Semerbak Kiprah Pengabdian Alumni PTH di Tanah Papua

Penulis yang juga Wasekjen DPP Hidayatullah Ust Abdul Ghaffar Hadi (batik corak hitam) berfoto dengan sejumlah alumni PTH usai mengisi salah satu sesi Rapat Kerja Wilayah Hidayatullah Provinsi Papua, Sabtu (29/1/2022)

SEBAGAIMANA penulis sampaikan sebelumnya bahwa dakwah itu bertahap dan bergenerasi. Setiap tahapan berbeda tantangannya dan Allah menyiapkan generasi berikutnya untuk menjawab tantangan baru sesuai dengan kapasitasnya.

Ukuran keberhasilan bukan banyaknya masyarakat yang terekrut secara kuantitatif. Bukan berapa yang telah mendapatkan hidayah karena hidayah hak prerogatif Allah tapi eksistensi gerakan dakwah dan perkaderan yang berkesinambungan. Sehingga sangat penting program perkaderan untuk melahirkan generasi pelanjut.

Papua memang menurut pemerintah adalah wilayah otonomi khusus (Otsus). Kekhususannya karena kondisi alam, sosial, dan politik. Sehingga para tenaga yang ditugaskan ke Tanah Papua juga mesti memiliki kekhususan terkait spritual, mental, dan intelektual. Harus siap bertugas dengan tantangan yang tidak ringan.

Beberapa generasi awal yang bertugas di Papua telah berhasil membuka lembaran dakwah dengan mencari lahan baik melalui pembebasan dibeli, wakaf, atau hibah.

Mereka bukan hanya berhasil mendapatkan lahan tapi juga berhasil menghadirkan bangunan masjid, kantor, rumah, dan sekolah. Membangun relasi kepada pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat untuk memulai program dakwah dan tarbiyah.

Selanjutnya untuk pengembangan program diperlukan sumber daya insani yang memiliki kompetensi keilmuan dan kesarjanaan yang menjadi syarat formal di pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan formal. Disinilah Allah menghadirkan alumni Perguruan Tinggi Hidayatullah (PTH) dan jebolan alumni perguruan tinggi lain ke Tanah Papua.

Putra-putri para ustadz dan banyak santri putra-putri dari Papua yang ditugaskan belajar ke PTH sebagai perguruan tinggi yang berkonsentrasi untuk melahirkan kader-kader muda Hidayatullah. Beberapa tahun tahun terakhir ini, mereka sudah kembali dan berkiprah di tanah Papua.

Ada beberapa alumni PTH yang berkiprah dakwah di Tanah Papua. Ada alumni Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan, dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Hidayatullah Depok.

Di antara mereka memang ditugaskan dari SK DPP Hidayatullah yang dibacakan saat wisuda PTH masing-masing. Ada juga yang berasal dari wilayah Papua lalu ditugaskan belajar ke PTH dan setelah lulus dikembalikan ke Papua lagi.

Sebagian mereka berhasil lulus hingga sarjana dan sebagian “lolos”. Lolos, artinya tidak selesai karena beberapa hal. Karena sudah pernah tercelup dengan perkaderan di PTH maka saat tugas di medan dakwah, tetap bisa berkiprah, berkarya, dan eksis.

Berikut ini ada beberapa daftar alumni STAIL Surabaya yang berkiprah di Tanah Papua yang berjumlah 21 kader. Beberapa kader yang mendapatkan amanah di organisasi tingkat DPW. Ada Maryudi sekretaris DPW, Mugiarto bendahara DPW.

Lalu ada Nur Imam Ketua Depdik DPW, Khaironji Ketua Departemen Dakwah DPW, Suparman Cilili Ketua Departemen Sosial DPW, Arifin Ketua Departemen Perkaderan DPW, dan Muhammad Habibullah Musa’ad Kepala Kantor DPW.

Di kampus Timika ada Ahmad Syakir Kadepdik, Akbar Ridhoi sekretaris, Jam’ul Hidayat Waka Kurikulum, Muhammad Ramli Kepala SMP, Idham Khalid Kepala SMA, Abdul Hamid Kepala Diniyah, Sarman Pengasuh.

