Satu Agenda Seribu Makna, Catatan Rakerwil 2022 Hidayatullah Kepri

Oleh Mujahid M. Salbu*

KETIKA menggelar event pertemuan, maka yang pertama dibahas tempat kegiatan. Ada banyak pilihan sesuai kondisi suatu daerah, misalnya rakerwil atau rakerda. Pilihannya bisa di hotel, restoran, kantor, kampus pondok, bahkan yang ekstrim di alam terbuka. Masing-masing tempat memiliki kelebihan dan kekurangan.

Kali ini penulis akan mengulas rakerwil Hidayatullah Kepri yang digelar di kampus Hidayatullah Bintan. Awalnya muncul kekhawatiran terkait fasilitas yang ada, mulai ruang rapat, akomodasi peserta, konsumsi, dll. Panitia rapat membahas persiapan lalu turun mengecek kondisi di lapangan.

Pembiayaan rakerwil dari BMH Kepri, namun, bantuan sukarela dari berbagai pihak juga mengalir menutupi beberapa kebutuhan seperti dari kecamatan yang membantu panggung, tenda, kursi, dan sound system, seorang jamaah pengusaha dekorasi membantu mempercantik panggung, ada yang juga yang membantu air minum dan kebutuhan lainnya.

Alhamdulillah tiba hari H rakerwil dan tabligh akbar, atas pertolongan Allah Ta’ala tidak ada kendala berarti, beberapa kendala bisa diatasi, memang masih ada kekurangan yang menjadi pembelajaran.

Yang menarik adalah proses menuju hari H. Jamaah dan masyarakat sekitar pondok ikut terlibat membenahi jalan masuk ke kampus yang bergelombang, para santri dan pengurus Hidayatullah Bintan dan Tanjung Pinang bahu membahu menyukseskan acara.

Saat rakerwil, ada gairah kultural di kampus, shalat berjamaah, tahajud di masjid, membaca al Qur’an, halaqah, wirid pagi dan sore, kemudian ada taujih bakda subuh, diskusi ringan bertukar pikiran dan pengalaman serta kegiatan lain yang mengeratkan kebersamaan.

Selain itu, misi syiar juga berjalan, tabligh akbar dihadiri sekira 400 warga dari Tanjung Pinang dan Bintan, para pejabat yang datang juga meihat langsung kegairahan di kampus Hidayatullah Bintan. Ditambah publikasi dari berbagai media yang datang untuk meliput.

Mengadakan rakerwil di kampus salah satunya sebagai upaya meruntuhkan dikotomi kultur organisasi dan kultur pesantren. Sebab, jangan sampai sistem yang terbangun di organisasi dengan segala aturan yang tertuang di PDO dan PO membentuk kultur yang kaku sehingga akan lebih mirip perusahaan, sesuai apa yang penulis tangkap saat berdialog dengan ketum DPP Hidayatullah beberapa saat lalu di Batam.

Membangun keseimbangan perlu terus dilakukan, agar akurasi mencapai target dari program yang dicanangkan berjalan seiring dengan keharmonisan (presisi) dan kesadaran berimamah jamaah. Itulah diantara beberapa spirit yang ingin diraih dari pelaksanaan rakerwil Hidayatullah Kepri yang diadakan di kampus Madya Hidayatullah Bintan. Wallahu a’lam.

*) Mujahid M. Salbu, penulis adalah Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Dewan (HAL) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah Kepri