Silaturrahim Syawal Hidayatullah Provinsi Sulawesi Utara

BOLAANG MONGONDOW (Hidayatullah.or.id) — Bertempat di Pondok Pesantren Hidayatullah Ibolian, Kecamatan Dumoga Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara, berlangsung Silaturrahim Syawal Hidayatullah Sulawesi Utara (Sulut), Sabtu, 12 Syawal 1443 (14/5/2022).

Adapun tema yang diangkat dalam hajatan tahunan Hidayatullah wilayah Sulut ini mengikuti tema Syawalan di Kampus Induk Gunung Tembak yakni “Momentum Syawal Teguhkan Ukhuwah, Jatidiri dan Perjuangan”.

Acara ini sendiri merupakan rangkaian yang disiapkan dan diselenggarakan oleh Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Sulut yang dihadiri pengurus DPW, Dewan Murabbi Wilayah (DMW), Organisasi Pendukung (Orpen), Amal Usaha dan masyarakat umum.

Peserta mulai check-in sejak hari Jum’at kemudian dilanjutkan dengan qiyamul lail dihari Sabtu dinihari mulai jam 03.00 secara berjamaah, sholat subuh, wirid/ dzikir dan taushiyah kelembagaan oleh DMW. Kemudian peserta sarapan dan mandi untuk persiapan mengikuti acara inti.

Ada dua pemateri yang dihadirkan yaitu Ust H Zainuddin Musaddad, MA selaku anggota Dewan Murabbi Pusat dan Ust Asih Subagyo yang merupakan Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Organisasi DPP Hidayatullah. Materi kedua narasumber ini disampaikan secara online (daring).

Dalam taushiyahnya, narasumber pertama Ust Zainuddin Musaddad menyampaikan bahwa kecewa, sakit hati, dengki, hasad, fitnah, ghibah, ujub, riya’, takabbur dan tajassus adalah sebagian dari penyakit hati yang sering menghinggapi setiap manusia.

Sehingga, terang dia, jika berbagai penyakit tersebut terkait dengan hubungan sesama manusia, maka semua jenis penyakit hati tersebut akan terobati dengan kita berjabat tangan dengan ketulusan hati dan sambil melihat wajah saudara-saudara kita dengan seksama saat bersalaman.

“Maka penyakit hati pelan tapi pasti akan terkikis dan selanjutnya akan hilang,” katanya.

Sementara itu, Ust Asih Subagyo menambahkan bahwa kekuatan umat Islam dalam skala apapun juga adalah dengan menjaga ukhuwah. Prasyarat ukhuwah itu harus diawali dengan ta’aruf, dimana saling mengenal luar dalam kepada sesama saudaranya.

“Kemudian tafahum, dimana kita saling memahami kelebihan dan kekurangan atau pun kekuatan dan kelemahan masing-masing,” kata Asih.

Lalu, prasyarat kokohnya kekuatan umat selanjutnya, kata Asih, adalah ta’awun atau saling tolong menolong. Konsepnya bisa berupa yang kuat menolong yang lemah atau yang dirasa mampu agar menolong yang kekurangan.

“Dan terakhir adalah takaful, adanya sikap saling memberikan jaminan. Artinya sesama umat muslim harus saling memberikan rasa aman dan terhindar dari kekhawatiran serta kecemasan,” imbuh Asih yang saat ini masih harus menjalani perawatan intensif karena sakit ini.

Lebih jauh, Asih menekankan bahwa jika ukhuwah ini kendor atau hilang, maka bicara tentang jamaah itu hanya omong kosong belaka.

Oleh karenanya, dia menyampaikan, membangun ukhuwah ini dalam kerangka kosolidasi organisasi yang tidak bisa ditawar tawar lagi. Demikian halnya dengan penguatan, pemahaman dan implementasi jatidiri, juga menjadi sebuah keharusan.

“Dengan demikian maka membangun ruhul jihad sebagai bekal dalam perjuangan di medan dakwah akan bisa dijalankan dengan baik” tandasnya.

Selepas shalat dzhuhur berjamaah, acara dilanjutkan dengan penyampaian program kerja dan pembacaan beberapa SK. Kemudian dilanjutkan dengan anjangsana silaturrahim kepada wakif tanah yang sering dipanggil dengan Habib.

Habib hanyalah nama panggilan yang karib digunakan untuk menyapanya. Nama sebenarnya beliau adalah Klaus Neven. Setelah menjadi mualaf, nama hijrahnya Habiburrahman. Habib mewakafkan sebuah lahan tanah dan bangunan di Niniha seluas 26 hektar.

Sore harinya seluruh peserta kembali ke tempat tugas masing-masing dengan semangat ukhuwah yang semakin meningkat.*/Taufiqurrahman