Di Merauke ada Yusuf Qhardawi Ketua DPD Merauke, Supriadi DPD Merauke, Ramli BMH Merauke, Fahmi Hanifullah Kepala MI Merauke, dan Bambang Buana Ketua DPC Buful Merauke.

Lainnya ada Hirwan Efendi Kepala Diniyah kampus Madya Jayapura, Mahfudz Fauzi Sekretaris DPD Serui dan Slamet Setyo Budi Sekretaris DPD Boven Digoel.

Adapun alumni STIS Hidayatullah yang berkiprah di Papua ada 10 kader yaitu Achid Prasetyo Ketua DPD Keerom, Efendi Ketua DPD Sermi, Azwar Anas Bendahara DPD Kabupaten Jayapura, Abdurahman Ketua PW Pemuda Hidayatullah Papua, Abdul Hamid Ketua DPC Sermayam Merauke, Hasyim al Bahar BMH, dan Guntur Kepala Sekolah Mts.

Tadi itu STIS putra. Berikut ini alumni STIS Hidayatullah Putri yang jumlahnya 20 yang mengabdi di Papua: Halima di Jayapura, Haryanti di Jayapura, Nurul Qomariyah di Sarmi, Irka Sutarti di Nabire, Fatimah Azzahra di Nabire, Umi Istianah di Nabire, Fatma Senan di Nabire.

Ada Maimunah di Timika, Sa’diyah Timika, Hanani Qurota’yun di Jayapura, Salwiyah di Boven Digoel, Asmita di Merauke, Suci di Merauke, Widy Astuti di Merauke, Fatimah di Timika, Lisa di Timika, Hasriyana di Merauke, Uci di Timika, Esih di Merauke, dan Nur Sri Hardiyanti di Timika.

Kemudian alumni STIE Hidayatullah Depok ada 4 yaitu Asdar Ketua Gerai BMH Nabire, Susanto BMH Merauke, Shobrun Jamil Ketua DPD Serui, dan Fahmi El Ghifari di Waisai Raja Ampat.

Itu kader PTH yang masih bertahan berkiprah di Papua hingga 2022. Bisa jadi, masih ada nama nama lainnya yang terluput dari catatan ini.

Secara demografi, alumni PTH saat ini adalah generasi milineal yang lahir di atas tahun 1981 hingga 1996. Beberapa kelebihan dari kader milineal adalah kreatif, inovatif, lebih terbuka dan memiliki multitasking atau banyak skill ketrampilan.

Secara geografi, Papua terdiri dari 29 Kabupaten Kota, 560 Kecamatan dan 5.521 Kelurahan/Desa. Sementara ini baru ada 12 DPD Hidayatullah dan 5 DPC Hidayatullah.

Tanah Papua masih memerlukan banyak kader untuk menerangi dengan cahaya dakwah. Saat ini para kader mendapatkan double atau merangkap amanah. Semua pengurus DPW dan DPD merangkap tugasnya.

Apalagi akan ada perencanaan pemekaran propinsi di Papua menjadi 4 propinsi yaitu Papua, Papua Barat, Papua Selatan dan Papua Tengah. Jika itu disahkan oleh pemerintah pusat maka diperlukan dua DPW lagi dengan jajaran pengurusnya.

Selanjutnya 10-20 tahun ke depan, kebutuhan SDI di Papua juga akan meningkat kualitas tenaganya. Seperti SDI yang memiliki kapasitas ulama dengan hafal 30 juz dan bisa menjadi imam rawatib, bisa membaca kitab untuk kajian kitab di masjid-masjid bukan hanya ceramah saja. Ini karena perkembangan masyarakat dan tuntutan kondisi.

Ditunggu para kader untuk mengharumkan Papua. Ada banyak peluang dan tantangan yang menarik bagi kader untuk mengembangkan dakwah dan tabiyah di tanah Papua.

ABDUL GHAFFAR HADI