(Catatan Perjalanan I) Pesona Dakwah Papua: Antara Malaria dan Corona

Penulus (tengah) berfoto di depan Kantor Gubernur Provinsi Papua

SAAT masih kecil dan remaja sebelum menjadi santri Hidayatullah, persepsi tentang Papua itu hanya sekitar masalah prestasi sepakbolanya yaitu Persipura. Dengan pemain-pemain yang kuat dengan bakat alami. Burung cantiknya yaitu cendrawasih dan kesan seramnya yaitu gerakan sparatisme OPM. Perusahaan besarnya Freeport.

Namun setelah menjadi santri di Hidayatullah, ada pesona lain yang lebih menarik dan membuat penasaran yaitu geliat dakwah di tanah Papua. Cerita tantangan mengenalkan Islam kepada suku-suku pedalaman, nyamuk yang banyak dan sebesar anak ayam. Bagaimana perjalanan membelah hutan, menggigil menahan serangan malaria. Cerita heroik yang mengundang penasaran dan menumbuhkan spirit tugas dakwah para santri.

Tahun lalu sebenarnya ada kesempatan juga untuk mendampingi Rakerwil. Tapi karena covid-19 yang saat itu masih ketat dengan PPKM maka hanya online saja.

Setelah sekian tahun mendengar cerita dakwah Islam di tanah Papua dari para dai Hidayatullah. Alhamdulillah Allah mentaqdirkan penulis bisa menginjakkan kaki di tanah Papua.

Saat berangkat dari rumah, berpamitan dengan keluarga dan semua teman-teman. Tidak ada perasaan apa-apa, artinya ini perjalanan tugas. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Namun saat tiba di bandara Sukarno Hatta diingatkan sama istri.

” Abi.. kalau ada toko, beli autan atau apa untuk dipakai jika sudah tiba di Papua”

“Kenapa?”

“Kan banyak nyamuk malaria di sana” jawabnya

” Oh iya. Insyaallah. Doanya”

Dari situ ada perasaan lain-lain. Baru teringat ganasnya nyamuk malaria di Papua. Akhirnya berusaha cari autan di bandara. Sebagai ikhtiar antisipatif dan bermunajat.

Tiba di bandara Papua, dijemput teman-teman.

Di selasela pembicaraan, ada cerita bahwa bahwa saat awal-awal datang dulu, nyamuk ribuan mengerumuni santri saat shalat di masjid. Tidak bisa shalat lama-lama karena tidak tenang dan bisa luka kaki digigit oleh nyamuk yang banyak dan hitam.

“Tapi sekarang sudah tidak seperti itu lagi kan?” Tanya penulis untuk menenangkan diri.

” Alhamdulillah sudah tidak ustadz, karena sudah ramai penduduk, hutan banyak di tebang dan jalan raya sudah banyak dibangun” Jawab teman.

” Tapi hari ini ada beberapa santri dan ustadz. sedang sakit malaria.” Tambahnya

Subhanallah ternyata masih ada nyamuk malaria tapi insyaallah baik baik saja”

Ada statement bahwa belum dianggap sah datang ke Papua jika belum kena malaria

Itu hanya sekedar candaan dan sebagai gambaran betapa malaria itu adalah nyata adanya.

Ada juga yang mengatakan bahwa malaria lebih berbahaya dan mematikan daripada corona. Orang Papua tidak takut dengan corona karena sudah terbiasa hidup berdampingan dengan malaria. Ada banyak macam jenis malaria di Papua.

Jika orang kena malaria maka resiko paling ringan adalah panas menggigil dari dalam. Selanjutnya bisa halusinasi bahkan stress karena tidak tahan dengan suhu badan yang sangat tinggi.

Dakwah di Papua sudah terbiasa hidup dengan under pressure atau di bawah tekanan. Mentalitas para dai Hidayatullah tertempa kondisi alam dan suasana Papua sehingga kuat dan membaja.

Bukan hanya nyamuk malaria dan corona. Tapi ancaman dari gerakan separatis yang tiba-tiba datang, isu pribumi dan pendatang, angka kriminalitas dengan pembunuhan di jalanan karena banyak oknum yang masih suka mabuk.

Dua kali mendengarkan ceramah para ustads Hidayatullah di masjid dan melihat performance para santri. Memang spirit dan mentalitasnya menunjukkan eksistensinya untuk eksis hidup di jalan dakwah.

Menurut ustadz Mualimin Amin sebagai ketua DPW Hidayatullah Papua mengatakan bahwa tugas berat kita di Papua, selain ekspansi adalah menjaga militansi dan mentalitas teman-teman. Tapi kita yakin dengan doa jamaah maka Hidayatullah akan terus mempesona dengan gerakan dakwah dan tarbiyah.*/ BERSAMBUNG

Abdul Ghofar Hadi