Tahun Politik dan Simpati Allah

DI TAHUN politik ini, berbicara tentang “menarik simpati Allah” sangatlah penting. Sebab, pada kenyataannya banyak orang sangat sibuk menarik simpati manusia alias “politik pencitraan”, sementara kredibilitas dirinya di hadapan Allah sangat patut dipertanyakan.

Kita memang tidak tahu isi hati mereka, namun bila amalan-amalan lahiriahnya jauh dari keridhaan Allah, kita pun sangat layak untuk meragukan kejujuran maupun ketulusannya.

Artikel ini tidak hendak mengupas Demokrasi atau Pemilu dalam pandangan Islam. Selain forumnya tidak memadai, jauh lebih baik bila Anda bertanya kepada ahlinya. Di sini, mari mencermati sisi lain yang mengemuka, yaitu kampanye. Semoga kita bisa memetik pelajaran darinya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kampanye” berarti (1) gerakan (tindakan) serentak (untuk melawan, mengadakan aksi, dsb); (2) kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi politik atau calon yang bersaing memperebutkan kedudukan dalam parlemen dsb untuk mendapat dukungan massa pemilih dalam suatu pemungutan suara.

Definisi ini mengungkapkan banyak hal, termasuk misi dan tujuan para partisipan di dalamnya. Sebab, di sana terkandung beberapa kata dan istilah khusus seperti organisasi politik, bersaing, memperebutkan kedudukan, dukungan massa, dll. Masing-masing pasti menyiratkan makna dan kesan tertentu di benak kita, entah negatif maupun positif.

Jelasnya, kampanye adalah persaingan dan perebutan kedudukan maupun dukungan massa. Banyak diantaranya yang mengabaikan etika dan syariat, sehingga kegiatan seperti ini mirip dengan “memperebutkan dunia” yang dicela dalam karya-karya ulama klasik. Sebab, bila saja tujuan itu bersih dan tulus, tatacaranya tentulah sama bersih dan tulusnya.

Lihatlah, semata-mata demi kedudukan dan dukungan massa itu telah banyak orang berani mengumbar janji dusta, memalsukan ijazah, berlaku curang, main suap, menyerempet kekufuran dan kemusyrikan, mencemooh, memfitnah, dsb. Sepertinya, mereka berusaha keras agar disanjung dan didukung manusia, namun di saat bersamaan telah mencemarkan dirinya di hadapan Allah.

Sungguh, kejayaan yang ditegakkan di atas kemurkaan Tuhan tidak pernah bertahan lama. Aduh, betapa malangnya kerja keras yang hanya diniatkan untuk memperebutkan dunia! Betapa ruginya orang-orang yang beramal hanya untuk menarik simpati manusia, melupakan simpati Allah!

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata:

“Saya merasa heran dengan orang yang kezuhudannya dibuat-buat agar dilihat sesama manusia. Dengan tindakan itu ia berharap menjadi dekat di hati mereka, namun ia lupa bahwa hati mereka sebenarnya berada di tangan Dzat yang seharusnya menjadi tujuan amal (yakni, Allah). Jika Allah ridha kepada amalnya dan menilainya sebagai amal yang ikhlas, Dia pasti akan mengarahkan hati-hati manusia kepadanya.

Namun, jika Dia melihat amal itu tidak ikhlas, Dia akan membuat hati-hati manusia berpaling darinya. Dan, kapan pun seseorang beramal dengan tujuan ingin melihat (adanya) perhatian orang lain kepadanya, maka ia telah menyerempet kemusyrikan, sebab mestinya ia sudah puas dengan perhatian Allah saja kepadanya. Diantara yang harus ada dalam keikhlasan adalah tidak menginginkan perhatian orang lain.

Keikhlasan itu diraih bukan dengan mengharap perhatian mereka, namun justru dengan membencinya. Hendaknya seseorang mengetahui bahwa amal perbuatannya bisa dirasakan orang lain secara global, meskipun mereka tidak pernah melihatnya secara langsung. Sebab, hati bisa mengenali orang shalih melalui keshalihannya, meskipun ia tidak menyaksikannya sendiri.

Adapun orang yang dengan amalnya menghendaki perhatian sesama makhluk, maka amalnya telah berlalu dalam kesia-siaan. Sebab, amal itu tidak diterima oleh Sang Pencipta, tidak juga oleh sesama makhluk. Hati mereka telah berpaling darinya. Maka, sia-sialah ilmu, dan usia pun terbuang percuma.” (Shaidul Khathir, hal. 374).

Demikianlah kenyataannya. Ketika seseorang tidak beriman dan/atau enggan melaksanakan kewajibannya kepada Allah, maka janji-janji untuk mengabdi dan berkontribusi kepada masyarakat tidak mungkin diniatkan demi meraih pahala dan pasti bukan bagian dari amal shalih. Semua akan sarat interest duniawi seperti uang, kekuasaan, fanatisme golongan, dsb.

Apalagi, jika dia sudah dikenal luas kefasikannya, jelas lebih berbahaya lagi. Jangan sekali-kali mengira serigala tersenyum bila ia menampakkan gigi-giginya! Sebentar kemudian, bila ada kesempatan, ia pasti menerkam Anda!

Mestinya, kita harus mendahulukan usaha untuk menjadi sosok yang pantas mendapatkan simpati Allah, bukan simpati manusia. Seluruh bagian syariat Islam pada dasarnya telah didesain sedemikian rupa agar menjadi sarana untuk menarik simpati Allah tsb, dan menjadi tugas kita untuk memastikan pengamalannya. Adapun janji Allah, tidak perlu dipertanyakan lagi.

Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini:

“Sungguh bila Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril lalu berfirman: ‘Sungguh Aku mencintai si fulan, maka cintailah dia!’ Maka, Jibril pun mencintainya. Ia kemudian berseru diantara para penghuni langit: ‘Sungguh Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!’ Lalu, para penghuni langit pun mencintainya. Kemudian, ditimbulkanlah penerimaan dan kecintaan terhadapnya di muka bumi.

(Sebaliknya), bila Allah membenci seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril lalu berfirman: ‘Sungguh Aku membenci si fulan, maka bencilah dia!’ Maka, Jibril pun membencinya. Ia kemudian berseru diantara para penghuni langit: ‘Sungguh Allah membenci si fulan, maka bencilah dia!’ Lalu, para penghuni langit pun membencinya. Kemudian, ditimbulkanlah kebencinan terhadapnya di muka bumi.” (Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah). Wallahu a’lam.

Ust Alimin Mukhtar, penulis adalah pengasuh Ar Rohmah Pondok Pesantren Hidayatullah Malang. Ikuti tulisan beliau lainnya di sini.