Jeda Rutinitas Sejenak untuk Meneropong Ujung dari Perjalanan Hidup

SETIAP hari manusia melakukan pekerjaan yang sama dan berulang-ulang. Berangkat kerja pagi-pagi di jam yang sama, pakai kendaraan yang sama, di tempat kerja yang sama, bertemu dengan teman yang sama. Melakukan pekerjaan yang kurang lebih sama, ngobrol terkait masalah yang nyaris sama, pulang lagi di jam yang hampir sama, dengan kendaraan yang sama.

Pekerjaan itu berulang-ulang setiap hari selama berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun-tahun. Ada yang menikmati, ada yang tidak menyadari, ada yang stress dengan rutinitas tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan rutinitas seperti itu. Pada umumnya manusia memang beraktifitas rutin seperti itu. Terasa membosankan jika diceritakan pengalaman yang nyaris sama berulang setiap hari.

Namun jika terjebak dengan rutinitas seperti itu dan tidak menyadari ujung dari kehidupan ini maka itu yang berbahaya. Seolah hidup hanya untuk melakukan rutinitas pekerjaan yang sama seperti itu.

Mereka baru tersadar saat ada surat PHK, waktu tubuh mulai renta, umur semakin senja, anggota tubuh mulai lunglai tak berdaya, datang penyakit mendera, mata rabun, rambut beruban.

Lebih tragis lagi, baru tersadar saat malaikat pencabut nyawa datang menghampiri. Atau saat sakaratul maut sduah memaksa untuk meninggalkan dunia ini.

Hidup ini ada ujungnya yaitu kematian. Sehebat, sekuat, sesehat, setinggi, sejenius apapun seseorang pasti akan berada di ujung perjalanan hidup yaitu kematian.

Entah siap atau tidak siap, sadar atau tidak menyadari, mau ataupun tidak mau, cepat ataupun lambat. Manusia akan meninggalkan dunia ini, karena bergiliran dengan generasi manusia yang lain.

Sudah milyaran manusia pernah hidup di dunia ini. Dengan berbagai kejayaannya ataupun kejahatannya, semua sekarang hanya meninggalkan kisah dan cerita. Mereka sudah berkalang kembali ke asal yaitu tanah. Jutaan kuburan menjadi saksi bisu, hanya batu nisan dan tulisan nama yang tersisa, itupun jika masih ada.

Kesadaran terhadap ujung perjalanan hidup harus senantiasa dibangun. Maka sangat penting berjamaah dalam satu kepemimpinan yang saling mengingatkan, menasehati, amar makruf nahi mungkar. Komunitas kepemimpinan yang paling kecil adalah halaqah, di sana ada murabbi dan ketua yang harus tugas mengingatkan anggotanya.

Kita semua perlu ada jeda untuk menerima nasehat dari orang lain yang disampaikan dari hati ke hati. Ada titik kesadaran yang harus disentuh dengan duduk bersama teman-teman satu fikrah agar paham bahwa hidup di dunia ini ada akhirnya. Tujuan kita adalah akhirat.

Ust Abdul Ghaffar Hadi