Keinginan yang (Kebetulan) Sesuai Takdir

SERIBU satu cara memang bisa kita rancang untuk memastikan mulusnya semua rencana dan program yang kita buat. Bila perlu, kita bisa menyiapkan Rencana A, B, dan C.

Jika yang pertama gagal, kita bisa segera berpindah kepada yang lainnya. Akan tetapi, karena dunia ini tidak berjalan mengikuti selera dan keinginan kita, pada kenyataannya tidak setiap yang kita harapkan bisa terwujud.

Bagaimana pun, dunia ini punya Tuan dan Penguasa Maha Perkasa yang mengendalikan seluruh gerak-geriknya, dan hanya kepada-Nya ia tunduk.

Inilah makna firman Allah dalam QS. Fusshilat: 11,

“Kemudian Dia (Allah) menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan suka rela atau terpaksa.’ Keduanya menjawab: ‘Kami datang dengan suka rela.’”

Sebenarnyalah, segenap keinginan kita baru bisa terealisir bila selaras dengan apa yang dikehendaki Allah. Sebagai contoh, mari kita ambil kasus “pawang hujan”.

Banyak orang sering bertanya-tanya ketika mengetahui para dukun yang “bisa” menolak hujan dan memindahkannya ke tempat lain. Alhasil, dukun itu pun dikagumi dan dipuja-puji.

Sayangnya, mereka lupa bahwa tidak semua pawang dan dukun selalu berhasil dalam usahanya tersebut. Bahkan, kisah-kisah kegagalan mereka terlalu banyak untuk dideretkan.

Sebenarnya, jika kita renungkan baik-baik, keberhasilan para pawang itu tidak ada bedanya dengan tebakan nasib yang dilontarkan oleh para peramal. Adakalanya tepat, walau lebih banyak yang meleset.

Nasib baik atau kesialan yang dialami seseorang pada dasarnya tidak ada hubungannya samasekali dengan ramalan tersebut. Entah diramalkan atau tidak, apa yang dikehendaki oleh Allah terhadap seseorang tetaplah harus terjadi. Tidak akan ada yang bisa menghindari, memanipulasi, membatalkan, atau merekayasanya.

Jika hujan memang sudah ditetapkan oleh Allah untuk tidak turun, maka adanya “upaya” atau tidak dari pawang sebetulnya sama saja. Sebaliknya, jika hujan sudah ditetapkan mengguyur suatu kawasan, maka sejuta “usaha” para pawang tidak akan ada artinya.

Dalam kedua kasus ini, pawang hanya mengambil keuntungan dari apa yang sesungguhnya di luar kuasa dan usahanya. Ketika hujan bergeser atau tidak jadi turun berdasar takdir Allah, ia menepuk dada secara dusta dan mengklaim bahwa semua itu adalah hasil kesaktiannya.

Akan tetapi, jika hujan gagal diusir dan tetap tercurah dari langit, dengan mudahnya ia mencari-cari alasan dan menyalahkan orang lain, misalnya: menuduh “mahar” yang kurang atau sesaji yang tidak lengkap.

Mari kita amati lebih dekat! Bukankah hujan bisa saja turun atau tidak setiap hari, di sepanjang tahun dan di belahan bumi mana pun, tanpa peran para pawang untuk mengatur-aturnya? Sungguh semua itu berada di bawah kuasa Allah sepenuhnya.

Bahkan, Allah sendiri telah menentukan seberapa banyak jumlah air hujan yang turun di setiap jengkal permukaan bumi, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran (tertentu); lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa pula untuk menghilangkannya.” (QS. al-Mu’minun: 18).

Bagi orang yang mengerti Ilmu Alam, ia pasti menyadari bahwa terjadinya hujan bukanlah proses sepele. Ia merupakan “kerjasama” antar berbagai hukum alam yang amat-sangat kompleks. Di dalamnya ada faktor angin, matahari, lautan, suhu dan kelembaban udara, letak geografis, kemiringan sumbu bola bumi, dan masih banyak lagi.

Siapakah yang merancang dan sanggup mengendalikan semua ini? Adakah manusia berperan sedikit saja di dalamnya?

Oleh karenanya, Allah menyatakan bahwa turunnya hujan merupakan satu diantara lima kunci perkara gaib yang hanya dipegang-Nya sendiri (QS. Luqman: 34).

Hakikat semisal ini sangat dimengerti oleh generasi Salafus Sholih, bahwa segala sesuatu hanya mungkin terjadi bila Allah mengizinkannya.

Alkisah, terjadi perselisihan diantara Mutharrif bin ‘Abdillah (Tabi’in Senior, w. 95 H) dengan seseorang di masjid kampungnya.

Orang itu mengucapkan kata-kata yang buruk dan tidak disukai oleh Mutharrif, sehingga beliau pun berkata, “Jika engkau dusta, semoga Allah mematikanmu!”

Seketika matilah orang itu di tempatnya. Keluarga orang itu tidak terima dan mengadukannya kepada Ziyad Ibnu Abihi (gubernur Kufah, Basrah, dan seluruh Iraq di masanya).

Ziyad bertanya, “Apakah dia menyentuhnya atau memukulnya?” Mereka menjawab, “Tidak.” Maka, Ziyad pun berkata, “(Kalau begitu), ini hanyalah doa orang shalih yang kebetulan sesuai dengan takdir.” Dan, tidak ada sanksi apa pun yang dijatuhkan kepada Mutharrif. (Riwayat Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyqa).

Maka dari itu, kita diajarkan untuk bereaksi secara tepat dalam menghadapi pasang-surut kehidupan; semuanya, besar maupun kecil. Tetap optimis, tidak menyalahkan siapa-siapa, dan kembali bangkit setiap kali dihantam persoalan. Sebab, semua ini tidak pernah lepas dari pengaturan dan rencana Allah, sedangkan semua perbuatan-Nya pasti adil dan bermakna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu maka jangan katakan: ‘seandainya saja aku lakukan pasti jadinya begini dan begitu’. Akan tetapi, katakan: ‘Allah telah menakdirkannya, dan apa saja yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.’ Sebab, (perkataan) ‘seandainya’ itu membuka perbuatan setan.” (Riwayat Muslim, dari Abu Hurairah. Dipotong dari teks lengkapnya). Wallahu a’lam.

Ustadz Alimin Mukhtar