Teladan dalam Dakwah dari Pelaku Dakwah di Sulawesi Selatan

Hampir sepekan lamanya saya mendapatkan anugerah dari Allah Ta’ala melalui Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, Ustadz Mardhatillah dan Ustadz Safruddin berkunjung ke sebagian besar lokasi Pesantren Hidayatullah di Sulawesi Selatan.

Sebuah perjalanan panjang, karena melibas jalanan mulai Makassar hingga Wawondula, Luwuk Timur yang membutuhkan waktu tempuh (jika tidak singgah-singgah) nyaris 13 jam dengan jarak membentang sepanjang 601,8 Kilometer.

Perjalanan ini sangat mengesankan, karena setidaknya memberikan bukti konkret tentang dakwah itu sendiri, perjalanan indah, penuh tantangan, namun tetap dan selalu mendatangkan kebahagiaan luar biasa.

Termasuk bagaimana keteladanan dalam dakwah terus dirajut hingga saat ini, bahkan oleh Bapak Pimpinan sendiri dengan menjalankan tiga program dakwah besar di Parepare dan Pinrang.

Di Parepare Ustadz Mardhatillah dan Ustadz Muharram mengantarkan saya melihat proyek Rumah Quran di Parengki, yang lokasinya tepat berada di pantai yang bersih dengan air laut yang biru dan jernih. Sebelum banyak kisah diterangkan, memakan buah kelapa muda adalah menu wajib di sana. Saya pun menikmati kelapa muda langsung dari pohonnya yang begitu tinggi sembari disapu dan dirayu semilir angin pantai yang sejuk.

Tadinya di sana bertemu dengan Ustadz Sarmadani dan Ustadz Anwar. Keduanya pun mengajak kita semua sholat Dzuhur di satu lokasi yang juga sedang dijalankan proyek pembangunan pesantren di lahan seluas 13 hektar di Lamatanre, Pinrang yang juga diinisiasi dan dipantau langsung oleh Bapak Pimpinan.

Di Lamatanre saya langsung dikejutkan dengan program yang sangat strategis sekaligus program ketahanan pangan yang nyata. Begitu turun dari Kijang Innova saya langsung dapati seorang dai yang sedang asyik memanen cabe.

Di lahan itu ada juga jagung, kacang hijau, yang sebagian dipanen khusus untuk di bawa ke Jakarta untuk para senior di DPP. Bahkan juga ada empang yang menjadi tempat budidaya ikan. Dan, kini, sekalipun program masih tahap awal, pembebasan lahan telah dimulai untuk mendukung tercapainya visi besar Hidayatullah di lahan tersebut.

Hal ini memberikan sebuah petunjuk besar bagi kaum muda bahwa dakwah harus terus dihidupkan, dikobarkan dan tentu saja dirawat dengan penuh kesungguhan. Bukan sekedar dengan kemampuan retorika tapi aksi nyata, memanfaatkan lahan yang ada sebagai penopang juga teladan dakwah itu sendiri.

Tak cukup rupanya saya diajak hanya di Parepare, malamnya saya bersama Ustadz Sarmadani, Ustadz Muharram dan Lukman Hakim diberangkatkan ke Masamba, lokasi yang baru saja dilanda banjir besar. Namun, aksi sepanjang hari di Parengki dan Lamatanre tak membuat tubuh kami semua kuat langsung tiba di Masamba. Terlebih dalam perjalanan itu hanya Ustadz Sarmadani yang lihai membawa roda empat bernama HILUX itu melibas medan panjang yang membentang.

Tepat pukul 00.00 pada 11 Agustus 2020 rombongan Masamba ini tiba di Pesantren Hidayatullah Belopa, Luwuk. Kami pun istirahat di sana hingga pagi hari, kemudian melanjutkan perjalanan ke Masamba dan tiba di lokasi menjelang Dzuhur.

Maksud hati hendak duduk walau sebentar, tapi seorang relawan, Abdul Aziz langsung menyambar saya untuk melihat kegiatan trauma healing yang dilakukan di musholla darurat oleh Mushida dan pada dai Hidayatullah, ada Ustadz Ilham Syawal, Ustadz Imran dari DPW Hidayatullah Sulbar ditemani oleh Ustadz Ihsan sedang serius berdiskusi dengan jama’ah yang merupakan para pengungsi dari kaum ibu tentang waktu yang tepat untuk mereka menguatkan aqidah dan ibadah di dalam pengungsian.

Saya melihat langsung bagaimana para dai Hidayatullah itu tulus dan sabar di dalam membina masyarakat yang menjadi pengungsi. Bahkan semua berlangsung secara sistemik hanya berdasarkan kesadaran. Jika ada relawan dan Ustadz yang sudah lebih dari dua pekan bertugas di pengungsian, maka relawan dan Ustadz dari daerah lain akan segera datang menggantikan. Terus terjadi seperti itu. Ini benar-benar luar biasa.

