Isra Miraj, Tanggal Merah yang Sepi Peringatan

HARI INI semua kalender di Indonesia terutama milik umat Islam berwarna merah. Tertulis kecil di samping atau dibawahnya keterangan 27 Rajab sebagai Peringatan Isra Miraj. Merah artinya libur sebagaimana hari Ahad juga merah.

Mengapa tanggal merah? Sebagai tanda libur dan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memperingati momentum yang berharga itu. Sehingga muncul istilah PHBI atau Peringatan Hari Besar Islam di kalangan umat Islam untuk membuat kegiatan, acara atau agenda untuk menyemarakan peringatan hari besar Islam tersebut.

Peringatan Hari Islam adalah suatu peringatan yang tidak asing lagi, baik dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa di Indonesia. Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan kegiatan tersebut, salah satunya pemerintah menetapkan PBHI menjadi hari libur nasional. Sebagaimana hari besar nasional dan juga hari besar agama non Islam.

Bagi umat Islam PHBI mempunyai peran yang strategis untuk meng-up grade kebiasaan pengamalan ajaran Islam yang kadang sudah mengalami kelesuan. PHBI adalah momentum untuk mengingatkan kembali peristiwa besar yang telah terjadi dan berusaha mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa tersebut.

Meski hari ini, ada banyak masyarakat yang mengabaikan libur nasional ini untuk memperingati momentum yang terkait dengan hari itu. Sebagian bergembira dengan hari libur sehingga tidak sekolah atau bekerja, kemudian bisa berlbur ke tempat wisata, rekreasi, jalan-jalan dan makan-makan.

Ada juga yang memperingati tapi ala kadarnya, ada yang memperinggati tapi nyaris tidak ada hubungan dengan yang diperingati. Contohnya memperingati kemerdekaan 17 Agustus dengan sepakbola pakai sarung, sepkabola joget, sepekbola memakai daster istrinya dan lain sebagainya.

Sehingga tanggal merah nyaris tidak ada gunanya hari libur, PHBI gersang tidak ada peringatan, semua berjalan apa adanya. Padahal peristiwa penting, sejarah dan luar biasa dampaknya bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Ada kemungkinan bosan, jenuh karena setiap tahun berulang memperingati peristiwa yang sama. Kemudian mungkin juga kurang kreatif panitia untuk mendesain peringatan yang bisa menarik dan bermakna.

Bagi generasi tua memang sudah paham, tapi untuk anak-anak dan remaja PHBI adalah media untuk transformasi histori dan hikmah dari isra miraj. Sehingga PHBI itu tetap penting dan terus melakukan kreasi dan inovasi terhadap kegiatan PHBI.

Peringatan Isra miraj yang banyak dilakukan dengan melakukan pengajian, mengundang ustadz kondang (dari luar daerah) atau kandang (dari kalangan sendiri) untuk menyampaikan tausyiah terkait dengan peristiwa isra miraj.

Minimal ada dua pelajaran yang bisa dikuatkan dalam PBHI isra miraj.

Pertama, menguatakan keimanan dan keyakinan terhadap kuasa Allah dengan menjalankan Rasulullah pada malam hari dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha. Kemudian Mi’raj berarti dinaikkannya Nabi SAW dari al-Aqsha ke atas. Beliau melintasi lapis demi lapis langit hingga tiba di Sidrat al-Muntaha, sebuah dimensi yang tak terjangkau kalkulasi manusia.

Ini jika memakai logika manusia maka tidak masuk akal dan mustahil, namun dengan kaca mata iman maka lebih dari itu bagi Allah itu mudah dan sangat mudah.

Allah yang menciptakan dan menguasai alam semesta ini, tentu terlalu mudah untuk mengatur semua makhluk yang ada didalamnya. Hal ini menjadi keyakinan bagi orang-orang beriman.

Bagi orang kafir, sangat tidak percaya dan mengatakan tahayul dan mustahil untuk memahami peristiwa isra dan miraj. Karena mereka sudah tidak percaya, tidak punya iman dan hanya mengandalkan logika otaknya yang terbatas juga kecerdasannya

Kedua, perintah shalat. Isra miraj menjadi peristiwa luar biasa karena menjadi sebab turunnya perintah shalat 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu.

Shalat bukan sekedar ibadah tapi media komunikasi seorang hamba kepada Allah. Shalat ini juga menjadi standar perbedaan orang beriman dan orang kafir dan shalat juga menjadi amal pertama yang dipertanyakan malaikat nanti hari hari hisab.

Shalat ada harga mati bagi orang beriman sehingga tidak ada alasan untuk meninggalkan kecuali pingsan atau sudah wafat. Kemudian menjaga shalat berjamaah di masjid, sunaah nawafil, shalat dhuha adalah untuk menyempurnakan nilai shalat kita.

Shalat yang hanya beberapa menit itu sangat berat jika bukan dorongan iman. Lebih ringan main gadget berjam-jam, main bola, ngobrol hingga begadang larut malam. Kuncinya memang pada keimanan.

Semoga dengan kita memperingati peristiwa isra miraj maka meingkatkan keimanan kita dan ibadah shalat kita serta ibadah yang lain.

Ust. Abdul Ghaffar Hadi