Berinfak, Bukan Sekadar Nilainya, tapi Karakternya

SURABAYA (Hidayatullah.or.id) — Pada mulanya Qorun, saudagar yang amat kaya di masa Nabi Musa AS, bersedia membayar zakat atas hartanya yang amat banyak. Apalagi ketika Nabi Musa AS memberitahu bahwa bagian dari harta yang akan diambil untuk zakat tersebut amat sedikit. Hanya seperseribu saja.

Namun, ketika dihitung berapa nilai seperseribu dari seluruh hartanya, Qorun terperangah. Ternyata banyak juga. Sikap kikirnya muncul. Ia tak bersedia membayarkan zakat meskipun telah diminta oleh Nabi Musa.

Rupanya Qorun tidak dididik untuk kaya. Dia tidak siap menjadi kaya. Dia enggan berbagi karena tak mau kehilangan hartanya. Fenomena seperti ini, ungkap Ust Dr Nashirul Haq, ketua umum Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah, saat memberikan materi pada acara Usroh Akbar di Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, 1 Maret 2020, bisa menghinggapi siapa saja.

Ketika penyakit kikir menghinggapi manusia, maka ia mulai berhitung-hitung untung dan rugi, bahkan untuk urusan akhirat sekalipun. Padahal, berniaga dengan Allah Ta’ala tak akan pernah merugikan manusia.

Karena itulah, kata Nashirul, manusia harus dilatih untuk mau berbagi. Jika tak dilatih dan tak dibiasakan, maka terjadilah apa yang menimpa Qorun. Meskipun cuma diminta seperseribu dari apa yang kita punya, tetap akan terasa berat. Padahal persentasinya amatlah kecil.

Berinfaq secara konsisten adalah cara paling efektif untuk membentuk karakter rela berbagi. “Meskipun jumlahnya tak banyak, tapi jika konsisten dilakukan setiap hari, insya Allah akan terbentuk karakter berbagi,” jelas Nashirul.

Program berinfak lewat Gerakan Nawafil Hidayatullah yang diharuskan kepada semua kader Hidayatullah adalah salah satu cara membangun karakter ini. Semua kader Hidayatullah harus terbiasa berinfaq, baik dalam keadaan susah atau pun lapang. Jika karakter ini sudah terbentuk, maka ringan sekali kita untuk berbagi.

Nashirul mencontohkan kisah seorang dai yang tinggal di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kalimantan Timur. Ia bukanlah orang kaya. Kerjanya hanya menanam pisang. Namun tiap hari ia selalu berinfaq. Jumlahnya pun tak sedikit. Dalam sebulan, ia bisa berinfak lebih dari Rp 300 ribu.

Suatu hari, cerita Nashirul, dai itu datang dan berkata kepadanya. “Ustad, saya berdoa supaya Allah memberikan saya rezeki supaya bisa membantu membangun kubah Masjid Ar Riyadh sendirian saja.” Masjid Ar Riyadh adalah masjid besar berkapasitas lebih dari 5 ribu jamaah yang berdiri di tengah Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak. Saat itu pembangunan kubah masjid belum selesai dan butuh biaya sangat banyak.

Inilah gambaran kesiapan berkorban seorang yang telah tumbuh karakter berbagi pada dirinya. Ia berdoa agar dikaruniai rezeki yang banyak, tapi bukan untuk dirinya sendiri. Ia amat berkebalikan dengan karakter Qorun yang kikir. */Mahladi

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.