Agar Tidak Terpaksa

DALAM mengamalkan beragama atau tepatnya mengamankan ajaran agama, memang tidak perlu ada paksaan apalagi dipaksa.

Allah secara tegas menyampaikan dalam surat al Baqarah:

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah nyata kebenaran dan kesesatan. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, sesunguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tak akan putus. Allah Maha Mendengar dan Mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 256).”

Allah memang tidak perlu memaksa, karena Allah tidak punya kepentingan sedikitpun terhadap mahkluq. Justru semua makhluq yang berkepentingan dengan Allah. Semua bergantung kepada Allah

Seandainya semua makhluq taat beragama maka tidak menambah sedikitpun kemuliaan Allah. Sebaliknya jika semua makhluq tidak taat dalam beragama maka tidak mengurangi sedikitpun kemuliaan Allah. Sehingga tidak ada alasan bagi Allah untuk memaksa makhluq untuk taat bergama.

Kemudian, manusia tidak bisa memaksa kepada orang lain untuk beragama. Jangankan orang lain, kepada anak, saudara atau pasangan juga tidak ada daya untuk memaksa agamanya.

Mungkin bisa memaksa dengan ancaman atau intimidasi, tapi sifatnya sementara. Keterpaksaan biasanya menimbulkan kemunafikan atau kepura-puraan.

Namun meski tidak ada paksaan dalam beragama tapi ikhtiar harus tetap dilakukan untuk mengajak orang lain agar menjalankan agama. Ini bagian dari tugas para nabi dan pengikutnya untuk taat beragama

Seperti dakwah, tarbiyah, amar makruf nahi munkar, nasehat menjadi program untuk memberikan pencerahan dan kesadaran kepada masyarakat.

Ketika seseorang atau komunitas sebuah masyarakat memiliki keimanan yang memadai maka tidak perlu ada paksaan untuk menjalankan agama yang diimaninya. Karena iman itu mendorong untuk taat kepada agama, tanpa dipaksa dan disuruh dengan sendirinya akan taat beragama.

Bagi orang beriman sudah sangat jelas antara haq dan bathil, kebaikan dan keburukan, ketaatan dan kemaksiatan. Sehingga orang beriman auto taat dan tidak perlu dipaksa.

Sehingga iman menjadi kunci agar tidak tidak ada rasa terpaksa dalam mentaati agama. Menumbuhkan, memupuk dan meningkatkan keimanan adalah yang harus senantiasa menjaga program utama.

Dalam hal ini, sangat penting adanya komunitas atau jamaah yang memiliki satu pemahaman dan pandangan hidup yang dibingkai dengan kepemimpinan yang kuat.

Iman adalah hal yang mendasar dan besar, tidak bisa dilakukan secara pribadi atau mandiri. Memerlukan kolaborasi dan kerjasama.

Hidup berjamaah dalam kepemimpinan iman, menghindarkan rasa terpaksa. Ada nasehat dan kontrol sosial untuk senantiasa di jalan iman.

Ust Abdul Ghofar Hadi