Menggelorakan Konsolidasi

Oleh Imam Nawawi*

TIDAK bisa kita pungkiri bahwa hati ini sangat bahagia, bersyukur dan optimis akan masa depan umat seiring dengan diperingatinya Milad ke 50 Tahun Hidayatullah.

Namun, sejatinya momentum tersebut merupakan satu pengingat bahwa spirit jihad (kesungguhan) khususnya bagi kaum muda harus lebih dikonsolidasikan.

Kata konsolidasi sebagaimana belakangan sering didengungkan dalam beragam forum kelembagaan baik formal maupun informal dan nonformal memainkan peran strategis bagi eksistensi, kelangsungan dan pengembangan gerakan organisasi.

Ketua Umum DPP Hidayatullah, Ustadz DR. Nashriul Haq, MA dalam pembekalan dan pembukaan Rakornas BMH secara hybrid, Rabu, 9 Muharram 1443 H (18/8/2021) menegaskan perihal betapa konsolidasi ini amat penting.

“Konsolidasi ini penting. Eksistensi dan keberlangsungan lembaga sebuah organisasi, apalagi sebuah harakah, seperti Hidayatullah, sangat ditentukan oleh sejauh mana ia bisa melakukan konsolidasi. Kalau konsolidasi dilakukan, diperkuat, maka ia akan bertahan, akan berlanjut. Tapi kalau konsolidasi ini diabaikan, maka keberlangsungan sebuah lembaga itu akan terancam”

Fokus Jangka Panjang

Ketika konsolidasi yang ada, meliputi konsolidasi idiil, organisasi dan wawasan, berjalan dengan baik, maka soliditas tim akan sangat kuat, sehingga dapat unggul di dalam menghadapi beragam tantangan dan rintangan pergerakan.

Di sini setiap kader perlahan akan mulai paham tentang fokus jangka panjang gerakan Hidayatullah membangun peradaban Islam.

Bahwa di dalam upaya membangun peradaban Islam, mainstream organisasi berupa dakwah dan tarbiyah merupakan satu fokus jangka panjang yang harus digeluti dengan sebaik-baiknya, sehingga ke depan lahir generasi Muslim yang unggul dan membawa kemajuan bagi umat, bangsa dan negara.

Sebagaimana diingatkan oleh Ustadz Nashirul bahwa, Ustadz Abdullah Said selaku pendiri lembaga ini fokus membangun kader dai, mengembangkan pesantren dan menerapkan tantan nilai kehidupan berkampus yang benar-benar bernafaskan Islam.

“Maka beliau (Ustadz Abdullah Said) itu, tidak terlalu sibuk merespon kejadian-kejadian yang muncul. Beliau konsen membangun pesantren, melahirkan kader dai dan mengantarkan kehidupan pesantren sebagai miniatur peradaban Islam,” papar Ustadz Nashirul dalam kesempatan itu.

Maka, seperti itulah fokus yang harus kita miliki sebagai kader penerus perjuangan peradaban ini.

Jika tidak, maka kader akan terkecoh oleh segala macam kejadian, isu dan pemberitaan yang melelahkan dan tanpa sadar menguras energi namun tidak berdampak produktif apapun, baik dalam hal pembangunan kapasitas diri lebih-lebih percepatan kemajuan organisasi.

Oleh karena itu, penting kita camkan benar-benar pesan dari Ustadz Abdullah Said bahwa idealnya kader-kader ini mampu membuat irama sendiri dalam kehidupan ini, sehingga khalayak mengikuti kita. Bukan sebaliknya yang terjadi. Kita yang terus menari di atas irama dan gendang orang lain.

Langkah itu amat penting untuk mewujudkan peradaban Islam. Perlu fokus, kesabaran dan konsistensi tinggi. Sebagaimana pesan Al-Quran kepada kita semua.

“Sekiranya (yang kamu serukan kepada mereka) ada keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, niscaya mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu terasa sangat jauh bagi mereka.” (QS. At-Taubah [9]: 42).

Oleh karena itu, di sinilah pentingnya konsolidasi bagi kemajuan organisasi sehingga tetap memiliki daya fokus yang tinggi serta produktivitas yang progresif bagi kelangsungan lembaga dalam upaya melahirkan kader-kader terbaik melalui gerakan mainstrem dakwah dan tarbiyah. Allahu a’lam.*

*) Imam Nawawi, penulis adalah Ketua Umum PP Pemuda Hidayatullah