ekor, semoga masih ada waktu satu pekan ini bisa melampaui tahun lalu yang dapat 35 ekor,” kata Giyarno.

Ada optimisme, komitmen, dan kerja keras yang menjadi salah satu karakter amil BMH secara nasional. Giyarno sendiri merupakan alumni SMA Lukman Hakim Surabaya dan belum lama ini telah menuntaskan studi S1 di STAIL Surabaya.

Pengalamannya di BMH, Giyarno pernah 5 tahun merintis BMH di Nganjuk, lalu dimutasi ke BMH Kediri beberapa tahun. Dan kini, telah 5 tahun berjalan ini di BMH Tulungagung yang merintis sedari awal. (ybh/hio)