Penuhi Kebutuhan, Ponpes Hidayatullah Mentawai Manfaatkan Pekarangan

?????????????????????????????????????????????????????????

MENTAWAI (Hidayatullah.or.id) — Memanfaatkan pekarangan untuk ditanami tumbuhan produktif adalah pilihan yang baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itulah yang saat ini tengah dilakukan oleh Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Pesantren yang memiliki murid sebanyak 41 orang dengan luas lahan dan bangunan total 10 hektare ini memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan setidaknya untuk konsumsi pribadi.

Pesantren juga memiliki peternakan sapi yang bisa dilakukan konsep pertanian berkelanjutan. Pengelola pesantren sudah mulai merangkul santriwan/wati untuk menanam seperti sayuran, jagung dan terong namun hasilnya belum bisa mencukupi kebutuhan pesantren.

Untuk mengoptimalkan potensi ini, peserta Sekolah Lapangan yang didamping Yayasan FIELD Indonesia dan ASB berkesempatan berbagi pengetahuan untuk pembuatan pupuk organik cair (POC) di pondok pesantren Hidayatullah.

Santi Lestari sebagai Pemandu sekolah lapangan di Sipora Jaya menyampaikan langkah-langkah pembuatan POC dengan menggunakan bahan dari limbah dapur organik yang ditambahkan dengan molase gula merah, santriwan/wati mempraktekan membuat POC yang dicampur dengan air kelapa dan cucian beras.

“Penggunaan bahan organik juga menekan percepatan perubahan iklim yang biasa kita sebut global warming dimana ketika kita menggunakan bahan kimia seperti pertisida keseimbagngan ekosistem dalam tanah akan rusak sehingga tanah akan kehilangan kesuburannya,” katanya seperti dilansir laman Berita Minang, Ahad, 16 Muharam 1444 (14/8/2022).

Ia menyampaikan tindakan atau perilaku tersebut kemudian berdampak pada kenaikan suhu permukaan bumi. Sehingga lapisan ozon akan menebal menyebabkan panas dibumi terperangkap.

“Makanya kita merasa suhu lebih panas tentu itu juga yang akan dirasakan tanaman,” jelasnya.

Sementara Rachmadi sebagai kepala divisi Loby dan advokasi yayasan FIELD Indonesia juga menyampaikan tanaman itu mencari makan yang disediakan di dalam tanah melalui akar namun dia butuh yang akan memasaknya.

“Nah melalui POC ini akan menghidupkan mikro organisme lokal yang berfungsi sebagai tukang masak tanaman sehingga tanaman terpenuhi kebutuhannya,” sebutnya.

Selain itu, dalam pelatihan tersebut juga mempraktekan cara pengolahan lahan dengan menggunakan bedengan kayu dimana tanah digali sedalam 30 centimeter, lalu kayu-kayu ranting dimasukan disusun berdasarkan ukuran terbesar pada bagian bawah ditambah ranting dan rumputan kering lalu ditimbun dengan tanah.

Menurutnya ini merupakan salah satu cara pengelolaan pertanian yang akan meringankan pengolahan, ke depan hanya perlu menambahkan mulsa diatasnya tanpa dilakukan pengolahan kembali untuk menanam selanjutnya.

“Makanan tanaman dari ranting-ranting yang lapuk di dalam sudah tersedia juga akan mengurangi pertumbuhan gulma karena menggunakan mulsa organik dari rumput-rumput kering yang digunakan,” ucapnya.

Kepala sekolah pondok pesantren Hidayatullah Mentawai, Muslimin menyambut baik kegiatan road to school yang diadakan Yayasan FIELD Indonesia dan ASB, harapannya ini akan berdampak menambah semangat santriwan/wati kedepannya dalam mengelola lahan pesantren sebagai bekal ilmu mereka kedepan. (ybh/hio)