Kampus Hidayatullah Jeneponto Mantapkan Nilai Kepengasuhan

JENEPONTO (Hidayatullah.or.id) – Dalam rangka memantapkan peran pembangunan budi pekerti serta meningkatkan kualitas sumber daya insani, Kepala Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Jeneponto, Sulawesi Selatan, Ust Muhammad Armin, menerapkan pola kepengasuhan santri yang lebih melekatkan nilai ikatan erat (emotional bonding) antara pendidik dengan peserta didik.

Diantaranya yang diterapkan adalah soal sapaan. Apabila santri biasanya menyapa guru dengan kata “ustadz”, “bapak” dan lainnya. Maka saat ini dibiasakan menggunakan kosa kata yang lebih merekatkan yaitu panggilan “ayah” untuk guru laki-laki dan “ibunda” untuk pengasuh wanita.

Ustadz Armin yang lazimnya disapa “ustadz” oleh para santri dan seluruh warga dan pengasuhnya di pondok tersebut. Kini ia semakin karib dengan sapaan “ayah”.

“Sapaan ini bukan ingin mengikuti trend di masyarakat semata, melainkan ingin terbangunnya emotional bonding antara santri dan ustadz dan ustadzahnya sebagaimana pengasuh asrama yang disematkan panggilan kakak,” kata Armin.

“Saya ingin membangun sebuah ‘rumah besar’ di pondok ini. Dekatnya santri kepada kami adalah modal besar dalam melakukan transformasi nilai-nilai al-Quran di sini,” lanjut pria berbadan tegap yang juga lulusan pertama STIS Hidayatullah Balikpapan ini.

Menjadi hal biasa kalau para santri memanggil ustadz dan ustadzahnya dengan sapaan ayah-bunda. Rata -rata mereka duduk di kelas 2 hingga kelas 5 SD karena sedang mengikuti program hafal Quran di Pesantren Tahfidz Cilik Hidayatullah Jeneponto.

Armin menyeb utkan, ada sebanyak lima puluh delapan putra dan putri sebaya yang tergabung di rumah besar tersebut. Kini sejak usai menjalani Pentas atau Pekan Orientasi Santri yang berakhir tanggal 7Juli lalu, kini aktif menjalani proses menghafal al-Quran.

“Ditargetkan, selama tiga tahun mengikuti program tersebut mereka sudah menghafal tujuh sampai sebelas juz. Rata rata mereka sudah menghafal tujuh sampai sebelas juz selama di sini. Tinggal selanjutnya menambah di jenjang SMP nantinya” terang Ayah Armin.

Seperti di rumah, mereka menjalani aktifitas pondok seperti halnya di keluarganya sebelumnya. Bermain dan belajar seperti biasanya. Hanya saja, semua kondisi disuasanakan untuk mudah menghafal al-Qur’an.

Dua gazebo dan beberapa pepohonan rindang biasanya jadi tempat murojaah atau mengulang ulang hafalan mereka didampingi kakak-kakaknya.

Saat Hidayatullah.or. id mengunjungi pondok yang didirikan di atas tanah wakaf Puang Haji Syarifuddin Daeng Talli tersebut, setiap pukul 11.00 siang semua santri diarahkan untuk istrahat. Tidak satupun anak yang berkeliaran. Selain mungkin karena letih karena sejak jam 3 dinihari tadi sudah aktif shalat tahjjud berjamaah di masjid.

“Kami hanya memberikan jawaban atas kegelisahan orangtua yang khawatir dengan lingkungan anaknya dan memberikan bekal mereka dasar dasar (hafalan) al-Quran untuk memasuki sekolah di jenjang atasnya,” tutur Ayah Armin.*/Muhammad Bashori

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.