Iqra Bismirabbik muat Perintah Revolusioner untuk Lahirkan Perubahan

SEMARANG (Hidayatullah.or.id) — Wakil Sekretaris Jenderal I Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Abdul Ghofar Hadi mengatakan bahwa Wahyu Ilahi pertama turun berupa seruan untuk membaca atas nama Allah/Rabb (iqra’ bismirabbik) memuat perintah revolusioner untuk lahirnya sebuah perubahan yang luar biasa.

“Ini adalah perintah revolusioner yang memberikan perubahan paradigma dan keyakinan yang luar biasa,” katanya saat menyampaikan taushiah selepas shalat shubuh di sela kegiatan asesmen DPW Hidayatullah Jawa Tengah, Kampus Hidayatullah Semarang, Jl. Villa Krista, Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Semarang, Jum’at, 17 Rabbiul Akhir 1444 (11/11/2022).

Ust. Abdul Ghofar diminta memberikan tausyiah motivasi kepada santri putri pada Jumat pagi bakda subuh tersebut. Ia mengurai perintah Allah pertama kepada Muhammad saat diangkat menjadi nabi yaitu membaca.

“Perintah membaca adalah perintah belajar, open mind membuka pikiran, wawasan untuk mencermati, meneliti, dan menganalisa. Inilah yang menjadi basic untuk membangun peradaban besar,” kata Ghofar.

Dia menjelaskan, semua peradaban besar di dunia ini hadir karena ada peradaban membaca. Tanpa membaca maka tidak ada peradaban, primitif, atau pra sejarah.

Gerakan membaca ini, jelas dia, adalah meliputi pembacaan pada ayat-ayat Qouliyah yaitu al Quran dan hadist dan membaca ayat ayat Kauniyyah berupa peristiwa, kejadian, fenomena, dan berbagai hal yang terjadi di dunia ini.

“Apalagi jika membacanya dengan nama Rabb maka akan semakin luar biasa. Ada spirit ruhiyah yang menyertai dan mengundang keberkahan serta kekuatan,” terangnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan bahwa perintah membaca bukan hanya ditujukan kepada Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Meski bentuk perintahnya tunggal, tapi ini bersifat umum untuk seluruh umat Muhammad.

“Perintah membaca ini juga menumbuhkan keyakinan ketuhanan yang benar. Sekaligus meruntuhkan konsep ketuhanan masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala, patung, kuburan dan lain sebagainya,” terangnya.

Tersebab oleh perintah membaca tersebut, rupanya hal ini mengusik orang Arab Quraish. Ketuhanan dan kedudukan mereka merasa terancam dengan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi disebut Al Amin, yakni orang yang dipercaya dan dijadikan pemimpin dalam berbagai peristiwa. Tapi sejak turun surat Al ‘Alaq dengan perintah membaca, Nabi Muhammad disebut gila, pembohong, penyihir, pendusta.

“Apakah betul tuduhan mereka. Tentu tidak, itu adalah bentuk kemarahan orang jahiliyah terhadap misi kenabian Muhammad,” imbuhnya.

Ia lantas menukil kisah tentang sejarah singkat berdirinya Yayasan Al Burhan Hidayatullah Semarang. Nama Al Burhan untuk Pesantren Hidayatullah di Semarang memiliki latar belakang yang menarik, yaitu ada keinginan kuat dari pendiri untuk membuktikan bahwa Hidayatullah bisa eksis dan berkembang.

Al Burhan artinya bukti. Tanah yang diwakafkan itu konon berada di wilayah angker, katanya banyak hantu atau makhluk halus, sehingga banyak orang tidak minat untuk beli dan menempati. “Bahkan lewat saja lokasi tersebut merasa takut karena seram,” tukasnya.

Saking semangatnya mendapatkan tanah tersebut, Ust. Hasan Rofidi dan Ust. Nur Said yang masih muda saat itu, ketika mendengar ada kepastian kaya “Ya!” atas diwakafkan tanah tersebut, mereka begitu semringah. Mereka berdua lalu naik motor berboncengan dengan riang gembira dan lalu mengalami kecelakaan terjatuh dari motor.

Hari ini, Al Burhan Hidayatullah Semarang sudah memiliki pendidikan putra putri tingkat SMP dan SMA, serta TK. Luas areal sekitar 3 ribu meter persegi dengan bangunan masjid putra, mushola putri, kelas, asrama, kantor, dua rumah dinas, dan guest house.

“Maka membaca harus menjadi karakter santri-santri jika ingin maju dan sukses menguasai dunia ini,” tandas Ust. Ghofar berpesan.*/Yacong B. Halike