[Catatan Perjalanan II] Belajar dari Ustadz Sudirman Mengabdi di Papua

Wasekjen DPP Hidayatullah Ust Abdul Ghofar Hadi (penulis) bersama Ust Sudirman Hambal (pegang sorban) dan beberapa dai Hidayatullah yang berfoto bersama usai pembukaan Rakerwil Hidayatullah Papua di Jayapura, Kamis (27/1/2022) malam.

ALHAMDULILLAH bertemu dengan salah satu saksi sejarah dakwah di tanah Papua yaitu Ust Sudirman Hambal. Beliau termasuk generasi kedua Hidayatullah yang ditugaskan ke Papua dan sekarang dituakan karena dianggap paling senior yang dipertahankan dan bertahan di Papua.

Ustadz Sudirman bergabung di Hidayatullah Gunung Tembak pada tahun 1980. Sebelumnya beliau belajar di Darul Istiqomah Maccopa Sulawesi Selatan.

Saat di Darul Istiqomah sudah beberapa kali mendengar ceramah Ust Abdullah Said saat silaturahim ke pesantren Maccopa. Tapi saat itu biasa saja dan belum begitu tertarik.

Setelah kakaknya yang menjadi teman Ustadz Abdullah Said, yang baru datang dari Gunung Tembak bercerita tentang menariknya Pesantren Hidayatullah maka ada ketertarikan untuk ke Gunung Tembak.

Ustadz Sudirman mengaku hanya sekali saja mengalami guncang selama di Hidayatullah yaitu saat TC 40 hari. Guncangnya karena berat kerja keras dan ibadah, tidak sesuai dengan bayangan dan ada perasaan gimana gitu dengan teman-teman yang sudah selesai TC.

Saking guncangnya, maka selesai TC beliau minta ijin pulang kampung tapi tidak diijinkan. Kemudian Allahuyarham Abdullah Said memberikan solusi dengan tugas dakwah ke kampung. Kalau ijin itu harus diistighfarkan karena belum tentu tanpa interest dan tidak tahu apa yang terjadi di perjalanan.

Ini pelajaran berharga dan nasehat yang sangat menyentuh hatinya dan membuatnya tenang. Ada perasaan senang dan bahagia, meski diolok teman-teman karena baru tiga bulan sudah ijin pulang kampung.

Setelah kembali dari pulang kampung, Ustadz Sudirman di TC 40 hari lagi karena dianggap kelamaan di kampung. Tapi beliau jalani dengan ikhlas dan semangat tanpa guncang lagi. Jadi Ust Sudirman salah satu santri yang di TC dua kali dengan kerja keras dan ibadah tiap malam.

Selesai TC 40 hari yang kedua, beliau ditugaskan ke Samarinda bersama pak Mathori Suyuthi dan pak Arbain. Tapi bukan yang di Sempaja.

Tahun 1983 awal, ia ditarik lagi ke Gunung Tembak untuk tugas ke Hidayatullah Tarakan. Belum genap satu tahun, ditarik kembali ke Gunung Tembak untuk memgikuti pernikahan massal.

Setelah menikah Ust Sudirman disuruh kembali ke Hidayatullah Tarakan selama kurang lebih dua tahun. Tahun 1986, dipindahkan tugas ke Hidayatullah Tolitoli, Sulawesi Tengah. Selama kurang lebih 6 tahun di Toli-Toli.

Tahun 1992 ditugaskan ke Papua dengan membawa istri dan 3 anaknya. Bersama beberapa ustadz yang lain dengan naik kapal.

Beliau tugas di Hidayatullah Sorong menggantikan Ustadz Majid Aziz yang ditemani oleh Ustadz Baharudin Belanda dan Ustadx Ismael Kalosi.

Selanjutnya berpindah ke Merauke dan Jayapura serta kembali lagi ke Hidayatullah Sorong. Dakwah yang dinamis untuk tour of duty di tanah Papua

Subhanallah luar biasa perjuangan dakwah mereka. Meski dengan alam yang keras, banyak daerah texas, dukungan dakwah yang minim dan belum lagi fasilitas yang terbatas.

