Kesungguhan Amal, Bukan Keanehan Amal

ADA SEBAGIAN orang yang tidak puas dengan hal-hal normal, baik dalam beragama maupun bermasyarakat. Lalu, ia melakukan sesuatu yang janggal dan tidak biasanya.

Sepertinya, mereka berprinsip bahwa perhatian Allah hanya bisa didatangkan oleh amal-amal yang aneh, tidak oleh sesuatu yang biasa-biasa saja. Ini mirip ungkapan klise: “jika ada anjing menggigit orang, itu bukan berita; tapi kalau ada orang menggigit anjing, itu baru berita.”

Maka, amalan yang dijalani pun aneh-aneh, tidak merasa cukup dengan pedoman Al-Qur’an dan Sunnah. Ada yang berlebih-lebihan (ghuluw/ifrath), tapi ada juga yang sembrono dan sangat kurang (taqshir/ tafrith). Mereka menyangka bahwa Allah akan terpesona oleh keanehan yang dipersembahkannya, padahal Dia justru murka.

Banyak motif yang melatari tindakan-tindakan janggal mereka, antara lain ingin termasyhur. Hasrat kepada popularitas memang laten dalam jiwa manusia.

Oleh karenanya, sebagian orang – dengan nada jengkel – berkata kepada orang-orang yang sangat berambisi untuk terkenal ini, “Kencingi saja sumur Zamzam, kamu pasti tersohor!” Sebab, bila hati sudah gelap, tidak penting apakah tindakannya benar atau salah, asalkan tujuan tercapai.

Dalam konteks ini, Hudzaifah bin Yaman pernah menasehati para ahli ibadah dan ulama’ di zaman Tabi’in, ketika beliau melihat kesungguhan mereka dalam beramal.

Beliau (Hudzaifah bin Yaman) berkata, “Wahai para Qurra’, istiqamahlah kalian! Sungguh, kalian telah mendahului (orang-orang yang sezaman dengan kalian) dengan sangat jauh. Namun, jika kalian melenceng ke kanan dan ke kiri, sungguh kalian telah tersesat sejauh-jauhnya.” (Riwayat Bukhari).

Artinya, jalan satu-satunya untuk meraih ridha Allah bukan dengan amalan-amalan yang aneh, tetapi dengan kesungguhan untuk menetapi jalan Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketika menjelaskan hadits di atas, Syeikh Dr Mustafa al-Bugha berkata, “Istiqamahlah kalian, maknanya: tempuhlah jalan keistiqamahan, yakni (istilah yang digunakan) untuk menyatakan keadaan berpegang teguh kepada perintah Allah dan meneladani Sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, baik dalam bentuk melakukan suatu amalan maupun meninggalkannya.”

Ringkasnya, bila Allah menyuruh melakukan sesuatu maka kerjakan saja seperti yang disuruhkan itu dengan serius, dan bila diminta menjauhi sesuatu maka tinggalkanlah sebagaimana adanya secara sungguh-sungguh. Inilah yang disebut dengan tepat (sadad) dan mengena (shawab) pada kebenaran (haqq).

Ini pula yang harus ada bersama dengan keikhlasan. Sebab, amal yang benar tidak diterima bila tidak ikhlas semata-mata karena Allah, akan tetapi niat yang ikhlas tidak akan bermanfaat jika amalnya salah apalagi maksiat.

Adapun mereka yang berharap mendapat simpati manusia dengan amalnya, pada dasarnya hanya mempersulit diri sendiri.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata:

“Keikhlasan itu bagaikan minyak wangi yang tersimpan rapat-rapat di dalam hati, yang mana aromanya mampu membangkitkan orang yang membawanya. Amal adalah bentuk yang terlihat, sedangkan keikhlasan merupakan ruhnya. Orang yang ikhlas menganggap amal ketaatannya (kepada Allah) seperti benda, karena ia menilainya sebagai sesuatu yang remeh, sementara pena-pena (catatan amal) telah mengabadikannya sebagai suatu esensi yang murni. Keikhlasan yang sedikit itu sebenarnya banyak (nilainya) …… Amal orang yang riya’ itu dengan seluruh jaringannya adalah kulit belaka. Orang yang riya’ akan memenuhi guci-guci amalnya dengan pasir yang akan memberatinya dan tidak memberinya manfaat. Aroma riya’ itu bagaikan bangkai yang dihindari oleh hati, dan orang yang riya’ itu tidak akan bisa bersembunyi dari pengamatan orang yang cerdik.” (Al-Mud-hisy, hal. 418).

Amal yang tidak benar dan tidak ikhlas juga mudah ditunggangi setan. Disisipkannya ujub, riya’, dan takabbur ke dalam hati pelakunya. Ia akan dibuat merasa hebat, kemudian meremehkan orang lain.

Jiwanya digembungkan melebihi kadar sebenarnya, sehingga lupa diri. Ia akan melihat semua orang lain salah, tetapi tidak bisa merasakan secuil pun kekurangan dirinya sendiri. Maka, tersesatlah ia dari jalan kebenaran, sejauh-jauhnya.

Kerugiannya pun sudah tampak nyata, sebab ketidaktulusan pasti berbuah penolakan baik dari Allah maupun sesama makhluk. Allah Maha Tahu rahasia jiwa manusia, sehingga kebusukan amalnya segera ditolak dari lembar-lembar catatan kebajikan.

Di saat bersamaan, jiwa manusia pada dasarnya berkomunikasi secara langsung dengan jiwa yang lain. Seringkali kita dapat merasakan ketidaktulusan dan pamrih di balik perbuatan seseorang, walau kita tidak tahu isi hatinya.

Oleh karena itu, perbaikilah niat dan motivasi di hadapan Allah, agar tidak melenceng dan sia-sia. Lalu, serahkan selebihnya kepada kebijaksanaan dan pengaturan-Nya. Dia tidak pernah lalai, dan janji-Nya selalu ditepati.

Inilah makna pernyataan Muhammad bin Wasi’ (Tabi’in, w. 123 H), “Ketika seseorang telah berfokus hanya kepada Allah, maka Allah akan menghadapkan hati para hamba-Nya (yang lain) kepadanya.” (Riwayat Ibnu Abi Dunia dalam al-Ikhlash wan Niyyat no. 12).

Betapa banyak usaha dan dana yang dikerahkan sebagian kalangan untuk menarik simpati dan kekaguman pihak lain dengan tindakan yang aneh dan spektakuler, namun karena isi hatinya yang tidak tulus, semua kemudian berubah menjadi arena penelanjangan aib belaka.

Sebaliknya, ada orang-orang yang samasekali tidak tertarik untuk menyiar-nyiarkan diri, namun Allah ingin agar kebaikannya menjadi teladan di tengah-tengah hamba-Nya, sehingga amal yang sangat tersembunyi pun akhirnya tersebar juga.

Bukankah Allah sebaik-baik pengatur rencana, dan tidak ada sesuatu pun yang terhalang dari penglihatan-Nya. Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar