Berkhidmat untuk Umat dengan Perencanaan yang Baik dan Ahsanu Amala

MEDAN (Hidayatullah.or.id) — Ketua Dewan Pertimbangan Hidayatullah, Ust. H. Hamim Thohari, menyampaikan bahwa berkhidmat untuk umat berarti mengabdi di jalan Allah SWT untuk menghadirkan kebaikan dan kemaslahatan sebagaimana tujuan Islam hadir sebagai rahmat untuk seluruh alam (kaffatan linnas rahmatan lil ‘alamin).

Oleh karena itu, ia berpesan, setiap program dan langkah dalam khidmat tersebut haruslah dengan perencanaan yang baik agar menghasilkan kinerja terbaik pula serta diiringi dengan penuh dedikasi, yang disebutnya sebagai “ahsanu amala” sebagaimana arahan Al Qur’an.

“Yang dituntut dari kita adalah bekerja maksimal, yang prestatif, yang berkualitas, yang ahsanu amala. Bukan banyaknya bekerja tetapi asal asalan,” kata Ust. H. Hamim Thohari dalam Rapat Kerja Kampus Utama Hidayatullah Medan, Sumatera Utara, bertajuk “Optimalisasi Layanan Menuju Sukses Gerakan Mainstream”, Senin, 8 Jumadil Akhir 1443 (10/1/2021).

Beliau lantas menukil firman Allah SWT dalam kitab suci Al Qur’an surah Al Mulk (67) ayat 2 yang artinya: “Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun”.

Dalam arahannya tersebut, Ust Hamim Thohari yang juga ketua pembina Kampus Utama Hidayatullah Medan, berharap dengan Raker ini program dapat dijalankan lebih sistematis, bekerja dengan perencanaan dengan baik, terukur, dan tidak asal bekerja.

“Dengan perencanaan yang baik maka pekerjaan kita bisa dikontrol, bisa dievaluasi. Bekerja tanpa perencaan adalah ngawur bahkan bisa jadi tidak akan menghasilkan apa apa,” imbuhnya.

Ia berpesan bahwasanya pengurus yayasan itu bukan “bos” tetapi pelayan yang melayani santri, wali santri, warga dan masyarakat sekitar.

“Ketika semua yang dilayani merasa puas, maka disitulah kesuksesan pengurus. Dengan kata lain ukuran kesuksesan pengurus adalah ketika semua merasakan kepuasan,” tukasnya.

Oleh karena pengurus itu adalah pelayan, terangnya, maka selayaknya pengurus itu harus berupaya bertawadhu’ yang merendahkan diri di hadapan Allah dan menanamkan mindset bahwa biarlah Allah Ta’ala saja yang menilai prestasi kita.

“Jangan merasa puas dengan pekerjaan yang sudah kita lakukan. Tetapi kita harus terus untuk mengangkat tugas tugas baru, mengangkat beban tugas berikutnya untuk meningkatkan layanan kita,” pesannya seraya menyitat QS. Al-Insyirah [94]: 7.

“Setelah kita berusaha dan bekerja secara maksimal, kemudian kita merasakan tidak sanggup, terseok seok, barulah kita serahkan kepada Allah SWT,” pungkas Ust Hamim yang ditutup dengan ayat Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا ۗ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَاۤ اِنْ نَّسِيْنَاۤ اَوْ اَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَاۤ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهٗ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَا قَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَا عْفُ عَنَّا ۗ وَا غْفِرْ لَنَا ۗ وَا رْحَمْنَا ۗ اَنْتَ مَوْلٰٮنَا فَا نْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”*/Khairul Anam