Terbayang betapa beratnya merintis dan mengawali dakwah Hidayatullah di Papua beberapa puluh tahun yang lalu. Nyawa senantiasa terancam oleh malaria dan gerakan separatis.

Kendatipun kondisinya tidak mudah, Ust Sudirman tetap bertahan dengan bekal keyakinan akan pertolongan Allah SWT dan ketaatan menjadi kata kunci melaksanakan tugas berat itu.

Sebagaimana nama pahlawan nasional yang disandangnya, dalam diri Ust Sudirman mengalir darah pejuang. Nampaknya itulah pula yang mewarisi ketekunan, keberanian, kesabaran, dan etos kerja tinggi yang dimilikinya.

Berbagai jerih payah dilakukan untuk dakwah, keringat menjadi catatan sejarah dan amal jariyah dunia akherat. Mencari tanah, dan tak lupa membangun komunikasi dengan pemerintah setempat yaitu pejabat dan aparat.

Ust Sudirman juga membangun relasi dengan banyak orang untuk membangun pesantren dan mencari santri-santri dari pedalaman dan daerah transmigrasi. Menjadi dinamika yang menarik untuk membuka lembaran dakwah di tanah Papua.

Tidak ada rasa ragu, khawatir, dan takut menjalani tugas dakwah di Papua. “Dulu santri itu bingung dan bertanya-tanya kalau tidak mendapatkan SK tugas dan langsung loncat berangkat jika mendapatkan SK tugas,” katanya mengisahkan.

Pengalaman puluhan tahun di Papua bersama keluarga dan anak cucu menjadikan Ust Sudirman semakin cinta dengan Papua. Bahkan ia tidak berfikir pulang atau meninggalkan Papua.

Apalagi ada pesan khusus dari bapak Pemimpin Umum saat Silatnas di Gunung Tembak: “Pak Sudirman tetap tugas di Papua dan meninggal dunia di sana, Pak Bakhtiar AR juga tetap di Sumatera dan wafat di sana untuk menjadi tonggak sejarah di sana”.

Ini pesan yang luar biasa bagi seorang kader. Sebagaimana para sahabat yang banyak ditugaskan Rasulullah berdakwah keluar Madinah dan wafat di tempat tugasnya.

Beliau kalau pulang kampung, dipastikan keliling berdakwah dan mengajak saudara dan anak-anak di kampung untuk turut berdakwah.

Putra putrinya telah memegang amanah di Hidayatullah. Ustadz Fadlurrahman Anshori sebagai ketua PW Pemuda Hidayatullah. Ustadz Miftahuddin sebagai sekretaris DPW Hidayatullah Papua Barat. Menantunya juga alumni STAIL yaitu Anang Makruf dan alumni STIS yaitu Qoyyim. Dan beberapa yang lain.

Baru beberapa bulan ini, Ust Sudirman mendapatkan SK baru dari Sorong Papua Barat ke Jayapura Papua untuk menjadi ketua Dewan Murobbi Wilayah (DMW) menggantikan Ust Haris Amin almarhum.

Padahal, Ust Sudirman sudah paling senior, umur 62 tahun, tapi masih girang betul menerima amanah penugasan. Di usianya tersebut, ia bisa saja memilih istirahat menikmati perjuangan sambil bermain dengan cucunya yang sudah berjumlah 13.

Belum lagi istri dalam kondisi sakit stroke. Tapi itu semua tidak menghalangi untuk menjalankan ketaatan. Allahu Akbar. Ini ujian keikhlasan dan ketaatan yang tidak mudah bagi seorang kader.

“Umur boleh tua tapi semangat tetap muda. Tidak ada kesuksesan diraih dengan malas-malasan atau tanpa kerja keras. Tanah Papua menuntut kita bekerja keras,” katanya.

Inilah salah satu tonggak sejarah, spirit, teladan bagi generasi pelanjut Hidayatullah untuk membangun pesona dakwah di Papua dan semua wilayah.

Semoga beliau istiqamah, husnul khotimah, dan kita bisa menteladani perjuangan beliau. Aamin yaa Rabbal Alamin.

ABDUL GHOFAR HADI