Romantika Dakwah di Papua

Oleh Ust Abdul Ghaffar Hadi

MENDENGAR cerita-cerita dakwah di Irian Jaya (nama sebelum Papua) senantiasa menarik, baik saat pertama mengawali hingga sekarang sebagai era perkembangan. Menariknya bukan karena dimensi materialistiknya berupa fasilitas dan hal-hal yang biasa menyenangkan.

Ada magnet atau daya tarik tersendiri dakwah di tanah Papua, seperti ada mutiara dakwah yang terpendam. Para kader Hidayatullah seolah menemukan dunianya di tanah Papua. Ibarat ikan ketemu air, semut ketemu gula, anak-anak ketemu bola atau bapak-bapak dapat kopi.

Malaria sebagai penyakit berat yang mengancam jiwa, sudah akrab hinggap di badannya berkali-kali. Tidak membuatnya takut, lari atau mundur dari dakwah. Padahal menggigil badan karena panas tinggi berhari-hari.

Belum lagi dengan ancaman dari gerakan-gerakan separatis seperti Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang menghantui aparat setiap saat.

Generasi pertama Hidayatullah yang bertugas di Papua adalah Ustadz Suwardani Sukarno di Jayapura sekitar tahun 1989. Beliau bertugas membuka jalan dan mencari titik-titik lokasi tanah yang bisa disemai untuk mendirikan cabang Hidayatullah. Tanpa ada alamat yang dituju dan orang yang dikenal.

Ini bukan jalan-jalan di kota tapi dari hutan ke hutan. Saat itu lebih sering jalan kaki dari naik kendaraan karena belum banyak jalan aspal, masih berlumpur, setapak dan jarang ada kendaraan angkot.

Perjalanan antar kota naik perahu atau kapal, belum ada pesawat saat itu. Dengan gelombang dan ombak tinggi mengiringi perjalanan kapal yang membuat penumpang mabuk.

Waktunya bukan sehari atau sepekan tapi berbulan-bulan. Bekalnya bukan uang jutaan rupiah tapi majalah-majalah suara Hidayatullah itupun bekas.

Subhanallah bahkan terkadang harus menjual sebagian pakaian untuk bisa membeli beberapa liter beras. Seperti istri Ust Amin Bahrun dan istri Ust Sarbini. Allahu Akbar

Ustadz Suwardani ditemani oleh santri-santri bujang yaitu Dzulkhair dan Dadang putra Bapak Ali Kalan. Amir muda, Zulfikar, Dzulkhair, Mahdi K. Coleng. Mereka adalah tenaga handal dan kuat dalam menancapkan pondasi dakwah di Irian Jaya

Setelah beberapa bulan, Ust Suwardani Sukarno kembali ke Gunung Tembak untuk melaporkan tugasnya kepada Ust Abdullah Said. Entah apa informasi yang disampaikan, setelah itu keluar SK untuk menugaskan puluhan kader senior dan yunior bersama keluarganya untuk bertugas ke tanah Papua.

Entah apa yang disampaikan Ust Abdullah Said saat itu. Kok mereka para kader semangat dan bahagia, tidak ada satupun yang menolak. Semua Sami’na wa atho’na.

Ada Ust Amin Bahrun di Manokwari bersama istri dan anak anaknya (Haris, Nur Fatahudin, Syarif Bastian dan adik-adiknya) disusul Ust Robiin.

Ust Majid Aziz yang ditemani pak Baharuddin dan Pak Ismael Kalosi, Ust Sarbini Naser bersama istri dan anaknya yang baru lahir.

Ust Sudiono ke Jayapura, Ust Yusuf Suraji di Serui, Ust Hasan Suraji di Manokwari. Ust Sulthan, Ust Ardiansyah, Ust Iskandar, Ust Sudirman Ambal, Ust Asdar Ambal.

Lalu ada Ust Eronsyah, Ust Jamaluddin Jafar, Ust Ali Imron Sholeh, Ust Sabar. Disusul beberapa ustadz muda lagi seperti Ust Ahmad Marzuki, Ust Al Djufri Muhammad, Ust Mualimin, Ust Nur Mawardi, Ustadz Ilham, dan Ust Afan Gaffar. Dan masih beberapa nama ustadz yang lain (mohon maaf jika tak tercatat di atas).

Ada juga Ustadz Karim Bonggo pernah tugas di Papua tapi untuk survei. Mencari lokasi dan koneksi dengan berbagai pihak tokoh masyarakat, pemerintah, maupun pengusaha. Setelah itu kembali ke Gunung Tembak melaporkan kepada ustadz Abdullah Said.

Ust Abdurrahman Muhammad (Pemimpin Umum sekarang) juga pernah bertugas beberapa tahun di tanah Papua tepatnya di Jayapura.

Saat di Jayapura Ust Abdurrahman Muhammad pernah menumpang beberapa hari rumah Haji Wade dan Hajjah Rahmi pegawai Pertamina yang membangun masjid di tengah hutan karena sebelumnya melihat kubah emas (tulisan catatan perjalanan sebelumnya tentang kubah emas).

Pengakuan dari Hajjah Rahmi, “satu-satunya orang yang singgah di rumahnya beberapa hari dan tidak pernah dimarahi adalah dai Hidayatullah yang badannya kurus (maksudnya ustasz Abdurrahman Muhammad). Karena kharisma, kesantunannya, rajin kerja dan tekun ibadah, membaca al-Qur’an”.

Beberapa tahun berikutnya, Hajjah Rahmi kaget ternyata ustadz yang beliau bilang kurus itu menjadi Pemimpin Umum Hidayatullah. Tempaan tanah Papua menjadikan kader dan dai Hidayatullah semakin kuat nyalinya.

Terbayang dakwah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabat di tanah Arab dan Afrika yang secara alam dan kultur masyarakat jahiliyah. Bahkan ada perlawanan, penentangan, dan serangan. Namun itu semua bisa ditundukkan dengan dakwah Islam yang ikhlas.

Dakwah di Papua penuh dengan romantika yang menarik. Jejak kaki dan tangan para dai menjadi catatan sejarah dakwah Islam di Papua. Kontribusi, kiprah, dan peran para dai Hidayatullah senantiasa bermitra dengan pemerintah setempat. Sehingga sangat membantu pembangunan jiwa dan raga di Papua.

Semoga para dai dan kader Hidayatullah istiqamah menjalankan amanah dakwah di manapun berada dengan segala romantika yang dihadapinya.

ABDUL GHAFFAR HADI (Wasekjen DPP Hidayatullah)