Hingga tiba waktu adzan Dhuhur saya kembali ditarik ke Posko Pengungsian BMH yang telah memberikan layanan instalasi air bersih kepada pengungsi, penerangan, hingga WC umum yang di situ juga ada mushola darurat khusus pembinaan anak-anak dan remaja. Usai makan siang, saya diajak ke hulu Sungai Radda. Di sana kutemukan bahwa sungai ini aslinya adalah sungai kecil, sahabat masyarakat di Masamba. Namun siapa sangka, sahabat bernama sungai itu tiba-tiba meluap, memboyong bebatuan Teladan dalam Dakwah dari Pelaku Dakwah di Sulawesi Selatan, pasir, dan tentu saja gelombang air yang begitu dahsyat. Hingga saya tiba di Masamba saya dapati banyak rumah tertimbun pasir dan lumpur.

Alhamdulillah, di balik perisitwa besar yang mengerikan itu kini anak-anak dan masyarakat yang mengungsi justru bisa tersenyum. “Kami bisa sholat sekarang,” kata Pak Fadli seorang warga pengungsi dari Desa Meli. “Saya senang, karena di pengungsian bisa lebih banyak belajar Alquran,” sahut seorang anak bernama Nurul Hijrah.

Dalam hati saya berkata, “Subhanallah, inilah berkah dakwah. Bayangkan jika dalam situasi sulit dan berat, para pengungsi ini tidak mendapat sentuhan dakwah. Maha Suci Allah yang menggerakkan kita semua terlibat membantu mereka yang dalam kesulitan.”

Sore pun menjelang, Ustadz Sarmadani mengajak saya melihat Pesantren Hidayatullah Masamba yang selamat dari terjangan banjir. Sebuah keajaiban, karena posisi pesantren tidak lebih tinggi dari pemukiman warga yang telah luluh lantak. “Allah yang melindungi,” kata Ustaz Ilham Syawal.

Namun, dasar Ustadz Sarmadani yang nampaknya dapat arahan khusus dari Ustadz Mardhatillah, ternyata Masamba bukan akhir perjalanan ini. “Mumpung sudah Masamba, sekalian kita ke ujung Sulsel, ke Luwuk Timur saja kita,” ucap Ustadz murah senyum dan lihai dalam banyak hal itu.

Perjalanan pun berlanjut, mulai dari Lambara, Wawondula, kemudian kembali ke arah Makassar dengan singgah ke Angkona, Bungadidi, Palopo, dan Sidrap.

Sebuah sajian istimea terjadi di Angkona. Saya bertemu Ustaz M. Yusuf Gatti. Fisiknya sudah jelas menunjukkan beliau tak lagi muda. Bahkan, dalam setiap tugas dakwah ia selalu meninggalkan pesantren yang telah eksis dirintis dengan kembali memilih untuk merintis pesantren. Sekarang di Angkona, Luwuk Timur.

Saya penasaran dengan Ustadz yang tak lagi muda ini. Kesempatan ngobrol pun tiba, sontak saya tanya, mengapa Ustadz terlihat asyik ngurus dakwah di pesantren. “Saya selalu berdoa semoga Allah tidak menjadikan hati ini cinta kepada dunia walau sesaat,” jawabnya.

Lebih jauh ia bertutur, bahwa dirinya ingin menjadikan dakwah sebagai sarana menuju kebahagiaan akhirat. “Kalau mau berburu dunia, sudah banyak orang tergelincir. Maka saya memilih dakwah di pesantren ini, karena saya yakin inilah jalan terbaik menuju kebahagiaan di akhirat. Di sini saya belajar ikhlas dan terus beramal,” tegasnya.

Saya pun terharu dengan apa yang dijelaskan oleh Ustadz Yusuf Gatti, sosok yang terus semangat dan penuh keteladanan dalam dakwah. Kembali ke Makassar hingga kini di Jakarta, saya seakan mendapatkan sebuah ilmu dari guru kehidupan, yakni semua Ustadz yang hingga kini konsisten dakwah di Sulawesi Selatan.

Terimakasih Ustadz Mardhatillah, Ustadz Safruddin, Ustadz Sarmadani, dan Ustadz Muharram, serta sahabat muda penuh semangat, Lukman Hakim. Perjalanan ini sangat berarti dan memberikan makna lebih mendalam bagiamana seharusnya diri dalam dakwah, yang idealnya tak sekedar bisa kita lakukan, tapi mesti bisa kita teladankan agar nyala dakwah terus berkobar menyinari kehidupan.

Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah

Subscribe

Masukkan alamat email pada kolom bawah ini untuk mendapatkan pembaharuan artikel terkini www.Hidayatullah.or.id langsung di email Anda.