Dai Mengabdi Tanamkan Wawasan Islam dan Wasbang di desa Eksodus Timor Leste

TOBADAK (Hidayatullah.or.id) — Berada di kecamatan Tobadak kabupaten Mamuju Tengah, desa Sejati sebelumnya Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Tobadak VIII ini didiami suku Jawa, Bugis, Mandar dan eksodus Timur Leste.

Sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani dan seluruhnya muslim. Jumlah penduduk desa ini tahun 2020 berjumlah 1.236 jiwa, dimana laki-laki sebanyak 662 jiwa dan perempuan sebanyak 574 jiwa. Desa ini terbagi menjadi 5 dusun, 5 Rukun Warga (RW) dan 12 Rukun Tetangga (RT).

Batas timur desa Sejati adalah hutan lindung yang berbatasan dengan hutan lindung Sulawesi Selatan sehingga akses dari desa lain termudah adalah desa Saluadak dengan kondisi jalan yang menantang andrenalin anda sampai saat ini.

Sedangkan bagi dai dai Hidayatullah rute itu wajib dilaui setiap bulannya untuk mengisi pengajian rutin oleh seluruh warga apapun cuaca dan kondisinya.

Setiap hari Ahad akhir bulan Ustadz Muhajirin Bukhari dai mengabdi yang berdomisili di Taranggi, Kabupaten Pasangkayu itu harus hadir memberikan materi pengajian.

Di musim hujan ia harus menyiasati perjalanan biasanya menginap di Hidayatullah Saluada dan kalau sudah diguyur hujan akses bawah yang menghubungkan ke dua desa tersebut kondisinya lebih layak disebut sungai.

Kendati demikian ada beberapa ruang jalan yang lumayan bagus dan menghibur pengendara yang melaluinya.

Masih lumayan jika ‘hanya’ becek dan berlumpur setidaknya jalan akan licin dan akibat paling ringannya adalah tersungkur dengan sepeda motor dan barang bawaannya.

Belum lagi alasan lain jika harus membonceng istri tercintanya karena jamaahnya kebanyakan ibu ibu, tentu tingkat ribetnya berbeda bisa empat level di atas istilah rempong.

“Cukup melelahkan tentunya tapi sangat indah jika dinikmati,” katanya kepada Bashori, kontributor Hidayatullah.or.id di Sulbar.

Rangkaian tantangan yang disuguhkan oleh Yang Maha Kuasa untuk orang orang bernyali di atas rata rata saja, bahkan bagi warga Sejati membawa hasil panen mereka ke pasar terdekat adalah sebuah tantangan tersendiri.

Begitu juga tentang pemenuhan kebutuhan mereka, hanya mereka yang punya kebutuhan penting saja yang ‘keluar’, karena dibayang bayangi kondisi jalan.

“Kondisi jalan memang masih menjadi salah satu kendala utama di sini,” terangn Muhajirin.

Untuk Muhajirin dan dai lainnya yang mendapat giliran tentu sudah lumrah mulai persiapan, perjalanan berangkat dan pulang dari majelis taklim Sejati. Seperti itu berjalan secara terus menerus hingga hari ini sebagaimana yang ia tuturkan beberapa hari lalu.

Materi ajar juga tidak ada bedanya dengan desa desa binaan lain di Sulawesi Barat umumnya, mulai perbaikan bacaan al Quran atau tahsin, tajwid dan tafsirnya. Sesekali membahas tatacara penyelenggaraan jenazah.

Desa Sejati didominasi eksodus Timor Leste paska Referendum Timur Leste tahun 1999 silam, hal itu membuat mereka harus punya passport jika akan silaturahmi dengan keluarganya di negara asal mereka Timor Leste.

Para dai Hidayatullah pun dalam setiap materi taklim selalu menyelipkan tentang wawasan Islam (ummah), wawasan kebangsaan (wasbang), dan cinta tanah air dan menjaganya, selain hal tersebut juga bagian dari ajaran Islam itu sendiri.

Muhajirin pun dengan rendah hati mengatakan dirinya bukanlah seorang ustadz apalagi kyai atau ulama yang pandai serta menguasai beragam jenis kitab. Ia mengaku hanya sebagai pembelajar yang berdakwah membahasakan nikmatnya berislam sebagaimana apa yang ia rasakan.

“Kami lakukan (pembinaan) ini bukan karena keilmuan kami sudah banyak, hanya mengajak belajar mengaji bersama, belajar menjalankan agama ini dengan baik dan sama sama mau selamat dunia dan akhirat,” tandas Mujahirin.

Pembinaan warga desa Sejati oleh Hidayatullah sendiri sudah berjalan sejak awal dibukanya UPT Tobadak 1996 dan berjalan hingga hari ini.

Nur Salam, warga dan tokoh masyarakat asal Timor Leste itu menyatakan rasa syukurnya atas pendampingan Hidayatullah di desanya.

Kendati jauh dari infrastruktur atau fasilitas kehidupan modern seperti ketersediaan penerangan dari PLN, sinyal internet, dan berbagai hal lainnya, mereka mengaku bersyukur karena tetap dapat belajar agama dengan baik.

“Kami di desa Sejati ini memang jauh dari sinyal dan keramaian, tapi dai dai Hidayatullah sejak awal membekali banyak tentang ilmu-ilmu agama sehingga selalu mendapatkan bekal ruhani,” kata Nur Salam.

Menurutnya, desa Sejati, meski jauh dari hingar bingar kota dan mengalami kelangkaan jaringan internet bukan berarti masyarakatnya aman dari dampak negatif budaya global dan butuh pembinaan untuk menjaga kehidupan beragamanya.*/Bashori